Konten dari Pengguna

Refleksi Diri: Kita Terlalu Sibuk Bertanya, "Sebenarnya Lagi Ngejar Apa?"

Sri Ayu Ningsih

Sri Ayu Ningsih

Information Systems Student. Writing what many people feel but rarely say!

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sri Ayu Ningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Sri Ayu Ningsih

Refleksi diri: Kadang yang paling melelahkan bukan aktivitas, tetapi kehilangan arah.
zoom-in-whitePerbesar
Refleksi diri: Kadang yang paling melelahkan bukan aktivitas, tetapi kehilangan arah.

Refleksi Diri membuat aku sadar bahwa aku pernah ada di fase yang kalau dipikir sekarang terasa agak lucu, tapi waktu itu serius banget. Hidupku penuh, tapi rasanya aku nggak benar-benar bergerak ke mana-mana.

Setiap hari selalu ada yang dikerjakan. Bangun tidur sudah kepikiran tugas, siang lanjut urusan lain, malam pun belum selesai. Kalender penuh, kepala sibuk, badan capek. Tapi di akhir hari selalu muncul pertanyaan yang sama:

“Hari ini sebenarnya aku lagi ngapain, sih?”

Dan anehnya, itu bukan pertanyaan sesekali. Lama-lama berubah jadi kebiasaan.

Pelan-pelan aku sadar satu hal: aku nggak kekurangan aktivitas, aku kekurangan arah.

Kita Hidup di Zaman ketika “Sibuk” Dianggap Bukti Hidup

Sekarang, sibuk seperti sudah menjadi identitas.

Kalau jadwal penuh, kita dianggap produktif. Kalau selalu punya kegiatan, kita terlihat “maju”. Padahal semakin lama aku hidup di ritme itu, aku mulai melihat sesuatu yang janggal: nggak semua orang yang sibuk benar-benar bergerak ke mana-mana.

Ada orang yang hari-harinya penuh, tapi sebenarnya cuma mengulang pola yang sama. Ada juga yang terlihat aktif ke sana-sini, tetapi ketika ditanya apa yang sedang dibangun, jawabannya masih kabur.

Aku pernah ada di posisi itu juga.

Kadang kita bahkan merasa bersalah ketika sedang beristirahat. Rasanya seperti harus terus melakukan sesuatu supaya dianggap berkembang. Padahal kenyataannya, tubuh bisa bergerak terus tanpa hidup benar-benar bertumbuh.

Aku mulai sadar bahwa banyak dari kita sebenarnya bukan sedang mengejar tujuan, melainkan mengejar rasa takut dianggap tertinggal.

Mungkin Masalah Kita Bukan Kurang Usaha, Tapi Bingung Menentukan Arah

Dulu aku berpikir hidup adalah soal:

“Seberapa banyak yang bisa aku lakukan.”

Padahal ternyata hidup lebih dekat dengan pertanyaan:

“Apa yang harus aku pilih untuk nggak dilakukan?”

Karena kita hidup di era ketika semuanya terlihat mungkin:

mau belajar ini bisa,

mau ikut itu bisa,

mau mencoba semuanya juga bisa.

Masalahnya, ketika semua terlihat menarik, kita jadi sulit menentukan mana yang benar-benar penting.

Aku pernah ada di titik mengikuti banyak hal sekaligus. Rasanya produktif, tapi ternyata aku nggak benar-benar maju ke satu arah pun. Aku cuma berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa benar-benar bertumbuh.

Yang melelahkan bukan hanya aktivitasnya, tapi kebingungan karena terus mencoba mengejar semuanya sekaligus.

Aku mulai sadar bahwa manusia punya batas. Fokus kita terbatas, tenaga kita terbatas, dan waktu kita juga terbatas. Tidak semua hal harus dicoba dalam satu waktu.

Media Sosial Membuat Kita Merasa Selalu Tertinggal

Hal lain yang memperparah keadaan adalah media sosial.

Setiap hari kita melihat orang lain seperti sudah menemukan hidupnya:

sudah sukses,

sudah jelas kariernya,

sudah terlihat “jadi seseorang”.

Tanpa sadar, kita ikut terbawa ritme itu. Bukan karena tahu ingin ke mana, tetapi karena takut tertinggal.

Di titik itu, kita mulai melakukan kesalahan yang sama: mengganti arah dengan kecepatan.

Kita jadi sibuk membandingkan proses hidup sendiri dengan pencapaian orang lain. Padahal yang terlihat di media sosial sering kali cuma hasil akhirnya saja. Kita jarang melihat bingungnya, capeknya, atau gagal-gagal kecil yang mereka lewati.

Karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain, kita jadi lupa mendengarkan diri sendiri.

Aku Pernah Sampai di Titik Paling Sibuk, Tapi Justru Paling Kosong

Ada masa ketika aku merasa paling produktif, tetapi justru paling hampa.

Waktu sekolah dulu, aku mengikuti hampir semua ekstrakurikuler yang ada, sementara di saat yang sama aku juga menjadi anggota OSIS. Di atas kertas, semuanya terlihat aktif dan keren. Namun kenyataannya justru sebaliknya: aku capek, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar terasa tumbuh.

Hari-hariku penuh, tetapi tidak ada rasa berkembang. Aku terus bergerak, tapi tidak benar-benar maju.

