Cerita Umroh (3): Air Mata di Taman Surga

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di WA Group (WAG) jamaah Mitra Umroh 9 Agustus ada yang mengingatkan agar semua jamaah mengunduh aplikasi bernama “Nusuk”.
Beberapa saat kemudian saya lihat sejumlah anggota group sudah me-screenshot tampilan muka aplikasi “Nusuk” yang menandakan mereka telah berhasil menginstal aplikasi tersebut di gawainya.
Saya tak mau ketinggalan. Segera yang searching aplikasi dimaksud. Tak berapa lama, aplikasi tersebut sudah ready di HP saya yang lumayan agak jadul itu.
“Bapak, ibu, nanti aplikasi ‘Nusuk’ ini digunakan saat mau masuk Raudhah,” begitu tulis tim Mitra Umroh di WAG.
Siapapun yang berhaji atau berumroh, siapapun yang datang ke Masjid Nabawi pasti ingin berdo’a di Raudhah atau Taman Surga.
Tak terkecuali rombongan umroh kami bersama Mitra Umroh.
Alhamdulillah kami berkesempatan masuk Raudhah 2 kali. Pertama, secara mandiri lewat aplikasi masing-masing, dan yang kedua secara kolektif diatur oleh travel.
Saya lihat di WAG Mitra Umroh, Mas Socheh yang telah berhasil mendaftar masuk Raudhah.
“Alhamdulillah, sudah daftar untuk visit ke Raudhah, Senin, tanggal 11 jam 2 AM,” tulis Mas Socheh di WAG rombongan 9 Agustus.
Sesegera saya pun mendaftar di aplikasi “Nusuk” dan memilih jadwal yang sama dengan Mas Socheh. Berhasil. Bapak-bapak yang lain juga bergantian menunjukkan jadwal yang sama.
Sementara jamaah ibu-ibu, memilih jadwal ke Raudhah tanggal 11 Agustus satu jam lebih awal ketimbang bapak-bapak. Rombongan ibu-ibu memilih jadwal ke Raudhoh, 11 Agustus, pukul 01.00 AM waktu Madinah.
Masjid Nabawi memang bukan sekedar bangunan ibadah, melainkan pusat sejarah, cinta, dan kerinduan umat Muslim kepada Rasulullah.
Di masjid Nabawi itu ada makam Rosulullah, Nabi Muhammad SAW, Abubakar Assidiq, dan Umar Bin Khattab.
Antara seluruh sudutnya yang mulia di Masjid Nabawi, ada satu tempat yang selalu dinanti. Tempat itu adalah Raudhah, yang disebut oleh Nabi Muhammad sebagai “Taman di antara Taman-taman Surga.”
Rasulullah bersabda: “Antara rumahku dan mimbarku terdapat sebuah taman dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Raudhah terletak di antara mimbar dan rumah Rasulullah. Areanya ditandai dengan hamparan karpet hijau. Warna itu sederhana, namun maknanya luar biasa. Ia menjadi penanda sebuah kawasan yang dipuji langsung oleh Rasulullah.
Tak heran, setiap hari ribuan jamaah dari berbagai bangsa rela berdesakan untuk shalat dua rakaat dan meneteskan air mata serta berdo’a di sana.
Saya, Mas Socheh, Pak RT, Pak Drajat, Pak Komandan Hendrat, Pak Sugito, dan Mas Dhimas berangkat bareng dari hotel yang didampingi Ustad Hilman.
Saya lihat antrean cukup panjang. Kami pun bersabar dalam urutan antrean hingga akhirnya tiba di depan petugas yang me-scan barcode aplikasi “Nusuk” di HP kami masing-masing.
Bagi sebagian orang, Raudhah mungkin hanya dipandang sebuah ruang kecil dengan karpet hijau. Tetapi bagi jamaah yang bersujud di atasnya, karpet itu terasa hidup. Seolah menyimpan air mata, do’a, dan bisikan rahasia manusia dari abad ke abad.
Dari para sahabat di masa lalu, ulama-ulama besar, hingga jamaah masa kini, semuanya pernah menitipkan harapan di Raudhah.
Di sana, kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, semua sama ketika keningnya menempel di karpet hijau. Air mata jatuh tanpa malu. Doa terucap tanpa sekat bahasa.
Raudhah seakan menjadi simbol persaudaraan universal umat Islam, tempat di mana manusia datang dengan segala kerendahan hati dan mengharap ridho Allah.
Raudhah sejatinya bukanlah hanya tentang lokasi fisik. Ia adalah simbol spiritual bahwa surga bisa “turun” sebentar ke dunia, agar manusia merasakan harapannya.
Saat seseorang shalat di Raudhah, itu karena keyakinan bahwa Allah membuka pintu do’a lebih lebar di sana.
Raudhah mengajarkan kita bahwa suasana surga bukan sekadar nanti di akhirat, tetapi bisa dirasakan di dunia ketika hati benar-benar dekat dengan Allah. Rasa damai, haru, dan ketenangan yang menyelimuti jamaah di Raudhah adalah potongan kecil dari keindahan surga yang dijanjikan Allah.
Beruntung kami semua rombongan Mitra Umroh berkesempatan dua kali meneteskan air mata dan berdo’a di taman surga itu. Tak semua orang berkesempatan menjejakkan kaki di Raudhah.
Kini kita semua rombongan Mitra Umroh 9 Agustus telah kembali ke tanah air. Tak bisa lagi kita meneteskan air mata sambil serius berdo’a di Raudhah. Namun, sesungguhnya setiap tempat bisa menjadi “taman surga” jika hati kita hadir untuk Allah.
Di setiap rumah kita yang dipenuhi tilawah Al-Qur’an, mushollah, surau, masjid kecil di kampung, atau sajadah sederhana di kamar, semuanya bisa menjadi “Raudhah” pribadi bila dipenuhi dengan sujud dan do’a yang ikhlas.
Raudhah mengajarkan kita untuk selalu merindukan surga, juga menghadirkannya dalam keseharian. Kedekatan dengan Allah tidak harus menunggu ziarah ke Madinah, ia bisa dibangun di mana saja, selama hati benar-benar sujud.
Raudhah adalah taman surga di dunia, bukan hanya karena sabda Nabi, tetapi juga karena di sanalah do'a-do'a dan cinta umat Islam berkumpul. Setiap sujud di atas karpet hijau itu adalah saksi kerendahan hati manusia di hadapan Allah.
Bagi kami rombongan Mitra Umroh 9 Agustus, Raudhah akan selalu menjadi kenangan abadi. Bagi yang belum, Raudhah adalah kerinduan yang selalu hidup dalam do’a.
Dan bagi semua orang, Raudhah adalah pengingat bahwa surga itu tidak jauh. Ia bisa hadir di hati yang ikhlas, di rumah yang penuh do’a, dan di setiap sujud yang jujur dan tulus kepada Allah. (*)
(bersambung, ……….)
