Konten dari Pengguna
Kereta Cepat dan Keadilan Mobilitas: Siapa Menanggung, Siapa Menikmati?
6 November 2025 17:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Kereta Cepat dan Keadilan Mobilitas: Siapa Menanggung, Siapa Menikmati?
Kereta Cepat dan Keadilan Mobilitas: Siapa Menanggung, Siapa Menikmati?Sry Lestari Samosir
Tulisan dari Sry Lestari Samosir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Polemik mengenai Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak pernah sepenuhnya soal teknologi atau kebanggaan nasional.
ADVERTISEMENT
Ia selalu membawa konsekuensi sosial, ekonomi, dan politik yang berkaitan dengan pertanyaan mendasar: siapa yang membayar dan siapa yang menikmati manfaatnya?
Dalam perspektif sosiologis, terutama perspektif kelas, proyek ini memperlihatkan bahwa distribusi risiko dan manfaat pembangunan tidak pernah netral. Ia mengikuti struktur kekuasaan, kepentingan negara, dan posisi tawar antarkelompok sosial.
Proyek KCJB menelan biaya sekitar 120 hingga 125 triliun rupiah, angka yang membengkak dari perencanaan awal. Pembengkakan biaya (cost overrun) ini kemudian memaksa penyesuaian struktur pembiayaan, termasuk penambahan porsi utang yang ditanggung oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemimpin konsorsium.
Padahal KAI bukan hanya mengelola kereta cepat, tetapi juga layanan transportasi publik sehari-hari yang digunakan jutaan orang, seperti KRL Jabodetabek, kereta perintis, dan kereta kelas ekonomi.
ADVERTISEMENT
Ketika beban pembayaran bunga sekitar dua triliun rupiah per tahun harus dimasukkan dalam neraca keuangan KAI, maka risiko penyesuaian tarif atau pengurangan subsidi sangat mungkin terjadi.
Di titik ini, beban ekonomi proyek yang sejak awal disebut sebagai kerja sama bisnis ke bisnis (B2B) mulai perlahan berpindah ke ruang sosial, yaitu ke masyarakat yang menjadi pengguna layanan transportasi lain.
Dengan kata lain, kelas pekerja yang belum tentu pernah naik kereta cepat pun bisa ikut “membayar” proyek ini melalui kenaikan tarif transportasi massal atau pengurangan layanan publik.
Inilah pola yang dikenal dalam kajian sosiologi pembangunan sebagai redistribusi beban ke bawah, ketika proyek yang berorientasi prestise dan pertumbuhan ekonomi elitis menimbulkan dampak struktural bagi kelompok yang tidak memiliki kendali terhadap keputusan kebijakan.
ADVERTISEMENT
Mobilitas sebagai Cermin Ketimpangan Kelas
Untuk memahami siapa yang benar-benar memanfaatkan kereta cepat, kita harus melihat data penggunaan dan pola perjalanan. Sejak beroperasi, KCJB mencatat lonjakan penumpang terutama pada akhir pekan dan musim liburan.
Pada hari kerja, jumlah penumpang jauh lebih rendah. Selain itu, okupansi tertinggi sering terjadi ketika terdapat diskon tarif, bukan pada tarif normal. Kondisi ini menunjukkan bahwa kereta cepat lebih banyak digunakan sebagai moda perjalanan rekreasi dan gaya hidup, bukan sebagai moda mobilitas harian yang mendukung aktivitas ekonomi pekerja.
Gambaran ini diperkuat oleh pengamatan lapangan: banyak penumpang membawa koper besar atau perlengkapan wisata. Sangat jarang terlihat komuter yang memakai seragam kantor atau membawa tas kerja.
ADVERTISEMENT
Pada saat yang sama, pekerja harian yang tinggal di wilayah sekitar Jakarta dan Bandung tetap mengandalkan kereta biasa, KRL, angkot, dan bus sebagai moda transportasi utama. Hal ini memperlihatkan bahwa kelas sosial menentukan akses mobilitas bahkan ketika infrastruktur baru telah dibangun.
