Dukungan Psikososial melalui Silaturahmi dan Monitoring Kesembuhan

Shubuha Pilar Naredia
Dosen Sosiologi FISIP UNS. Praktisi Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Karanganyar.
Konten dari Pengguna
28 Februari 2024 9:36 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Shubuha Pilar Naredia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Secara psikologis, seseorang yang memiliki permasalahan dengan kesehatan mentalnya merupakan seseorang yang sedang sakit. Ia membutuhkan penanganan khusus berupa konseling dengan psikolog untuk mengembalikan kesehatan mentalnya. Gerungan dalam bukunya Psikologi Sosial menyampaikan bahwa psikososial adalah pengalaman dan tingkah laku individu manusia seperti yang dipengaruhi atau ditimbulkan oleh situasi-situasi sosial yang terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan individu lainnya. Seseorang dapat mengalami gangguan mental akibat beberapa peristiwa yang memberikan catatan yang kurang baik di dalam hidupnya. Memori itu akan selalu membekas di dalam ingatannya.
ADVERTISEMENT
Berbagai kegiatan bullying sangat masif dilakukan, bahkan sering kali dilakukan oleh orang-orang yang dianggap dekat dan berada di sekitar kita seperti tetangga, teman bermain, guru, teman di lingkungan kerja, bahkan anggota keluarga yang setiap hari berinteraksi dengan kita. Semua orang memiliki potensi untuk melakukan bullying dan mengakibatkan luka pada batin seseorang dan berdampak pada kesehatan mentalnya. Salah satu aktivitas bullying yaitu adalah diskriminasi atau pengucilan. Menurut UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, diskriminasi sendiri merupakan setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya.
ADVERTISEMENT
Diskriminasi atau pengucilan merupakan salah bentuk interasi sosial yang diberikan oleh masyarakat akibat sesuatu yang dianggap tidak biasa muncul di lingkungan sekitar tempat tinggal. Contohnya ketika ada salah seorang warga didiagnosis mengidap suatu penyakit tertentu yang dapat dengan mudah menular seperti kusta, cacar air, campak, HIV Aids, dan tuberkulosis (TBC). Mereka yang menderita penyakit menular tertentu dianggap sebagai sumber penularan dan sering kali mendapat diskriminasi dari dari lingkngan sekitar tempat tinggal, bahkan anggota keluarga yang memiliki kontak serumah dengan penderita. Berbagai penyakit menular mayoritas sudah memiliki obat dan dapat dilakukan pencegahannya. Hanya saja mungkin membutuhkan waktu untuk melakukan edukasi dan sosialisasi yang lebih kepada masyarakat agar mereka paham dan dapat melakukan pencegahan secara dini serta memperoleh informasi terkait apa yang harus dilakukan ketika memiliki anggota keluarga yang sedang menderita penyakit menular.
Ilustrasi Diskriminasi di Lingkungan Masyarakat, Sumber: iStock

TBC Masih Menjadi Penyakit Menular yang Mendapat Perhatian Khusus

Pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan berbagai instansi yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular sangat dibutuhkan dalam upaya edukasi, sosialisasi, dan deteksi dini berbagai penyakit menular kepada masyarakat. Salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih banyak memakan korban yaitu adalah TBC. Penyakit TBC yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis menyerang paru-paru manusia dengan gejala utama batuk selama lebih dari dua minggu. Penyakit TBC apabila tidak segera ditangani dengan tepat dapat berakibat fatal dan berujung pada kematian. Namun apabila penyakit TBC dapat segera ditemukan, penderitanya akan sembuh dan dapat kembali beraktivitas seperti semula. TBC dikategorikan menjadi dua, yaitu TBC Sensitif Obat (SO) dan TBC Resisten Obat (RO/MDR). TBC SO merupakan TBC ringan dengan masa pengobatan kurang lebih enam bulan. Sedangkan TBC RO/MDR merupakan TBC dengan pengobatan lebih dari satu tahun dikarenakan bakteri yang ada di paru-paru merupakan kategori berbahaya sehingga membutuhkan waktu pengobatan yang cukup lama.
Ilustrasi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pasien TBC, Sumber: shutterstock
Pasien TBC terkhusus TBC RO mengonsumsi obat yang cukup banyak dibandingkan TBC SO, sehingga memiliki efek beragam pula dari obat yang dikonsumsi. Hal ini berdampak pada keterbatasan pasien dalam menjalani kegiatan sehari-hari seperti misalnya bekerja. Apabila pasien merupakan tulang punggung keluarga, hal tersebut akan memberikan dampak yang cukup besar dalam kehidupan ekonominya. Pemerintah tentunya sudah memberikan bantuan yang cukup besar dengan memberikan program pengobatan gratis, namun hal tersebut tentunya masih belum cukup. Pasien yang sudah berkeluarga harus memenuhi kebutuhan keluarganya serta membutuhkan biaya untuk mobilitas ketika harus menjalani pengobatan ke RS PMDT. Yayasan Mentari Sehat Indonesia (MSI) yang merupakan komunitas peduli TBC, sampai saat ini masih aktif bergerak untuk kemanusiaan. MSI bergerak bersama kader melakukan pendampingan kepada seluruh pasien TBC baik TBC SO maupun TBC RO.
ADVERTISEMENT

Dukungan Psikososial Komunitas Bagi Pasien

Bentuk dukungan pendampingan yang dilakukan oleh komunitas tentunya lebih dapat dirasakan oleh pasien dan keluarga karena dukungan yang diberikan dilakukan secara intens dan kekeluargaan. Komunitas MSI memiliki banyak tim dengan peran dan tugasnya masing-masing. Salah satunya yaitu Pattient Supporter (PS) yang secara khusus melakukan pendampingan pada pasien TBC RO dengan berkunjung kerumah pasien secara berkala untuk memperoleh update kondisi setiap pasien yang didampingi. Tidak dapat dipungkiri bahwa Pasien TBC RO memiliki efek samping obat yang cukup besar dibandingkan Pasien TBC SO karena obat yang dikonsumsi lebih banyak dan waktu pengobatan yang sangat lama. Pasien TBC RO juga memperoleh dukungan beruba enabler atau dana support yang diberikan setiap bulan selama menjalani pengobatan dengan dilakukan transfer secara langsung ke rekening pasien. Dukungan yang diberikan komunitas mungkin masih dirasa belum cukup, namun hal tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban ekonomi pasien sehingga memiliki semangat untuk sembuh.
ADVERTISEMENT