Konten dari Pengguna

Cerita Umroh (9): Payung Teduh Nabawi

Sugeng Winarno

Sugeng Winarno

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Matahari siang Madinah sedang terik-teriknya ketika rombongan jamaah Mitra Umroh melangkah memasuki pelataran Masjid Nabawi.

Namun, tak satu pun dari kami merasa kepanasan. Sebab, di atas kepala, payung-payung raksasa terbentang megah, melindungi jamaah dari sengatan mentari.

“Subhanallah… luar biasa sekali,” begitu saya dan juga jamaah yang lain merasakan hawa sejuk, padahal udara Madinah saat itu sangat panas.

Payung teduh Masjid Nabawi saat sore. Sumber foto: Esty.

Payung raksasa di Nabawi memang menjadi salah satu pemandangan yang tak pernah gagal membuat takjub jamaah. Bentuknya menjulang tinggi, putih bersih, dengan motif indah di bagian dalam. Saat terbuka, payung-payung ini berubah menjadi atap raksasa yang menaungi ribuan jamaah.

Saat keluar menuju pelataran, di sanalah pemandangan yang menakjubkan setiap mata yakni deretan payung raksasa Nabawi yang menjulang megah, meneduhkan ribuan orang di bawahnya.

Bagi jamaah Mitra Umroh, pengalaman pertama melihat payung itu seakan menghadirkan rasa syukur mendalam.

“Rasanya seperti sedang duduk di taman yang teduh, meski di bawah teriknya gurun, teknologi dan seni berpadu begitu indah di rumah Allah ini,” begitu ungkap saya dalam hati.

Bukan hanya penyejuk, payung-payung ini juga menjadi tempat jamaah dari berbagai negara saling berjumpa. Banyak jamaah Mitra Umroh yang memilih duduk beristirahat di bawah payung selepas sholat, atau sekedar berbincang.

Duduk santai di bawah payung teduh Masjid Nabawi. Sumber foto: Hesti Mitra Umroh.

Di satu sudut, sekelompok jamaah tampak berbagi kurma dengan rombongan asal Turki. Sementara di sisi lain, ada yang duduk bersama jamaah dari Indonesia, bertukar cerita tentang keluarganya di tanah air.

Bagi jamaah Mitra Umroh, payung Nabawi bukan sekadar peneduh dari panas. Ia menjadi simbol kasih sayang Allah yang memayungi umat-Nya.

Waktu itu kami semua rombongan Mitra Umroh memanfaatkan untuk berkumpul melakukan pemantapan manasik di bawah payung Masjid Nabawi.

“Bapak ibu, karena besuk kita sudah akan berangkat umroh, kita akan lakukan manasik umroh lagi untuk pemantapan, “ujar ustad Hilman kepada semua jamaah.

Kami serombongan mencari tempat di bawah payung yang kosong dan duduk membentuk lingkaran sambil mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari ustad Hilman.

Rombongan kami sempat harus berpindah tempat karena memang karpet yang kami tempati akan dibersihkan oleh petugas.

Duduk melingkar di bawah payung Masjid Nabawi untuk pemantapan manasik umroh. Sumber foto: Esty.

Menjelang sore, suasana di bawah payung teduh Nabawi semakin syahdu. Angin sore berhembus lembut, jamaah memenuhi halaman masjid sambil menunggu adzan.

Langit Madinah berubah jingga, memantulkan cahaya indah di antara payung-payung raksasa yang berdiri gagah.

Bagi jamaah Mitra Umroh, sore di Nabawi bukan sekadar menunggu waktu sholat. Itu adalah saat yang penuh refleksi, saat jiwa benar-benar merasakan kedekatan dengan Allah.

Payung teduh Masjid Nabawi tetap hidup dalam kenangan jamaah Mitra Umroh. Saat melihat foto-foto Masjid Nabawi yang ada di WA Group jamaah Mitra Umroh 9 Agustus, hati ini langsung rindu.

Payung teduh Masjid Nabawi bukan hanya karya teknologi modern. Ia adalah simbol kasih sayang Allah yang menaungi hamba-hamba-Nya. Di bawah payung itu, jamaah merasakan kedamaian, persaudaraan, dan kerinduan yang tak pernah selesai.

Di bawah payung teduh Masjid Nabawi itu kami jamaah Mitra Umroh mengukir kenangan.

Ibu-ibu Jamaah Mitra Umroh berfoto di bawah payung Masjid Nabawi. Sumber foto: Mitra Umroh.

Kini, setelah kembali ke tanah air, kami merindukan momen itu. Rindu duduk bersama di pelataran Nabawi, rindu membaca doa di bawah payung putih yang megah, dan rindu merasakan ketenangan yang menyelimuti jiwa.

Madinah akan selalu menjadi kota rindu. Dan payung teduh Nabawi akan selamanya menjadi simbol teduhnya cinta Allah bagi umat-Nya. (*)

(bersambung,……….)