Saminem Berdagang Cilok demi Menyekolahkan Anak dan Mengobati Suami

www.sukabumiupdate.com
Konten dari Pengguna
20 Maret 2019 20:34
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Sukabumi Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Potret Saminem, wanita tangguh asal Kampung Cikukulu 2, RT 07/RW 02, Desa Cisande, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, sedang berjualan cilok kelilling kampung. | Foto: Ruslan AG
zoom-in-whitePerbesar
Potret Saminem, wanita tangguh asal Kampung Cikukulu 2, RT 07/RW 02, Desa Cisande, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, sedang berjualan cilok kelilling kampung. | Foto: Ruslan AG
ADVERTISEMENT
SUKABUMIUPDATE.com - Saminem (50), ibu rumah tangga asal Kampung Cikukulu 2, RT 07/RW 02, Desa Cisande, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, bisa dibilang wanita tangguh. Meski tubuhnya kurus, hampir setiap hari Saminem masih berjualan cilok keliling kampung dengan cara dipikul.
ADVERTISEMENT
Hal itu dilakukannya lantaran sang suami, Lili Suhaeli (69), mengalami sakit stroke sejak beberapa tahun terakhir. Sejak saat itu pula, ibu dua anak itu mengambil alih posisi sebagai tulang punggung keluarga.
Potret Saminem bersama keluarga. Foto: Sukabumi Update
zoom-in-whitePerbesar
Potret Saminem bersama keluarga. Foto: Sukabumi Update
"Jualan sudah enam tahun. Bawa tanggungan beratnya ada 30 kilogram lah. Jualan kadang dua sampai tiga kilometer," kata Saminem kepada sukabumiupdate.com, sambil melayani pembeli, Rabu (20/3).
Cilok yang dijual Saminem adalah hasil olahan sendiri. Aktivitas Saminem dimulai dari pukul 5.00 WIB. Ia pergi ke pasar untuk berbelanja bahan baku cilok. Sepulang dari pasar, ia langsung membuat adonan Cilok. Sore hari, baru Saminem berkeliling untuk menjajakan jualannya di sekitar kampung dan perumahan yang tak jauh dari rumahnya.
Potret Saminem sedang melayani pelanggan cilik. Foto: Sukabumi Update
zoom-in-whitePerbesar
Potret Saminem sedang melayani pelanggan cilik. Foto: Sukabumi Update
"Sekali bawa cilok paling 200 biji. Kadang-kadang dapat Rp 100 ribu lebih, kadang Rp 70 ribu, kadang-kadang Rp 50 ribu. Harapan saya cuma ingin menghidupi keluarga, terus kedua anak saya bisa tetap sekolah," pungkas Saminem.
ADVERTISEMENT
---
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·