Kereta cepat juga menghadapi masalah keterhubungan ruang. Stasiun-stasiunnya tidak berada di pusat kota, melainkan di Padalarang dan Tegalluar. Pengguna harus menggunakan moda lanjutan untuk mencapai pusat Bandung, yang menambah biaya, waktu, dan ketidakpastian perjalanan.
Bagi pekerja harian, mobilitas bukan hanya soal kecepatan, tetapi soal kepastian dan keterjangkauan. Jika satu moda transportasi tidak memberikan keduanya, maka ia hanya akan menjadi alternatif bagi mereka yang memiliki kelonggaran finansial dan waktu.
ADVERTISEMENT
Dalam perspektif keadilan mobilitas, suatu infrastruktur seharusnya memprioritaskan kelompok yang paling membutuhkan, yaitu mereka yang bergerak setiap hari untuk bekerja dengan sumber daya terbatas.
Namun kereta cepat lebih banyak mendukung pola mobilitas kelas menengah-atas, yang mobilitasnya bersifat fleksibel, tidak mendesak, dan bisa dibagi antara kebutuhan dan rekreasi.
Ketika pemerintah menyebut proyek ini sebagai “investasi sosial,” muncul pertanyaan kritis: investasi sosial bagi siapa? Jika manfaatnya lebih dirasakan oleh segmen tertentu, sementara biayanya berpotensi dibebankan pada publik luas, maka proyek ini secara struktural lebih mendekati investasi simbolis daripada investasi sosial.
Beban Lintas Generasi dan Politik Masa Depan Transportasi
Negosiasi yang sedang berlangsung dengan pihak kreditur dari Tiongkok membuka kemungkinan restrukturisasi pembayaran utang hingga 60 bahkan 80 tahun ke depan. Artinya, beban finansial proyek ini dapat diwariskan kepada generasi yang bahkan belum lahir pada saat keputusan ini dibuat.
ADVERTISEMENT
Dalam sosiologi, mekanisme ini dikenal sebagai pengalihan beban antargenerasi. Generasi mendatang akan membayar sesuatu yang tidak mereka pilih dan mungkin tidak mereka nikmati.
Dampaknya bisa menjadi lebih luas. Ketika ruang fiskal negara tertekan, prioritas pembangunan di sektor lain pendidikan, kesehatan, layanan transportasi perdesaan, dan pengembangan wilayah luar Jawa dapat tertunda.
Karena itu, rencana perpanjangan jalur kereta cepat hingga Surabaya harus dikaji ulang secara kritis. Tidak cukup hanya menggunakan argumen “konektivitas antar kota besar.”
Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah warga yang paling banyak membutuhkan layanan transportasi publik akan memperoleh manfaat atau justru semakin terpinggirkan.
Jika proyek ini ingin sungguh-sungguh menjadi infrastruktur publik yang adil, maka beberapa hal menjadi penting: transparansi biaya dan penggunaan, audit independen terhadap dugaan pembengkakan biaya, negosiasi ulang tingkat bunga, dan jaminan bahwa layanan transportasi kerakyatan seperti KRL dan kereta ekonomi tidak dikorbankan.
ADVERTISEMENT
Di atas semua itu, pemerintah perlu menata ulang cara memandang pembangunan: dari yang berorientasi prestise, kecepatan, dan spektakel, menjadi pembangunan yang memprioritaskan pemerataan akses mobilitas dan kesejahteraan kolektif.
Pada akhirnya, keberadaan kereta cepat bukan hanya soal seberapa cepat orang dapat berpindah dari Jakarta ke Bandung. Ia adalah tentang siapa yang dapat bergerak tanpa beban, dan siapa yang harus membayar harga perjalanan itu.
Infrastruktur akan selalu menceritakan siapa yang memiliki ruang untuk bergerak, siapa yang menunggu, dan siapa yang tertinggal.

