Konten dari Pengguna

Cerita Umroh (11): Zam-Zam Simbol Kasih Sayang Allah

Sugeng Winarno

Sugeng Winarno

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ribuan tahun yang lalu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diperintahkan Allah untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar, bersama bayi mereka, Ismail, di sebuah lembah tandus yang kelak dikenal sebagai Mekkah. Di tengah panas terik dan ketiadaan air, Siti Hajar berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah, mencari setetes air untuk anaknya.

Dalam keputusasaan itu, Allah menunjukkan kuasa-Nya. Dari hentakan kaki kecil Nabi Ismail, memancarlah air yang melimpah. Itulah sumur Zam-Zam, yang sejak saat itu tidak pernah kering, meski jutaan orang meneguknya setiap hari.

Rosulullah bersabda bahwa air Zam-Zam adalah makanan yang mengenyangkan dan obat bagi penyakit. Sejarah panjang itu menjadikan Zam-Zam bukan sekadar air, melainkan simbol kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Tempat air Zam-Zam di salah satu sudut Masjid Nabawi. Sumber foto: penulis.

Kini, Zam-Zam bukan hanya bisa diminum di Mekkah, tetapi juga tersedia di Masjid Nabawi, Madinah. Bagi jamaah, menikmati zam-zam di masjid yang penuh cahaya ini adalah anugerah tak ternilai.

Sore itu, suasana di Kota Madinah begitu menenangkan. Angin berhembus lembut di halaman Masjid Nabawi, sementara payung-payung raksasa yang menjulang tinggi telah terbuka, melindungi para jamaah dari panasnya matahari. Dari kejauhan, menara Nabawi tampak megah, seolah menjadi penanda bagi setiap hati yang rindu kepada Rosulullah.

Beberapa jamaah mengambil minum air Zam-Zam di Masjid Nabawi. Sumber foto: penulis.

Rombongan jamaah Mitra Umroh baru saja selesai melaksanakan sholat Ashar berjamaah. Setelah beberapa hari berada di Madinah, setiap langkah di Masjid Nabawi terasa begitu berharga. Ada kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Seakan setiap sudut masjid membawa pada kenangan sejarah, do’a, dan ketenangan jiwa.

Di serambi masjid, beberapa jamaah duduk melingkar. Mereka melepas lelah setelah sholat, sambil menunggu datangnya waktu Maghrib. Gelas-gelas kecil berisi air zam-zam berada di tangan mereka. Setiap jamaah meneguk dengan khusyuk, seakan menyimpan do’a dalam tiap tetesnya.

“Subhanallah, dulu saya hanya bisa membaca tentang air zam-zam dari buku dan mendengar ceritanya dari para ustadz. Tapi hari ini, saya sendiri yang meneguknya di Masjid Nabawi,” ungkap saya dalam hati.

Gelas Air Zam-Zam di Masjid Nabawi. Sumber foto: Shafa.

Allah benar-benar Maha Pemurah. Air dari sumur di Mekkah itu, kini bisa kita rasakan di Madinah. Ini luar biasa. Setiap tetesnya membawa kenangan ribuan tahun lalu, ketika Siti Hajar berlari-lari mencari air untuk Nabi Ismail. Dari pengorbanan itu, lahirlah berkah yang kita rasakan hingga sekarang.

Sejak lama banyak orang telah mendengar cerita tentang air Zam-Zam tak pernah habis. Tapi dulu itu hanya sekadar cerita di telinga. Kini, banyak jamaah yang bisa merasakannya langsung. Rasanya air Zam-Zam ini seperti jembatan do’a, menghubungkan hati kita dengan Allah.

Minum air Zam-Zam seraya berharap ilmu yang bermanfaat dan kesembuhan terhadap beragam penyakit. Sumber foto: penulis.

Rosulullah bersabda “Air Zam-Zam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya.”

Karena itu, saat saya meneguk Zam-Zam, saya sertakan niat yang baik dengan mohon kesehatan, rezeki yang halal, ilmu yang bermanfaat, atau istiqamah dalam ibadah. Melalui perantara air Zam-Zam merupakan kesempatan emas untuk menyampaikan do’a dengan hati yang penuh.

Semua jamaah Mitra Umroh kembali mengambil gelas-gelas kecil berisi Zam-Zam di sudut masjid. Kali ini, mereka meneguknya dengan lebih sadar, lebih penuh makna. Setiap tegukan adalah do’a, setiap rasa segar yang membasahi tenggorokan adalah pengingat akan janji Allah yang tak pernah putus.

Setelah sholat Isya, sebagian jamaah berkumpul kembali di hotel. Obrolan tentang Zam-Zam kembali muncul. Ada yang menceritakan rasa segar yang berbeda dari air biasa, ada yang merasa lebih kuat menunaikan ibadah meski lelah, ada pula yang yakin bahwa Zam-Zam adalah tanda nyata mukjizat Allah yang masih bisa dirasakan hingga kini.

Ini kuasa Allah, sejak ribuan tahun berlalu, jutaan orang meminumnya setiap hari, tapi sumurnya tak pernah kering. Apalagi di Nabawi, Allah mudahkan kita menikmatinya.

Hari-hari di Madinah terus berjalan, tapi pengalaman minum Zam-Zam di Masjid Nabawi akan selalu menjadi kenangan mendalam bagi jamaah Mitra Umroh.

Air minum biasa, bukan Zam-Zam dipelataran Masjid Nabawi. Sumber foto: Mochamad Shocheh.

Kami semua menyadari bahwa perjalanan umroh bukan hanya tentang ibadah fisik, tetapi juga tentang bagaimana hati dibersihkan, do’a dipanjatkan, dan iman diteguhkan.

Air Zam-Zam di Nabawi menjadi saksi do’a-do’a yang terucap dalam bisikan lirih, menjadi penguat dalam setiap langkah, dan menjadi pengingat bahwa kasih sayang Allah selalu hadir dalam bentuk yang sederhana, tapi penuh makna. (*)

(bersambung, ……….)