Sebutan “Boti” dan Antipati terhadap Feminitas: Apa Hubungannya dengan Misogini?

A high school student passionate about social sciences.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Stephana Syahlom Suyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah “boti” semakin sering muncul dalam percakapan di media sosial. Kata ini dapat ditemukan dalam candaan, komentar, hingga digunakan sebagai sebutan untuk laki-laki yang dianggap memiliki pembawaan feminin. Tidak jarang, “boti” digunakan bukan untuk menjelaskan sesuatu tentang seseorang, melainkan sebagai ejekan.
Padahal, dalam konteks hubungan sesama laki-laki, “boti” berasal dari kata bottom, yaitu istilah yang merujuk pada seseorang yang berperan reseptif dalam aktivitas seksual. Istilah ini sebenarnya hanya menjelaskan sebuah peran seksual dan tidak menentukan kepribadian, penampilan, atau ekspresi gender seseorang.
Namun, penggunaan istilah tersebut di masyarakat sering kali mengalami pergeseran. Laki-laki yang dianggap memiliki suara lembut, gestur feminin, cara berjalan tertentu, atau penampilan yang tidak sesuai dengan standar maskulinitas dapat disebut “boti”, meskipun tidak ada yang mengetahui apakah ia benar-benar seorang bottom atau tidak.
Pergeseran inilah yang menarik untuk dibahas. Mengapa “bottom” kemudian menjadi sesuatu yang dapat digunakan sebagai hinaan terhadap laki-laki? Dan mengapa feminitas begitu mudah dijadikan bahan ejekan?
Ketika “Boti” Tidak Lagi Sekadar Istilah
Dalam hubungan sesama laki-laki, top dan bottom pada dasarnya merupakan istilah yang berkaitan dengan peran seksual. Ada pula istilah versatile untuk seseorang yang dapat mengambil kedua peran tersebut.
Tidak ada satu pun dari istilah tersebut yang secara otomatis menentukan bagaimana seseorang harus berpenampilan atau berperilaku. Seorang bottom tidak harus feminin, sama seperti seorang top tidak harus maskulin. Namun, stereotip masyarakat sering menghubungkan keduanya. Bottom dianggap lebih feminin, lembut, pasif, atau emosional, sementara top dianggap lebih maskulin, dominan, dan kuat.
Ketika stereotip tersebut terus digunakan, kata “boti” akhirnya tidak lagi hanya menggambarkan peran seksual. Kata tersebut dapat berubah menjadi label sosial untuk laki-laki yang dianggap tidak memenuhi standar maskulinitas.
Dengan kata lain, yang menjadi sasaran ejekan bukan lagi sekadar peran seksual, tetapi feminitas yang dilekatkan pada peran tersebut.
Mengapa Laki-Laki Feminin Sering Dipandang Rendah?
Sejak kecil, masyarakat sering memberikan gambaran mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berperilaku. Laki-laki diharapkan kuat, tegas, berani, tidak terlalu emosional, dan mampu menunjukkan dominasi. Sementara itu, sifat seperti lembut, sensitif, penyayang, atau ekspresif lebih sering diasosiasikan dengan perempuan. Masalah muncul ketika sifat-sifat yang diasosiasikan dengan perempuan kemudian dianggap lebih rendah.
Seorang laki-laki yang berbicara dengan suara lembut dapat dianggap tidak jantan. Laki-laki yang memiliki gestur feminin dapat menjadi bahan lelucon. Bahkan, laki-laki yang sekadar memiliki penampilan atau minat yang dianggap feminin dapat dipertanyakan maskulinitasnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya memiliki standar mengenai bagaimana laki-laki harus bersikap, tetapi juga memberikan konsekuensi sosial ketika seseorang dianggap keluar dari standar tersebut.
Laki-laki tidak hanya dituntut untuk menjadi maskulin. Mereka juga kerap didorong untuk tidak menjadi feminin.
Feminitas Sebagai Bentuk Penghinaan
Salah satu hal yang paling menarik dari stigma terhadap “boti” adalah cara feminitas digunakan sebagai penghinaan. Ketika seorang laki-laki diejek dengan sebutan “boti”, yang sering kali dimaksud bukan benar-benar informasi mengenai peran seksualnya. Sebutan tersebut digunakan untuk mengatakan bahwa ia dianggap terlalu feminin.
