Konten dari Pengguna

Kotoran Anjing/Kucing di Jalan: Bukan Cuma Mengganggu, Juga Bawa Risiko Penyakit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kornadus Efraim Situmeang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi kotoran hewan yang tersebar di jalanan ramai masyarakat, yg menggangu kebersihan dan kesehatan. Sumber gambar Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kotoran hewan yang tersebar di jalanan ramai masyarakat, yg menggangu kebersihan dan kesehatan. Sumber gambar Gemini AI.

Memelihara hewan peliharaan semakin digemari banyak orang. Kehadiran anjing atau kucing di rumah seringkali menjadi penghilang stres sekaligus teman setia. Namun di balik kesenangan itu, ada satu masalah yang kerap luput dari perhatian: tumpukan kotoran hewan yang tertinggal begitu saja di trotoar, taman kota, jalan lingkungan, hingga selokan terbuka. Banyak yang menganggap hal ini sepele, sekadar urusan kebersihan mata dan hidung semata. Padahal, kelalaian ini menyimpan risiko yang jauh lebih besar bagi kesehatan dan keharmonisan hidup bersama.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa kotoran hewan peliharaan bukanlah sampah biasa. Di dalamnya mengandung berbagai jenis parasit berbahaya seperti cacing gelang, cacing pita, bakteri Escherichia coli, Salmonella, hingga virus yang mudah menular ke manusia. Seringkali kita melihat kotoran itu hilang saat hujan turun, padahal tidak benar-benar lenyap. Air hujan justru membawanya menyebar, mencemari tanah, saluran air, hingga sumber air bersih. Bakteri dan telur parasit bisa bertahan hidup di tanah selama berbulan-bulan. Jika menempel di alas kaki, baju, atau dimainkan oleh anak-anak yang sedang beraktivitas di luar, risiko penularan penyakit menjadi sangat tinggi.

Kedua, masalah ini juga merupakan pelanggaran aturan. Dalam peraturan daerah tentang ketertiban umum dan pengelolaan lingkungan hidup, sudah jelas tertulis bahwa pemilik hewan berkewajiban menjaga kebersihan di mana pun hewan itu berada. Kamu bebas memelihara dan mengajak hewan berjalan-jalan, tapi kamu wajib membersihkan kotoran yang dikeluarkannya. Kelalaian ini sebenarnya bisa dikenakan sanksi administratif hingga denda, namun penegakannya masih sangat jarang dilakukan. Akibatnya, kesadaran bertanggung jawab pun makin rendah.

Ketiga, ini adalah soal batas antara hak dan kewajiban. Memiliki hewan adalah hak pribadi, tapi hak itu berhenti saat mulai mengganggu orang lain. Mengeluh "cuma kotoran sedikit kok repot" adalah sikap yang tidak adil. Tidak semua orang nyaman melihat atau mencium bau kotoran hewan, apalagi mereka yang memiliki alergi, orang tua, atau anak kecil. Seringkali masalah sepele seperti ini justru menjadi pemicu keributan dan permusuhan antar-tetangga yang sebenarnya bisa dihindari.

foto seekor hewan peliharaan yang umum di pelihara. Sumber gambar Gemini AI.

Menjadi pemilik hewan yang baik bukan hanya soal memberi makan, memandikan, atau mengajak jalan-jalan. Tanggung jawab terbesar adalah tidak membiarkan keberadaan hewan itu merugikan orang lain. Membawa kantong plastik dan tisu saat berjalan-jalan, lalu membuang kotoran ke tempat sampah yang benar, adalah langkah paling sederhana tapi bermakna besar. Mari kita tanamkan kesadaran ini: kita menikmati kebersamaan dengan hewan, tapi tidak boleh membuat orang lain menderita karena kelalaian kita.