Konten dari Pengguna

Kolaborasi dan PHTC Pendidikan

Muh Adnin

Muh Adnin

Alumni Universitas Bhayangkara Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muh Adnin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : BKHM Kemendikdasmen
zoom-in-whitePerbesar
sumber : BKHM Kemendikdasmen

Di hari pendidikan nasional pada 2 Mei 2025 lalu, kementerian pendidikan dasar dan menengah (Kemendikdasmen) menghadirkan tema "Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua". Di momen peringatan yang sama ini juga, launching Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dilakukan oleh Kemendikdasmen. Melihat dari pemberitaan di media, acara seremonial ini dihadiri langsung oleh Menteri Pendidikan dan Presiden Indonesia.

Dalam PHTC ini, terdapat empat fokus progam kebijakan antara lain adalah perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, Digitalisasi pembelajaran, pemberian intensif bagi guru non aparatur sipil negara (Non ASN), serta pemberian bantuan bagi guru untuk ikut pendidikan D4/S1. (Sipres, Kemendikdasmen; 2025)

Umumnya, acara seremonial semacam peringatan ini bisa diisi oleh kegiatan refleksi tentang konteks keterkaitannya. Dan karena merupakan konteks pendidikan, dilihat dari segi tema yang diambil, agaknya Kemendikdasmen hendak membuka jalinan semangat dan kolaborasi bersama tentang pentingnya mewujudkan pendidikan yang bermutu.

Dari segi luncuran programnya, PHTC menjadi tonggak yang memompa tujuan 'Pendidikan Bermutu untuk Semua' itu. Pun karena sebuah kebijakan, ulasan mengenai bagaimana spirit dan program ini akan berdampak adalah hal yang menarik.

Dari segi urgensi kolaborasi, karena pendidikan memegang peran sentral dalam kehidupan manusia. Pendidikan meletakkan kebutuhan dasar seperti cara berpikir, perilaku, kepribadian, pengetahuan, bahasa dan pemahaman dalam partisipasi kehidupan sosial. Pendidikan di Indonesia itu sendiri menduduki peringkat ke-64 dari 120 Negara dalam kualitas pendidikan nasional. Posisi yang menunjukkan masih banyak ruang untuk perbaikan sistem pendidikan Indonesia. (M Dimas, dkk; 2024).

Dari sini, perbaikan sistem pendidikan melalui kolaborasi adalah hal yang wajar untuk terus digulirkan. Apalagi dengan berbagai tantangan yang ada, kolaborasi yang mengandung arti setiap elemen dalam terselenggaranya pendidikan mampu menjalankan peran dan fungsinya secara optimal.

Kementerian melalui kebijakannya, satuan pendidikan melalui pelaksanaan dan sumber dayanya, lingkungan keluarga lewat kepemimpinan yang edukatif dan pihak swasta melalui peluang dunia kreatif adalah konsepsi yang perlu dikejar.

sumber : istockphoto-1410950079-612x612

Mengenai perbaikan sarana prasarana dan digitalisasi pembelajaran, Kemendikdasmen semacam ingin menekankan betul pada penyesuaian pendidikan di era kini yang serba cepat. Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap kemajuan jaman juga sekaligus memberikan tantangan sumber daya manusia yang semakin unggul pula. Pendidikan memainkan peran yang ciamik ini, lewat pendidikan yang mengadaptasi ketersediaan sarana dan prasarana yang relevan serta model pembelajaran yang kekinian yang berdigitalisasi adalah sebuah keniscayaan yang tak terhindari.

Sarana dan prasarana yang baik sangat penting karena dengan adanya sarana dan prasarana ini lembaga pendidikan akan terpelihara dan jelas kegunaannya. Jika sarana dan prasarana di sekolah sudah terpenuhi dengan baik, maka harapan akan dampaknya yang positif akan mendukung proses belajar dan mengajar serta tercapainya tujuan pendidikan adalah hal yang mungkin. Selain karena membantu guru dalam proses mengajar, sarana dan prasarana yang baik juga memudahkan siswa dalam melakukan pembelajaran dengan baik. (Putri Setia Zebua, dkk; 2024)

Mengenai digitalisasi pembelajaran, selain karena penyesuaian tuntutan dunia yang semakin dinamis, beberapa alasan lain mengapa ini penting antara lain adalah karena kebutuhan ilmu pengetahuan yang meningkat, pentingnya meningkatkan kualitas pembelajaran, pembekalan bagi siswa tentang kompetensi yang relevan, serta keberlanjutan program kebijakan pemerintah. (Cut Nelga Isma, dkk; 2022)

Terakhir, mari kita berharap semoga apa yang hendak dicapai dalam dimensi pendidikan terus berlanjut dengan baik. Semoga setiap pihak yang terlibat didalamnya mampu memainkan peranannya yang terbaik. Semoga