Di sinilah muncul sebuah pertanyaan penting: mengapa menjadi feminin dapat digunakan untuk mempermalukan seorang laki-laki?
Jika sifat feminin dianggap sebagai sesuatu yang netral, seharusnya menjadi feminin tidak memiliki makna sebagai penghinaan. Namun, ketika “feminin” digunakan untuk merendahkan laki-laki, terdapat anggapan bahwa sifat-sifat tersebut memiliki nilai yang lebih rendah daripada sifat maskulin.
Dengan demikian, ejekan terhadap laki-laki feminin tidak hanya memperlihatkan tekanan terhadap laki-laki untuk menjadi maskulin. Ejekan tersebut juga dapat memperlihatkan bagaimana karakteristik yang diasosiasikan dengan perempuan dipandang lebih rendah.
Mengapa Maskulinitas Lebih Dihargai?
Stigma terhadap “boti” menjadi semakin menarik jika dibandingkan dengan bagaimana masyarakat memandang maskulinitas. Laki-laki yang dianggap maskulin umumnya tidak dipandang kehilangan status karena menunjukkan sifat maskulin. Sebaliknya, sifat seperti tegas, kuat, berani, dan dominan justru sering dianggap sebagai kualitas positif.
Hal yang berbeda dapat terjadi ketika seorang laki-laki menunjukkan sifat feminin. Seorang laki-laki yang dianggap terlalu lembut dapat disebut lemah. Laki-laki yang terlalu ekspresif dapat dianggap berlebihan. Laki-laki yang memiliki gestur feminin dapat dijadikan bahan candaan. Artinya, terdapat perbedaan nilai antara maskulinitas dan feminitas.
Maskulinitas cenderung diposisikan sebagai sesuatu yang harus dicapai oleh laki-laki, sedangkan feminitas menjadi sesuatu yang harus dihindari. Fenomena ini menunjukkan bahwa norma gender tidak selalu bekerja dengan cara mengatakan bahwa “laki-laki harus menjadi X”. Kadang-kadang norma tersebut juga bekerja dengan mengatakan bahwa “laki-laki tidak boleh menjadi seperti perempuan”.
Lalu, Bagaimana dengan Perempuan Maskulin?
Perbandingan dengan perempuan maskulin dapat membantu melihat persoalan ini lebih jelas. Perempuan yang memiliki penampilan atau perilaku maskulin juga dapat mengalami stigma. Mereka dapat disebut tomboy, dianggap terlalu keras, atau dianggap tidak sesuai dengan standar feminin.
Namun, dalam banyak situasi, karakteristik maskulin tidak selalu dianggap sebagai sesuatu yang merendahkan.
Sifat seperti tegas, mandiri, berani, dan kuat bahkan dapat dipandang positif. Hal ini bukan berarti perempuan maskulin tidak mengalami diskriminasi. Mereka tetap dapat menghadapi tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma feminin.
Namun, perbedaan tersebut menunjukkan adanya persoalan yang lebih besar: mengapa sifat maskulin dapat dianggap sebagai kualitas positif ketika dimiliki perempuan, sementara sifat feminin dapat menjadi penghinaan ketika dimiliki laki-laki?
Jawabannya berkaitan dengan bagaimana masyarakat memberikan nilai yang berbeda terhadap maskulinitas dan feminitas.
Di Mana Misogini Berperan?
Misogini sering dipahami secara sederhana sebagai kebencian atau prasangka terhadap perempuan. Namun, misogini juga dapat bekerja melalui anggapan bahwa sesuatu yang dianggap feminin memiliki nilai yang lebih rendah.
Ketika seorang laki-laki dihina dengan sebutan “boti” karena dianggap feminin, penghinaan tersebut dapat membawa pesan bahwa menjadi seperti perempuan adalah sesuatu yang memalukan.
Ini tidak berarti setiap orang yang menggunakan kata “boti” otomatis membenci perempuan. Konteks, maksud, dan penggunaan kata tersebut tetap perlu diperhatikan. Namun, sebuah istilah dapat merefleksikan norma sosial yang lebih luas. Jika sesuatu yang dianggap feminin secara konsisten digunakan sebagai bahan penghinaan, hal tersebut menunjukkan bahwa feminitas telah ditempatkan dalam posisi yang lebih rendah.
Misogini, dalam konteks ini, tidak selalu muncul dalam bentuk kebencian yang terang-terangan terhadap perempuan. Ia juga dapat muncul melalui devaluasi terhadap feminitas—anggapan bahwa sesuatu yang feminin kurang kuat, kurang berharga, atau kurang layak dihormati.
Karena itu, ketika laki-laki dihina karena dianggap feminin, yang perlu dipertanyakan bukan hanya mengapa laki-laki tersebut diejek, tetapi juga mengapa feminitas dapat menjadi dasar untuk merendahkan seseorang.
Stigma Terhadap “Bottom” dan Obsesi terhadap Maskulinitas
Stigma terhadap bottom juga tidak dapat dilepaskan dari pandangan bahwa laki-laki seharusnya selalu berada dalam posisi yang maskulin dan dominan. Dalam stereotip tertentu, bottom dianggap sebagai pihak yang lebih pasif dan feminin, sedangkan top dianggap lebih dominan dan maskulin. Padahal, peran seksual seseorang tidak menentukan kepribadian ataupun nilai dirinya.
Ketika masyarakat menganggap bottom lebih rendah daripada top, sebenarnya yang sedang dihargai bukan sekadar peran seksual tertentu. Yang dihargai adalah karakteristik yang diasosiasikan dengan maskulinitas: dominasi, kekuatan, dan kontrol.
Sebaliknya, karakteristik yang diasosiasikan dengan feminitas—seperti kelembutan dan kepasifan—ditempatkan lebih rendah. Hal ini memperlihatkan bagaimana homofobia dan norma gender dapat saling beririsan. Seorang laki-laki tidak hanya distigma karena memiliki hubungan dengan laki-laki, tetapi juga dapat mengalami penghinaan ketika dianggap mengambil posisi yang secara stereotip diasosiasikan dengan perempuan.
Bukan “Boti”-nya yang Menjadi Masalah
Pada akhirnya, persoalannya tidak terletak pada apakah seseorang bottom, top, feminin, maskulin, atau memiliki ekspresi gender tertentu. Yang menjadi persoalan adalah ketika karakteristik tersebut digunakan untuk menentukan harga diri seseorang.
Seorang laki-laki tidak menjadi kurang laki-laki hanya karena memiliki gestur feminin. Seorang bottom tidak otomatis feminin. Seorang top juga tidak otomatis maskulin. Begitu pula, perempuan tidak menjadi kurang sebagai perempuan hanya karena memiliki sifat atau penampilan yang maskulin.
Namun, selama feminitas masih dianggap sebagai sesuatu yang memalukan, istilah seperti “boti” akan terus memiliki ruang untuk digunakan sebagai hinaan. Membicarakan fenomena ini bukan berarti setiap penggunaan kata “boti” harus dianggap sebagai bentuk misogini. Yang lebih penting adalah memahami mengapa kata tersebut bisa berfungsi sebagai hinaan sejak awal.
Ketika menjadi feminin dianggap sebagai sesuatu yang membuat seorang laki-laki lebih rendah, kita sedang melihat lebih dari sekadar candaan. Kita sedang melihat bagaimana norma gender bekerja dan bagaimana feminitas masih sering ditempatkan di bawah maskulinitas.
Pada akhirnya, melawan stigma terhadap laki-laki feminin bukan hanya tentang membela laki-laki yang dianggap “berbeda." Hal ini juga berarti mempertanyakan gagasan bahwa feminitas adalah sesuatu yang pantas direndahkan.
Sebab, jika menjadi seperti “perempuan” masih dapat digunakan sebagai hinaan terhadap laki-laki, mungkin masalah sebenarnya bukan pada laki-laki yang dianggap terlalu feminin, melainkan pada masyarakat yang masih menganggap feminitas sebagai sesuatu yang lebih rendah.
