Konten dari Pengguna

Semikonduktor: Japan-Netherlands Action Plan 2025 dan Kepentingan

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sovira Hikari Luna Shinkoo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tanggal 21 April, Perdana Menteri Kerajaan Belanda Dick Schoof melakukan kunjungan ke Jepang dan mengadakan pertemuan puncak dengan Perdana Menteri Ishiba Shigeru. Kedua negara baru saja meresmikan kemitraan strategis melalui Japan-Netherlands Action Plan 2025. Sekilas, ini terlihat seperti kerja sama biasa antarnegara. Tapi apakah benar kerja sama ini hanya berlandaskan atas hubungan baik kedua negara saja? Tentu saja tidak, bisa dibilang tidak ada kerja sama yang tidak saling menguntungkan.

Bendera Jepang dan Belanda. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/young-woman-business-clothes-puts-flags-2345544719
zoom-in-whitePerbesar
Bendera Jepang dan Belanda. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/young-woman-business-clothes-puts-flags-2345544719

Hubungan yang Langgeng

Jepang dan Belanda punya sejarah yang panjang. Bahkan waktu Jepang masih menutup diri dari dunia luar di era Edo, Belanda adalah satu-satunya negara Eropa yang tetap bisa berdagang dengan Jepang. Bahkan hubungan kerja sama ini terhitung sampai 425 tahun hingga adanya peresmian Japan-Netherlands Action Plan 2025.

Dulunya pada era Edo, hubungan mereka hanya sebatas perdagangan rempah-rempah, gula, dan senjata.

Sekarang, kerja sama mereka fokus ke hal-hal yang jauh lebih kompleks. Ekonomi masih yang utama, namun kerjasama ini juga mulai merambah ke teknologi, keamanan digital, sampai rantai pasok global. Intinya, dua negara ini ingin saling membantu dalam menghadapi tantangan dunia modern. Tapi tentu saja, tidak hanya karena kedua negara “saling percaya”.

Potensi Semikonduktor

Perusahaan Semikonduktor Belanda ASML. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/oct-9-2019-san-jose-ca-1620965506

Salah satu poin besar dalam Action Plan ini adalah kerja sama di bidang teknologi tinggi (Laporan Menteri Luar Negeri Jepang/MOFA of Japan). Jepang punya Tokyo Electron, Belanda punya ASML (Advanced Semiconductor Materials Lithography)—dua raksasa di industri semikonduktor. Jika dua perusahaan ini berkolaborasi, dampaknya bisa sangat besar bagi industri global.

Apalagi semikonduktor adalah komoditas yang sangat penting karena merupakan komponen inti dari hampir semua teknologi modern dan ini menjadi pilar persaingan teknologi global.

Selain itu, Jepang sedang mengadakan Expo 2025 Osaka-Kansai. Dimana expo ini merupakan pameran besar dengan tema "Designing Future Society for Our Lives" yang menampilkan inovasi dan teknologi dari berbagai negara untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Selama pameran ini, Belanda akan mengirimkan setidaknya sepuluh lebih misi dagang dan secara khusus ada beberapa aktor penting yang datang ke pameran ini. Aktor tersebut diantaranya Raja Willem-Alexander, Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerjasama Pembangunan Reinette Klever, dan Menteri Urusan Ekonomi Dirk Beljaarts, dan perusahaan-perusahaan teknologi tinggi dari Belanda.

Pengaruh di Kawasan Indo-Pasifik

Kok bisa jadi pengaruh? Karena sekarang banyak negara Eropa mulai “melek” soal pentingnya kawasan ini. Salah satu poin kerja sama dalam Action Plan ini juga kedua negara akan terus mempromosikan supremasi hukum dan sepakat untuk menjaga kawasan Indo-Pasifik tetap “bebas dan terbuka” (Laporan Menteri Luar Negeri Jepang/MOFA of Japan). Sebuah frasa diplomatik yang biasanya jadi kode untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan.

Jadi Kepentingannya Dimana?

Realitanya, kerja sama antarnegara itu hampir selalu didorong oleh kepentingan. Jepang dan Belanda sama-sama punya alasan kuat untuk melakukan kerja sama, keduanya butuh mitra yang bisa membantu menghadapi dunia yang semakin kompleks—baik secara teknologi, ekonomi, maupun politik global.

Ya, tidak heran saat ekonomi dunia tidak sedang baik-baik saja. Perang tarif, konflik antar negara, persaingan negara raksasa untuk mendapatkan pengaruh, dan sebaginya. Tapi pastinya dibalik setiap kerja sama besar, selalu ada kepentingan besar yang melatarbelakanginya.