Konten dari Pengguna

Bertahan di Kota Orang Butuh Skill Manage dan Finansial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sri Fatmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang pemuda perantau tengah merapikan catatan keuangan bulanan didampingi aplikasi jadwal harian (to-do list) di kamar kosnya, dengan latar belakang pemandangan kota besar di waktu malam. Di tengah kerasnya tekanan ekonomi urban dan tingginya biaya hidup, kemampuan mengelola finansial secara bijak serta disiplin membagi waktu menjadi penentu utama bagi generasi muda untuk bertahan hidup dan meraih kesuksesan di tanah perantauan. Sumber : Generate by AI
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pemuda perantau tengah merapikan catatan keuangan bulanan didampingi aplikasi jadwal harian (to-do list) di kamar kosnya, dengan latar belakang pemandangan kota besar di waktu malam. Di tengah kerasnya tekanan ekonomi urban dan tingginya biaya hidup, kemampuan mengelola finansial secara bijak serta disiplin membagi waktu menjadi penentu utama bagi generasi muda untuk bertahan hidup dan meraih kesuksesan di tanah perantauan. Sumber : Generate by AI

Merantau menjadi bagian dari perjalanan hidup banyak anak muda di Indonesia. Ada yang pergi meninggalkan kampung halaman untuk kuliah, bekerja, membangun usaha, atau sekadar mencari pengalaman baru. Kota-kota besar dianggap menawarkan lebih banyak peluang dan kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Namun di balik gemerlap kehidupan kota, ada realita yang harus dihadapi para anak rantau: tuntutan hidup yang keras, biaya kebutuhan yang tinggi, dan tekanan untuk mampu bertahan sendiri.

Hidup jauh dari keluarga membuat anak rantau dituntut lebih mandiri dalam segala hal. Tidak ada lagi orang tua yang selalu mengingatkan untuk makan, mengatur jadwal, atau membantu saat kondisi keuangan sedang sulit. Semua harus dihadapi sendiri. Karena itu, kemampuan mengatur waktu dan finansial menjadi salah satu keterampilan paling penting untuk bertahan di kota orang.

Banyak anak rantau datang dengan penuh semangat dan mimpi besar. Namun setelah beberapa bulan hidup sendiri, mereka mulai merasakan bahwa kehidupan perantauan tidak semudah yang terlihat di media sosial. Biaya hidup yang terus meningkat sering kali membuat kondisi keuangan menjadi tidak stabil. Pengeluaran bukan hanya soal makan dan tempat tinggal, tetapi juga transportasi, kuota internet, kebutuhan kuliah atau pekerjaan, hingga biaya tak terduga seperti sakit atau kebutuhan mendadak lainnya.

Fenomena “tanggal tua” bahkan menjadi hal yang sangat umum di kalangan anak rantau. Baru pertengahan bulan, uang bulanan sudah mulai menipis. Banyak yang akhirnya harus menahan diri untuk tidak keluar kos, makan seadanya, atau meminjam uang teman demi bertahan sampai akhir bulan. Kondisi ini sering terjadi bukan hanya karena pemasukan yang terbatas, tetapi juga karena kurangnya kemampuan dalam mengelola keuangan.

Gaya hidup juga menjadi tantangan tersendiri. Tinggal di kota besar membuat anak muda mudah terpengaruh tren. Nongkrong di kafe, membeli barang yang sedang viral, mengikuti gaya hidup media sosial, hingga kebiasaan belanja impulsif sering kali membuat pengeluaran membengkak tanpa disadari. Banyak orang rela menghabiskan uang demi terlihat “baik-baik saja”, padahal kondisi dompet sebenarnya sedang tidak aman.

Selain soal uang, masalah manajemen waktu juga tidak kalah penting. Aktivitas anak rantau biasanya sangat padat. Mahasiswa harus membagi waktu antara kuliah, organisasi, tugas, dan pekerjaan sampingan. Sementara pekerja harus menghadapi jam kerja panjang, kemacetan, serta tekanan target pekerjaan. Jika tidak mampu mengatur waktu dengan baik, rutinitas sehari-hari bisa menjadi berantakan.

Tidak sedikit anak rantau yang akhirnya mengalami kelelahan fisik maupun mental karena jadwal yang tidak teratur. Tidur larut malam, bangun kesiangan, telat bekerja atau kuliah, hingga sulit menemukan waktu istirahat menjadi masalah yang sering terjadi. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan dan produktivitas.

Di era digital, tantangan mengatur waktu juga semakin besar. Media sosial menjadi salah satu penyebab utama waktu terbuang sia-sia. Banyak orang tanpa sadar menghabiskan berjam-jam hanya untuk scrolling video pendek, bermain game online, atau mengikuti tren internet. Akibatnya, pekerjaan tertunda, waktu belajar berkurang, dan fokus menjadi mudah terganggu.

Padahal, waktu dan uang adalah dua hal yang sangat berharga dalam kehidupan perantauan. Ketika keduanya tidak dikelola dengan baik, tekanan hidup akan terasa semakin berat. Karena itu, anak rantau perlu mulai belajar membuat prioritas dan hidup lebih disiplin.

Langkah sederhana seperti membuat catatan pengeluaran bulanan bisa membantu mengontrol kondisi finansial. Dengan mencatat kebutuhan utama seperti uang kos, makan, transportasi, dan tabungan, seseorang akan lebih mudah mengetahui batas pengeluaran yang aman. Kebiasaan menyisihkan uang meski sedikit juga penting untuk menghadapi kebutuhan mendadak.

Dalam hal waktu, membuat jadwal harian dapat membantu aktivitas menjadi lebih terarah. Menentukan waktu untuk bekerja, belajar, istirahat, dan hiburan akan membuat hidup terasa lebih seimbang. Mengurangi kebiasaan menunda pekerjaan juga penting agar tugas tidak menumpuk dan menimbulkan stres.

Meski penuh tantangan, kehidupan di perantauan sebenarnya memberikan banyak pelajaran berharga. Anak rantau belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan kuat menghadapi tekanan hidup. Mereka juga belajar memahami arti kerja keras dan menghargai uang hasil usaha sendiri.

Banyak orang sukses lahir dari pengalaman hidup di perantauan. Tekanan hidup yang mereka hadapi justru membentuk mental yang lebih tangguh dan dewasa. Dari hidup sederhana di kamar kos kecil, belajar menghemat uang makan, hingga harus membagi waktu antara kerja dan belajar, semua menjadi bagian dari proses menuju masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya, bertahan di kota orang bukan hanya soal seberapa besar penghasilan atau seberapa sibuk aktivitas seseorang. Yang paling penting adalah kemampuan memanajemen hidup dengan baik, terutama dalam mengatur waktu dan finansial. Sebab di tengah kerasnya kehidupan perantauan, mereka yang mampu disiplin dan bijak mengelola hidup akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan, berkembang, dan meraih mimpi yang diinginkan.