IBU, .....

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Sugeng Winarno *

Pagi ini saya mendapat kiriman sebuah video berdurasi 01 menit 53 detik melalui salah satu WhatsApp Group (WAG) yang saya ikuti. Video pendek itu berisi visual dan Voice Over (VO) tentang bagaimana seorang yang suka berbohong namun ganjarannya adalah surga. Bagaimana bisa, orang berbohong kok justru mendapat surga? Berbohongnya siapakah itu? Seperti yang disampaikan dalam video itu, itulah berbohongnya seorang ibu.
Dinarasikan dalam Bahasa Jawa yang artinya bagaimana seorang ibu berbohong bahwa dia tak merasa capek padahal telah bekerja keras seharian demi anak-anaknya. Bila ada rezeki buat beli makanan dan meminta anak-anaknya makan sementara dia sendiri mengaku tidak suka makanan enak. Alasan ini tentu demi menyenangkan anaknya. Seorang ibu juga harus berbohong dengan mengatakan tak mengantuk demi menjaga anaknya yang sedang sakit hingga larut malam.
Dan ketika sang anak sudah bekerja, mau memberi uang padanya, sang ibu meminta agar uangnya disimpan anaknya saja untuk tabungan. Beberapa kebohongan yang dilakukan sang ibu tak lain hanyalah karena keiklasannya demi anaknya. Begitu mulianya sang ibu.
Menyimak video kiriman teman saya itu, saya jadi teringat lagunya Iwan Fals yang berjudul “Ibu”. Iwan Fals menggambarkan perjuangan seorang ibu dengan sangat menyentuh lewat lirik lagunya. Bagaimana seorang ibu harus terus berjuang, menempuh ribuan kilometer jalan kehidupan yang harus hadapi demi sang anak. Kasih seorang ibu begitu iklas. “Seperti udara kasih yang engkau berikan. Tak mampu kumembalas, Ibu.” Demikian penggalan lirik lagu “Ibu” oleh Iwan Fals.
Lain Iwan Fals, lain pula penyanyi dan pencipta lagu Melly Goeslaw. Melly mencipta lagu bertajuk “Bunda” yang melukiskan bagaimana kasih sayang, perjuangan, dan pengorbanan yang diberikan seorang ibu kepada anaknya mulai kecil hingga lanjut usia.
Raja Dangdut Rhoma Irama juga dengan menyentuh melukiskan sosok ibu lewat lagu “Keramat”. Bang Haji mengingatkan kepada semua manusia bahwa ”Darah dagingmu dari air susunya. Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya. Dialah manusia satu-satunya. Yang menyayangimu tanpa ada batasnya”. Melalui “Keramat” Rhoma juga mengingatkan bahwa “Doa ibumu dikabulkan Tuhan. Dan kutukannya jadi kenyataan. Ridho Ilahi karena ridhonya. Murka Ilahi karena murkanya”.
Masih banyak lagi lagu yang melukiskan bagaimana tentang sosok ibu. Sejak kecil saya juga masih teringat selalu menyanyikan lagu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”.
Tanggal 22 Desember selalu diperingati sebagai Hari Ibu. Momentum ini digunakan banyak orang untuk mengenang jasa dan perjuangan seorang ibu. Momentum Hari Ibu pada 22 Desember kali ini bermunculan aneka ucapan, kata-kata bijak, aneka grafis, meme, kartun, dan beragam narasi tentang Hari Ibu. Sejumlah media massa juga mengemas acara spesial pada Hari Ibu ini. Televisi menggelar aneka show; mulai talk show hingga variety show. Ada musik, pembacaan puisi, nyanyi-nyanyi, juga komedi. Beberapa media radio juga menggelar aneka perbincangan dan beragam kuis tentang Hari Ibu. Media cetak juga mengadakan berbagai lomba, mulai dari membuat tulisan, baca puisi, hingga video kreatif tentang ibu.
Tak jarang media massa yang menjadikan momentum Hari Ibu sebagai komoditas belaka. Hari Ibu telah dikomodifikasi menjadi barang dagangan media yang menarik untuk dijual kepada pemirsa. Acara peringatan Hari Ibu dibalut dengan aneka iklan beragam produk konsumtif untuk para wanita. Tak jarang beberapa produk mendesain iklan produknya dengan memanfaatkan momentum Hari Ibu ini. Inilah industri, Hari Ibu pun telah dikomodifikasi dan dikapitalisasi.
Peringatan Hari Ibu ini juga dipenuhi dengan beragam narasi tentang sang ibu. Melalui laman-laman online, beragam platform medsos, aneka narasi bertema Hari Ibu beredar viral. Ya,….Hari Ibu memang telah terus bermetamorfosis, mengikuti zaman dan perkembangan teknologi. Bahkan Hari Ibu itupun kini telah menjadi “Mothers Day” mengikuti Bahasa orang-orang sono yang dinilai lebih keren dan beken.
Setelah aneka rupa peringatan dilakukan, lantas apa yang membekas? Adakah yang berubah setelah kita mengenang sosok sang ibu? Dari waktu ke waktu peringatan Hari Ibu selalu diisi hanya dengan berkirim ucapan, video call, atau berkirim kado. Demikian rutinitas jamak yang terus berulang dari tahun ke tahun.
Mari kita renungkan, banyak ibu-ibu di kampung-kampung yang terpisah dengan anaknya karena anaknya lebih memilih tinggal di kota. Tak jarang hidup sang ibu harus menyepi, terpisah dari kebersamaan dengan keluarga besarnya.
Tak semua ibu beruntung dan punya kesempatan bisa kumpul bersama anak cucunya di hari tuanya. Bahkan tak jarang seorang ibu yang selain terpisah dari anak-anaknya juga harus menempati panti-panti jompo yang tak bisa setiap saat ditemui anak keturunannya.
Apalagi saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Ketika perjumpaan secara fisik banyak dihindari, obat rindu dan kangen pada ibu paling hanya tersampaikan lewat video call atau sekedar telepon suara.
Hari ini, saat peringatan Hari Ibu, ibu banyak diingat, dikenang, dan dikagumi keberadaannya. Tetapi bagaimana setelah tanggal 22 Desember? Masihkan sosok ibu selalu dibenak anak-anaknya di tanggal 23, 24, 25, dan seterusnya?
Ibu memang sosok yang mulia. Begitu mulianya seorang ibu, sampai pesan-pesan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 juga harus dilewatkan ibu. “Ingat pesan ibu untuk selalu menerapkan 3M”, begitu kata himbauan untuk disiplin pada protokol kesehatan yang banyak diputar di televisi, radio dan beredar di medsos.
Kasih ibu memang tak terbeli. Kasih ibu sepanjang massa, kasih anak sepanjang gala.
Itulah sosok ibu. Siapapun sang anak, menjadi orang yang hebat dan sukses, pasti tak lepas dari sentuhan kasih sayang ibu. Ketulusan, kasih sayang, dan keiklasan ibu terus mengalir sepanjang masa.
Selamat Hari Ibu. Ibumu, ibumu, ibumu, bapakmu. (*)
*) Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang
