Konten Media Partner

Ojek Kenang Masa Kejayaan Wisata Pijat Alat Vital Mak Erot di Sukabumi

Sukabumi Updateverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Plang petunjuk arah ke klinik alm Hj Mak Erot di simpang tiga Kampung Cigadog Cisolok Sukabumi | Sumber Foto:NANDI.
zoom-in-whitePerbesar
Plang petunjuk arah ke klinik alm Hj Mak Erot di simpang tiga Kampung Cigadog Cisolok Sukabumi | Sumber Foto:NANDI.

SUKABUMIUPDATE.com - Pernyataan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menjadikan pijat alat vital Mak Erot di Cisolok, Kabupaten Sukabumi sebagai wisata kesehatan disambut antusias keluarga dan masyarakat sekitar. Terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup dari jasa pijat pada masa keemasannya terkenal ke mancanegara.

Jaka Suharman (37 tahun), warga Desa Caringin Kecamatan Cisolok adalah satu dari banyak warga yang pernah merasakan mudahnya mencari uang saat masa kejayaan wisata Mak Erot. Sejak lulius dari sekolah teknik menengah tahun 2000, Jaka memutuska untuk jadi tukang ojek, karena merupakan ladang usaha yang sangat menggiurkan saat itu.

Ia mangkal di simpang tiga menuju Kampung Cigadog atau rumah Mak Erot. Lokasi mangkal ini masih berjarak dua kilometer menuju klinik pijat Mak Erot dan akses terakhir bagi kendaraan roda empat.

“Saat itu jalannya menanjak naek gunung dan rusak. Semua pasien Mak Erot kami yang mengantar. Ada puluhan mungkin ratusan ojek yang diatur oleh petugas biar rezekinya merata tidak saling rebut penumpang,” jelasnya kepada sukabumiupdate.com, Senin (25/11/2019).

"Dulu kalau sedang ramai banyak pengunjung dengan tujuan Hj Mak Erot, tukang Ojek disini bisa mendapat penghasilan Rp 200 -300 ribu perhari dengan upah sekali mengantarkan pasien Rp50 ribu," tandasnya.

Dengan kenangan indah ini, Jaka tentu sangat mendukung jika para penerus pengobatan pijak Mak Erot yag saat ini masih berada di Kampung Cigadog bisa kembali menyedot banyak pasien. "Alhamdulillah kalau rencana itu bener terealisasi, kampung ini bisa jadi ramai kembali, akses infrastrutur jalan yang tadinya jelek mungkin bisa bagus, akses kebutuhan air juga bisa lancar karena selama ini agak susah air kalau musim kemarau," jelasnya.

Sejak Mak Erot meninggal tahun 2008 silam, Jaka mengakui jika tingkat kunjunga ke Kampung Cigadog yang hampir tak mengenak hari libur atau bukan selalu ramai, langsung sepi. Walaupun saat ini ada yang masih berkunjung untuk berobat ke cucu cucu Mak Erot, menurut Jaka sudah jauh berkurang.

Harapan juga diungkapkan Hamidah (35 tahun), warga yang tinggal deka simpang tiga menuju Kampung Cigadog. Hamidah merasakan bagaiman lakunya semua dagangan di warung milik keluarganya saat pasien-pasien Mak Erot berdatangan.

“Kalau sudah ramai tidak siang tidak malam, dari subuh kadang pengunjung yang menunggu giliran berobat sudah jajan kesini, sebagai penjual makanan itu suatu berkah,” singkatnya.