Yang paling aneh, aku bahkan nggak bisa menjelaskan kenapa aku merasa lelah.

Sampai akhirnya aku sadar sesuatu yang sederhana, tetapi cukup menampar:

“Aku nggak punya strategi, aku cuma punya kesibukan.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar buatku. Aku mulai memahami bahwa kesibukan tidak selalu berarti kemajuan. Kadang kita hanya terlalu ramai menjalani hidup sampai lupa memikirkan arahnya.

Strategi Bukan Soal Melakukan Lebih Banyak, Tapi Menentukan Arah

Di titik itu aku mulai belajar melihat hidup dengan cara yang berbeda.

Ternyata strategi bukan tentang melakukan lebih banyak hal, melainkan memilih arah yang jelas.

Aku mulai menyederhanakan semuanya menjadi tiga pertanyaan:

  • Aku sebenarnya ingin menjadi apa beberapa tahun ke depan?

  • Apa yang benar-benar penting untuk sampai ke sana?

  • Apa yang harus aku hentikan, meskipun terlihat menarik?

Dari situ aku sadar, kelelahan sering kali bukan datang karena kita kurang kuat, tetapi karena kita tidak pernah memilih arah hidup kita sendiri.

Aku juga mulai memahami bahwa menentukan arah hidup bukan berarti semuanya langsung jelas. Kadang kita tetap bingung, tetap takut salah, dan tetap ragu. Tetapi setidaknya kita tahu mana yang ingin benar-benar diperjuangkan.

Karena hidup yang terlalu penuh tanpa arah sering kali hanya membuat kita kehilangan diri sendiri.

Taktik Adalah Keputusan Kecil yang Menentukan Masa Depan

Kalau strategi adalah arah, maka taktik adalah keputusan harian.

Perubahan paling terasa justru datang dari hal-hal kecil:

  • berhenti mengambil semua kesempatan yang tidak sejalan dengan tujuan utama,

  • memilih sedikit prioritas dalam satu waktu,

  • berani berkata “nggak” tanpa harus menjelaskan semuanya,

  • membatasi distraksi yang hanya terlihat produktif.

Awalnya nggak nyaman. Ada rasa takut tertinggal dan kehilangan peluang.

Namun lama-lama aku sadar: ternyata aku bukan tertinggal, aku hanya berhenti menyebar ke terlalu banyak arah.

Dan untuk pertama kalinya, kepala terasa jauh lebih ringan.

Aku mulai belajar bahwa hidup nggak harus selalu cepat. Kadang yang paling penting justru konsisten berjalan di arah yang tepat, meskipun pelan.

Karena pada akhirnya, keputusan-keputusan kecil yang kita lakukan setiap hari perlahan membentuk masa depan kita sendiri.

Kita Sering Salah Mengira Produktif Itu Sama dengan Sibuk

Ini mungkin kesalahan yang paling sering terjadi:

sibuk berarti banyak aktivitas, produktif berarti ada arah dan dampak.

Kita bisa sangat sibuk tanpa benar-benar menghasilkan sesuatu yang berarti. Sebaliknya, ada orang yang terlihat lebih tenang, tetapi setiap langkahnya jelas dan terarah.

Mungkin di situlah letak perbedaannya: bukan seberapa cepat kita bergerak, tetapi apakah kita bergerak ke arah yang benar.

Aku mulai melihat bahwa hidup bukan perlombaan siapa paling lelah atau paling sibuk. Tidak semua hal harus dibuktikan dengan jadwal yang penuh.

Kadang justru orang yang paling tenang adalah orang yang paling tahu apa yang sedang ia bangun.

Mungkin Kita Nggak Butuh Hidup yang Lebih Sibuk

Aku mulai percaya bahwa hidup tidak selalu harus lebih penuh.

Yang kita butuhkan mungkin bukan lebih banyak aktivitas, tetapi lebih banyak kesadaran. Bukan tentang seberapa sibuk kita, melainkan seberapa jelas arah yang sedang kita tuju.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita lelah sering kali bukan hidup itu sendiri, tetapi hidup tanpa filter pilihan.

Mungkin kita tidak perlu melakukan semuanya sekaligus. Mungkin kita hanya perlu berhenti sebentar, berpikir ulang, lalu menentukan apa yang benar-benar penting.

Karena tidak semua kesempatan harus diambil, dan tidak semua hal harus dikejar.

Penutup

Aku masih belajar sampai sekarang. Masih sering bingung, masih kadang ikut arus, dan masih sesekali merasa tertinggal.

Namun sekarang aku jauh lebih sering berhenti sebentar untuk bertanya:

“Ini sebenarnya aku lagi membangun apa?”

Mungkin banyak dari kita sedang ada di fase yang sama, hanya versinya berbeda-beda. Terlihat sibuk, tetapi belum yakin arahnya ke mana. Terlihat bergerak, tetapi belum tentu benar-benar maju.

Dan mungkin itu nggak apa-apa.

Asal jangan terlalu lama berada di fase itu sampai lupa bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling sibuk, melainkan siapa yang benar-benar tahu sedang menuju ke mana.

Karena pada akhirnya, yang paling melelahkan bukan berjalan terlalu jauh, tetapi berjalan tanpa arah.