Konten dari Pengguna

Memahami Pemerolehan Bahasa Pertama Anak dengan Penelitian Tokoh Eve Clark

Helga Kristella N

Helga Kristella N

Student of Airlangga University Department of English Literature

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helga Kristella N tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak-anak dan orangtua. Foto : pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak-anak dan orangtua. Foto : pixabay.com

Anak-anak tidak bisa langsung berbicara ketika dilahirkan ke dunia. Mereka harus belajar bahasa sebagai sarana komunikasi untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Bagaimana cara anak memperoleh bahasa tersebut? Cara anak memperoleh bahasa pertamanya dikenal dengan istilah “Pemerolehan Bahasa Pertama”. Bahasa pertama dalam konteks ini artinya bahasa yang pertama diperkenalkan, diajarkan, dan digunakan orang dewasa (khususnya orang tua si anak) saat berkomunikasi dengan anak.

Mengenal Professor Eve Vivienne Clark

Eve Vivienne Clark. Foto : https://bingschool.stanford.edu/news/distinguished-lecture-professor-eve-v-clark-language-acquisition-and-expertise

Pemerolehan bahasa telah menjadi perhatian para peneliti sejak akhir abad 19. Perhatian dan studi tersebut tentu tidak berhenti hanya di masa lalu. Seorang professor kelahiran 26 Juli 1942 bernama Eve Vivienne Clark adalah salah satu ahli yang meneruskan perhatian dan studi mengenai pemerolehan bahasa ini sejak tahun 1971 hingga sekarang. Linguis yang masih aktif mengajar di Stanford University ini sangat memfokuskan penelitiannya terhadap perkembangan bahasa pada anak-anak. Eve Clark telah menulis beberapa buku mengenai penelitiannya ini, di antaranya seperti The Lexicon in Acquisition (1993), First Language Acquisition (2003), dan How Language Acquisition Builds on Cognitive Development (2004). Pada artikel ini, penulis akan membahas pemikiran dan penelitian Eve Clark ini dengan lebih terperinci.

Proses Pemerolehan Bahasa Pertama

Dalam proses pemerolehan bahasa, anak-anak memerlukan pembelajaran semua elemen bahasa, baik struktur maupun penggunaannya. Mereka perlu belajar tentang struktur kata/morfologi : apakah kata itu terdiri dari satu, dua, atau banyak suku kata (misalnya, dot, rok, baju, tangan), beserta artinya. Kata-kata pun dapat menjadi kompleks dengan penambahan imbuhan (misalnya : makan/makanan, jalan/berjalan). Selain itu, bahasa, terutama kosakatanya (leksikon), tidaklah statis. Para penutur bahasa tertentu menciptakan kata-kata baru saat masyarakat berubah dan menambahkan penemuan baru. Tetapi setiap kata baru hanya diterima jika artinya berbeda dengan arti kata-kata yang sudah ada. Konvensionalitas dan kontras adalah prinsip pragmatis yang kuat yang mengatur penggunaan bahasa (Clark 1993).

Menurut Clark, belajar berbicara lebih rumit daripada belajar berjalan. Berbicara memainkan peran utama dalam komunikasi sosial dan menuntut pemahaman tentang semua konvensi penggunaan di dalam masyarakat. Sekalipun anak-anak dilahirkan dengan mekanisme pembelajaran yang didedikasikan untuk bahasa, Clark mengatakan bahwa bahasa harus dipelajari. Bahasa adalah suatu sistem yang sangat kompleks dan tentu sangat kontras jika dibandingkan dengan sekadar belajar menyikat gigi atau makan sendiri.

Tahap-Tahap dalam Pemerolehan Bahasa

Ketika anak-anak belajar berbicara, mereka melalui serangkaian tahapan.

  • Saat bayi, mereka tidak dapat berbicara dan belum memahami bahasa apa pun.

  • Pada usia 7-10 bulan, mereka mulai mengoceh kata-kata yang tidak jelas seperti "goo goo ga ga".

  • Mereka mulai menghasilkan kata-kata pertama yang dapat dimengerti saat menginjak usia 6-12 bulan.

  • Kemudian, dalam beberapa bulan, mereka menggabungkan kata-kata dan gerakan, dan menghasilkan kombinasi kata pertama mereka saat berusia sekitar 2 tahun. Perilaku ini diikuti dengan ucapan yang semakin kompleks dan menjadi aktif dalam percakapan. Mereka mulai menggunakan bahasa untuk kegiatan yang lebih sukar - bercerita, menjelaskan cara menggunakan permainan, membujuk teman untuk melakukan sesuatu, atau memberi arahan kepada seseorang yang ingin menuju suatu tempat.

  • Antara usia 1-6 tahun, anak-anak memperoleh keterampilan ekstensif dalam menggunakan bahasa dan sering kali terdengar seperti orang dewasa.

  • Sekitar usia 10-12 tahun, mereka telah menguasai banyak konstruksi kompleks, lebih banyak kosakata, dan banyak penggunaan bahasa.

Pengaruh Sosial dalam Pemerolehan Bahasa

Clark memandang, perkembangan sosial merupakan hal yang penting untuk akuisisi atau pemerolehan bahasa pertama anak. Ketika orang dewasa berbicara kepada anak-anak, orang dewasa sekaligus menyampaikan informasi yang beragam dan luas dalam bahasa itu. Selain itu, anak-anak belajar lebih banyak dari bahasa mereka dan bagaimana menggunakannya (Snow 1978). Secara sederhana dapat dipahami bahwa mereka akan lebih cepat menguasai bahasa pertamanya jika sering mendengarkan kata-kata dalam bahasa pertamanya (dari orang dewasa di sekitarnya, atau dari televisi) dan langsung mencoba ikut percakapan dengan orang dewasa.

Kesimpulan

Penjelasan yang panjang dan kompleks ini tentunya tidak bertujuan untuk membuat orangtua atau pengajar menjadi bingung akan metode yang baik dalam penyaluran bahasa pertama kepada anak. Namun agar bisa dipahami bahwa, walaupun pemerolehan bahasa terjadi secara natural (tidak seperti pemerolehan bahasa kedua), perkembangan anak-anak untuk menguasai bahasanya harus didampingi dan diperhatikan dengan baik oleh orang dewasa. Sebab tujuan utamanya ialah menjadi bagian dari masyarakat dan mampu berkomunikasi dengan baik.

Eve Clark dalam wawancaranya dengan Professor Lívia Körtvélyes dalam "SKASE Journal of Theoretical Linguistics". [online]. 2015, vol. 12, no.4 [cit. 2014-12-13] memberikan kesimpulan singkat akan pemikiran dan penelitiannya dalam pemerolehan bahasa pertama pada anak :

Saat ini banyak penekanan untuk memastikan anak-anak yang sangat kecil (di bawah tiga tahun) mendengar bahasa sebanyak mungkin. Ini bagus, tetapi penting juga untuk menunjukkan bahwa bahasa di sini harus digunakan dalam konteks interaktif, di mana orang dewasa menanggapi apa yang diminati anak, katakanlah. Jelaslah bahwa anak-anak pada kenyataannya belajar banyak bahasa awal dari interaksi mereka dengan orang dewasa, ketika mereka berbicara dengan mereka dan terlibat dalam kegiatan bersama”.