Konten dari Pengguna

Jalan Rusak Kampung Parianta, Warga Menanti Tanggung Jawab Pemerintah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sofie Arsita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Dokumentasi Langsung dari Warga Kampung Parianta
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Dokumentasi Langsung dari Warga Kampung Parianta

Pandeglang, Banten— Kondisi jalan yang rusak bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut kenyamanan dan keselamatan masyarakat. Hal inilah yang dirasakan warga Kampung Parianta, Desa Parigi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten. Setelah bertahun-tahun menghadapi kondisi jalan yang rusak, warga akhirnya berinisiatif memperbaikinya secara mandiri dengan mengumpulkan dana dan bergotong royong.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, perbaikan terakhir jalan tersebut dilakukan pada 2010. Sejak saat itu, kondisi jalan dilaporkan mengalami kerusakan yang mengganggu aktivitas masyarakat. Permukaan jalan yang tidak rata dan batu-batu yang berserakan menyulitkan pengguna jalan, terutama anak-anak yang berangkat ke sekolah. Ketika musim hujan tiba, kondisi jalan menjadi semakin berisiko karena permukaannya licin.

Inisiatif warga Kampung Parianta patut diapresiasi. Di tengah keterbatasan, mereka menunjukkan bahwa kepedulian dan semangat gotong royong masih menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Warga tidak hanya menunggu keadaan membaik, tetapi juga berusaha melakukan sesuatu demi kepentingan bersama.

Namun, muncul pertanyaan yang perlu menjadi perhatian: sampai kapan masyarakat harus memperbaiki fasilitas umum dengan biaya sendiri?

Gotong royong memang merupakan nilai positif yang perlu dipertahankan. Akan tetapi, semangat tersebut seharusnya tidak menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan kebutuhan infrastruktur masyarakat. Jalan lingkungan merupakan salah satu fasilitas penting yang menunjang aktivitas sehari-hari, sehingga kondisinya perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang layak.

Perbaikan secara mandiri juga belum tentu mampu memberikan hasil yang tahan lama. Tanpa penanganan yang tepat, jalan berpotensi kembali rusak dan masyarakat harus menghadapi persoalan yang sama. Karena itu, diperlukan perhatian pemerintah setempat untuk meninjau kondisi jalan serta mengupayakan perbaikan yang lebih menyeluruh.

Mumin Salim turut mengapresiasi langkah warga yang memperbaiki jalan melalui gotong royong. Menurutnya, kegiatan tersebut mencerminkan kerja sama, kepedulian sosial, dan kerukunan masyarakat. Apresiasi ini menunjukkan bahwa usaha warga memiliki nilai sosial yang penting, tetapi persoalan infrastruktur tetap membutuhkan tindak lanjut.

Pada akhirnya, gotong royong warga Kampung Parianta seharusnya menjadi pengingat bahwa masyarakat dan pemerintah memiliki peran penting dalam mewujudkan lingkungan yang layak. Warga telah menunjukkan kepeduliannya melalui tindakan nyata. Kini, perhatian dan langkah konkret pemerintah dibutuhkan agar jalan tersebut dapat diperbaiki dengan baik, sehingga masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, dapat beraktivitas dengan lebih aman dan nyaman.