Konten dari Pengguna

6 Bulan Diego Simeone Melatih di Serie A: Singkat, tetapi Bermakna

Supersoccer

Supersoccerverified-green

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Supersoccer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diego Simeone di laga Atletico Madrid vs Athletic Bilbao. Foto: REUTERS/Susana Vera
zoom-in-whitePerbesar
Diego Simeone di laga Atletico Madrid vs Athletic Bilbao. Foto: REUTERS/Susana Vera

Jangan tahu Diego Simeone sebagai pelatih yang sukses memberi banyak trofi untuk Atletico Madrid saja. Faktanya, pada tahun 2011, dia pernah mengukir cerita di Serie A. Begini ceritanya.

***

Marco Giampaolo cuma mampu memimpin Catania besutannya bermain imbang 1-1 dalam laga kandang kontra Chievo Verona pada 16 Januari 2011. Per Transfermarkt, hasil itu membuat posisi Gli Elefanti di klasemen merosot ke peringkat 15.

Sungguh tidak bagus. Sebab, poin mereka hanya berjarak tiga poin dengan Lecce yang berada di bagian teratas zona degradasi.

Manajemen tak tahan dan akhirnya memutus kontrak pelatih asal Italia itu pada tiga hari setelah laga yang berlangsung di Stadio Angelo Massimino itu. Beberapa jam setelahnya, Catania menunjuk Diego Simeone sebagai calon penyelamat mereka.

embed from external kumparan

Meski begitu, Simeone yang dulu bukanlah yang sekarang. Reputasinya enggak begitu bagus, alih-alih punya citra pelatih kawakan.

Iya, sih, pelatih asal Argentina itu pernah memberi trofi Torneo Apertura 2006 untuk Estudiantes La Plata dan Torneo Clausura 2008 untuk River Plate. Namun, pada 2010, dia dihujani kritikan saat melatih San Lorenzo.

Diego Simeone. Foto: AFP/MARCELLO PATERNOSTRO

Simeone pun melepas jabatannya di klub asal Buenos Aires tersebut. Beberapa bulan menganggur, lalu akhirnya panggilan kerja dari Catania itu datang. Pengalaman pertamanya melatih di Eropa sekaligus kesempatan memperbaiki reputasinya.

Akan tetapi, karena Catania bukan klub besar laiknya klub-klub Argentina yang pernah dilatihnya, maka tugas utama Simeone bukanlah memberi trofi, melainkan memastikan klub asal Sisilia itu lepas dari jerat degradasi.

Logo Calcio Catania. Foto: Twitter/@Catania

"Sejak Simeone tiba, dia memiliki kepribadian yang diperlukan untuk mengelola kelompok yang penuh dengan orang Italia dan Argentina," ujar Ezequiel Carboni kepada Goal International.

Pemilik nama di atas adalah eks gelandang bertahan Catania (2008-2011). Benar yang dikatakannya, skuat Catania 2010/11 didominasi orang Italia dan Argentina, plus ada sedikit pemain dari negara lain. Carboni sendiri lahir di Buenos Aires.

Ezequiel Carboni berjersi Catania (kiri). Foto: AFP/GIUSEPPE CACACE

"Aku ingat hari pertama Simeone. Dia berbicara kepadaku dalam Bahasa Italia. Aku bilang, 'Pelatih, aku adalah orang Argentina juga seperti kamu!'" ujar Adrian Ricchiuti, eks gelandang serang Catania (2009-2013).

Apakah Simeone sudah 'meledak-ledak' sejak dahulu? Well, kalau dari penuturan Ricchiuti, sih, kayaknya jawabannya adalah iya.

"Setiap dari kami siap untuk melemparkan diri ke dalam api untuknya," kata pria kelahiran Lanus itu.

Adrian Ricchiuti berjersi Catania. Foto: AFP/MARCELLO PATERNOSTRO

Apakah segalanya berjalan mulus usai Simeone datang? Oh, jelas tidak. Dua laga pertama Catania di bawah arahan eks gelandang Inter Milan itu berakhir dengan kekalahan. Laga ketiganya juga cuma berakhir imbang.

Apakah di laga keempat semuanya membaik? Enggak juga, Bos. Mereka kalah lagi. Catania kian merosot ke peringkat 17, cuma berselisih satu poin dengan Brescia yang tepat satu strip di bawah mereka. Kritis.

Namun akhirnya, kemenangan itu datang juga. Maxi Lopez dan kolega mati-matian menang 3-2 saat menjamu Lecce di hadapan pendukung sendiri pada 13 Februari 2011. Matias Silvestre mencetak satu gol, sisanya diborong Francesco Lodi.

Singkat cerita, klub yang juga dijuluki Gli Etnei itu selamat dari jurang degradasi. Simeone membimbing mereka untuk finis di peringkat 13.

Diego Simeone memberi instruksi pada para pemain Atletico Madrid dalam laga menghadapi Juventus. Foto: AFP/Pierre-Philippe Marcou

Mark Doyle dalam tulisannya untuk Goal International menyebut bahwa Simeone terbiasa memakai formasi dasar 4-3-3 yang berkembang menjadi 4-2-3-1. Formasi inilah yang membuat seorang Papu Gomez bisa bermain melebar.

Ya, pemain Argentina yang kini menjadi kapten Atalanta itu juga bagian dari skuat Catania asuhan Simeone, lho. Dia mengaku banyak belajar darinya.

"Simeone banyak mengajariku. Di Catania, dia membuatku bermain melebar, meskipun aku lambat untuk mundur," kata pemain yang pada waktu itu masih berusia 22 tahun.

"Aku dulu memberi tahunya bahwa itu akan membuatku sulit bertahan, tetapi dia mengatakan kepadaku bahwa di Eropa tidak seperti di Argentina, aku hanya akan bisa bermain dalam peran itu. Dia benar," lanjutnya.

Bandiera Atalanta, Alejandro 'Papu' Gomez. Foto: AFP/Miguel Medina

Namun, itu saja jasa Simeone untuk Catania --yang kini berkompetisi di Serie C. Per 1 Juni 2011, dia meninggalkan Sisilia dan kembali melatih di Argentina. Kehadirannya di Serie A singkat, tetapi bermakna.

Apakah dia bakal kembali melatih di Italia suatu hari nanti? Bisa jadi, karena pelatih 50 tahun itu pernah bilang ingin melatih Inter dan Lazio. Itu adalah dua klub yang pernah dibelanya semasa dirinya masih aktif menjadi pemain.

Editor: Katondio Bayumitra Wedya

---

Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi 1 unit SmartTV dan 2 Jersi Original klub Liga Inggris. Buruan daftar di sini.

collection embed figure