Sudirman Abu, Lulusan SD yang Jadi Eksportir Briket Tempurung Kelapa ke 3 Negara

Briket dari tempurung kelapa kini menjadi salah satu komoditas ekspor di Sulawesi Barat. Tiga negara tujuan ekspor saat ini yaitu Yordania, Arab Saudi, dan Mesir.
Briket dari tempurung kelapa ini dikembangkan Sudirman Abu, pemuda asal Desa Parappe, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat.
Menurut Sudirman, usaha briket tersebut sebagai bahan untuk rokok shisa. Dalam sehari, Sudirman yang hanya lulusan SD dan kini mempekerjakan 217 karyawan mampu memproduksi empat ton per hari.
"Produksi pabrik kami bisa mencapai 10 ton per hari, namun dikarenakan beberapa kendala, termasuk peralatan oven yang masih kurang, maka per harinya hanya mampu memproduksi empat ton saja," kata Sudirman, Rabu (24/3).
Menurut dia, selain Mesir, Yordania, dan Arab Saudi, Dubai dan Turki juga melakukan permintaan briket tempurung kelapa tersebut. Namun, karena kapasitas pabrik kecil sehingga belum bisa memenuhi permintaan di dua negara tersebut.
"Kalau kita sudah tambah oven sekitar tujuh unit, maka kita sudah bisa memproduksi 10 ton per harinya dan satu bulannya bisa mencapai 300 ton. Dan kendala kami ada pada peralatan oven yang sudah full, ini yang kami harapkan adanya bantuan dari pemerintah sehingga bisa lebih berkembang," ujarnya.
Adapun bahan bakar pembuatan briket tersebut berasal dari kayu limbah yang sudah tidak terpakai ditambah dengan sabuk kelapa.
Gubernur Sulawesi Barat, Ali Baal Masdar, yang mengunjungi lokasi pabrik briket tempurung kelapa di Dusun Pajjalungan, Desa Parappe, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar menyatakan kebanggaannya.
Menurut dia, Sulbar memiliki pabrik briket yang mampu mengolah limbah dari tempurung kelapa menjadi produk yang sangat dibutuhkan di luar negeri. Salah satunya untuk komponen rokok sisha dan bahan pembakaran untuk memanggang makanan.
"Usaha yang bergerak sejak 2017 ini harus terus dibina dan dikembangkan, apalagi di tengah pandemi COVID-19 yang berdampak turunnya perekonomian di berbagai daerah. Dengan adanya pabrik briket pengolahan tempurung kelapa ini, diharapkan mampu mengangkat perekonomian Sulbar untuk lebih maju, begitu juga dari segi serapan tenaga kerja sehingga jumlah pengangguran dan kemiskinan dapat berkurang. Inilah yang harus terus kita dorong dan bina," kata Ali Baal.
Dia mengimbau kepada pelaku UMKM agar kegiatan ekspor hasil produksi dari pabrik tersebut segera dijemput dan dimaksimalkan sesegera mungkin sebelum daerah lain melakukan hal yang sama.
"Kita harus pandai mencari. Adapun kendala-kendala yang dialami oleh pabrik briket itu, semoga secepatnya ada bantuan dari pemerintah pusat sehingga bisa lebih maksimal," sebutnya.
