Konten dari Pengguna

163 Tahun Kepergian Pangeran Diponegoro

Sudah Tahu Belum

Sudah Tahu Belum

Setiap hari banyak tahu.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sudah Tahu Belum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pangeran Diponegoro (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Pangeran Diponegoro (Foto: Wikimedia Commons)

Bendara Pangeran Harya Dipanegara atau yang dikenal dengan nama Diponegoro, lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, 11 November 1785 – meninggal di Makassar, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun. Merupakan salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro adalah putra sulung dari Sultan Hamengkubuwana III, raja ketiga di Kesultanan Yogyakarta.

Perang Diponegoro terjadi ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, ia memang sudah kesal dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat banyak simpati dan dukungan dari rakyat. Atas saran GPH Mangkubumi (pamannya), Diponegoro berpindah dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah gua yang bernama Gua Selarong. Kyai Maja juga ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Gua Selarong, setelah itu meletuslah Perang Diponegoro.

Perang Diponegoro adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama kurun waktu lima tahun yaitu antara tahun 1825-1830 yang terjadi di Jawa, Hindia Belanda yang sekarang adalah Indonesia. Perang terjadi antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock melawan penduduk pribumi yang dipimpin oleh pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Dalam perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit.

Sebagai penghargaan atas jasa-jasa Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan. Beberapa kota besar di Indonesia memberikan nama-nama jalan serta tempat, yang dinamai Jalan Pangeran Diponegoro. Contohnya di Kota Semarang yang memberikan apresiasi agar nama Pangeran Diponegoro senantiasa selalu terkenang. Beberapa nama tempat yang menggunakan namanya antara lain Stadion Diponegoro, Jalan Pangeran Diponegoro, Universitas Diponegoro (Undip), maupun Kodam IV/Diponegoro. Juga ada beberapa patung yang dibuat, patung Diponegoro di Undip Pleburan, patung Diponegoro di Kodam IV/Diponegoro, dan di pintu masuk Undip Tembalang.

Penghargaan tertinggi justru diberikan oleh Dunia melalui UNESCO pada 21 Juni 2013. UNESCO menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia atau Memory of the World. Babad Diponegoro adalah naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 1832-1833. Babad ini bercerita tentang kisah hidup Pangeran Diponegoro yang memiliki nama asli Raden Mas Antawirya.

Selain itu, untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro dalam memperjuangkan kemerdekaan, didirikanlah Museum Monumen Pangeran Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Sasana Wiratama" di Tegalrejo, Yogyakarta, yang menempati bekas kediaman Pangeran Diponegoro.