5 Mitos Seputar Perang Dunia II

Setiap hari banyak tahu.
Tulisan dari Sudah Tahu Belum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak kebohongan-kebohongan yang beredar seputar yang terjadi dalam Perang Dunia II. Kebohongan tersebut didukung dengan banyak literatur sejarah yang kurang tepat dalam menginterpretasikan fakta yang sesungguhnya. Sebut saja soal Winston Churchill yang dikenang sebagai pahlawan perang, juga soal sentimen terhadap Blok Poros sebagai pihak "evil" seolah-olah hanya Jerman dengan Nazi-nya yang melakukan kejahatan perang.
Padahal, fakta sebenarnya lebih luas daripada itu. Simak daftar tentang mitos-mitor seputar Perang Dunia II yang hingga kini masih dipercaya sebagian besar orang.
1. Pemboman Hiroshima dan Nagasaki sebagai titik akhir peperangan
Banyak versi sejarah menyimpulkan akhir Perang Dunia II adalah ketika bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki. Momentum menyerahnya Jepang kepada Blok Sekutu. Padahal, berakhirnya perang tidak lah sesederhana itu.
Pemboman Horoshima dan Nagasaki memang merupakan momen historis dari Perang Dunia II sebab kerusakan parah yang ditimbulkan. Namun, ada serangkaian peristiwa yang mempunyai peran lebih besar terhadap keputusan Jepang untuk menyerah.
Satu hari sebelum Hiroshima dibom, Tokyo menerima kabar pernyataan perang dari Uni Soviet. Perwira senior Angkatan Darat Jepang pun memberlakukan darurat militer di seluruh Jepang. Keadaan diperparah, ketika invasi Soviet berhasil menaklukkan pasukan elit tentara Jepang, Kwangtung.
Jepang goyah. Kaisar memutuskan untuk mengakhiri perlawanan kepada Sekutu. Menyerah kepada AS lebih baik daripada membiarkan Stalin mengobrak-abrik Jepang tanpa ampun.
2. Winston Churchill adalah pahlawan perang
Nama Winston Churchill menjadi kata kunci populer dalam peristiwa Perang Dunia II. Hingga sekarang, ia dianggap sebagai Perdana Menteri Inggris terbaik sepanjang sejarah. Inggris mengingat sebagai pahlawan perang.
Padahal, ada sisi lain yang jarang diungkap sejarah. Anggota parlemen dari Partai Konservatif, Sir Cuthbert Headlam, menilai kurangnya regulasi domestik dari Churchill yang terlalu fokus mengurusi perang.
Churchill juga punya pandangan-pandangan yang kontroversial. Ia mendukung perang menggunakan senjata kimia, menyamakan Muslim dengan anjing, dan menyangkal perbudakan orang kulit hitam adalah perlakuan semena-mena.
Saat perang berakhir, Churchill kalah dalam pemilu 1945. Kebijakan-kebijakannya tak mampu menandingi program National Health Service milik Partai Buruh. Kekalahannya dalam pemilu bukan hanya sekali terjadi. Selama memimpin Partai Konservatif, ia tidak pernah berhasil membawa partainya menang suara terbanyak di pemilu.

3. Franklin D. Roosevelt telah memprediksi serangan Jepang ke pangkalan militer AS Pearl Harbor
Ada teori konspirasi yang populer, menduga bahwa Roosevelt telah mengetahui rencana Jepang menyerang Pearl Harbor, lantas diam membiarkannya terjadi hanya agar ada dalih untuk mengumumkan perang.
Namun, berdasarkan dokumen-dokumen rahasia yang ada, sejarawan menolak teori tersebut. Hanya ada dokumen berisi kecurigaan semata terkait mata-mata Jepang di Hawaii, namun hanya sebatas itu.
4. Amerika memenangkan perang
Versi sejarah, khususnya versi Amerika, pecaya benar bahwa Amerika Serikat berjasa besar menyelamatkan Eropa dari agresi militer pasukan Nazi. Memang peran AS tidak bisa disepelekan, namun masih ada pihak lain yang berkontribusi lebih banyak.
Ada kekuatan tentara USSR dari Uni Soviet yang mengokohkan pertempuran melawan Blok Poros. Tentara USSR di front Barat dan Timur berhasil mengalahkan musuh 25 kali lipat lebih banyak dari yang bisa dikalahkan oleh tentara AS. Selain itu, lebih banyak korban tewas dari USSR, termasuk dalam Pertempuran Stalingrad yang merenggut dua juta korban.
5. Hanya Blok Poros yang melakukan kejahatan perang
Bicara tentang kejahatan perang, nama yang selalu muncul selalu Hitler, Nazi, dan holocaust. Ada peristiwa yang justru luput.
Banyak yang tidak tahu bahwa saat okupansi, tentara AS membunuh ribuan tentara Jepang yang menjadi tawanan perang. Tak hanya dibunuh, rangka tubuh tentara Jepang juga ditusukkan di bayonet, diperlakukan layaknya souvenir perang. Belum lagi pelecehan seksual yang menimpa para penduduk wanita.
