Kumparan Logo
A23 Derby
A23 Derby.

Derbi A23: Perseteruan yang Dipicu Secangkir Kopi

Supersoccer

Supersoccerverified-green

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

comment
49
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
A23 Derby. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
A23 Derby. Foto: Shutter Stock

Kata 'Derbi' kerap diidentikkan dengan duel antara dua tim yang berada di kota yang sama atau wilayah yang sama secara lebih luas. Bisa juga digunakan untuk duel antara dua tim dengan rivalitas yang sudah mengakar mendalam, meski markas mereka tidak sewilayah.

Untuk tipe derbi yang disebut terakhir, mungkin pas banget menggambarkan rivalitas antara dua klub Premier League, Crystal Palace dan Brighton and Hove Albion. Ya, dua klub medioker Premier League ini punya sejarah rivalitas mereka sendiri.

Padahal, markas mereka tidak saling berdekatan, bahkan tidak berada di kota atau wilayah yang sama. Kandang Brighton, The Amex, itu ada di East Sussex, sedangkan markas Palace, Selhurst Park, itu terletak di London Selatan, tepatnya Croydon.

American Express Community Stadium. Foto: Wikimedia Commons
Selhurst Park. Foto: Wikimedia Commons

Lantas, bagaimana awal munculnya benih-benih dendam di kalangan suporter mereka?

Jadi, begini ceritanya. Semua berawal dari tragedi putaran pertama Piala FA musim 1976/77.

Tapi, sebelum lanjut, kalian harus tahu dulu, nih, bahwa Brighton pada masa itu dilatih oleh Alan Mullery, sedangkan Palace dibesut oleh Terry Venables. Dua sosok ini dulu pernah bekerja sama sebagai pemain Tottenham Hotspur.

X post embed

Nah, musim 1976/77 itu adalah musim perdana keduanya menjadi pelatih. Ndilalah, takdir mempertemukan mereka di Piala FA.

Kondisinya begini. Pertemuan pertama berlangsung di kandang Brighton --saat itu masih di Goldstone Ground-- pada 20 November 1976, skornya imbang 2-2.

Goldstone Ground. Foto: Steve Daniels/Wikimedia Commons

Alhasil, dilakukanlah tanding ulang pada 23 November 1976. Palace gantian berlaku sebagai tuan rumah. Skor akhirnya 1-1.

Karena pemenang belum didapatkan, kembali dilakukan tanding ulang pada 6 Desember 1976 di Stamford Bridge. Singkat cerita, dalam laga itu, Palace menang 1-0 berkat gol Phil Holder pada menit 18. Mereka melaju ke babak selanjutnya.

Namun, dari kondisi di atas saja, kita mestinya sudah bisa membayangkan betapa panasnya tensi pertandingan. Dan benar saja, dalam laga yang dilangsungkan di kandang Chelsea itu, terjadi sejumlah kontroversi.

Wasit Ron Challis yang bertindak sebagai pengadil di lapangan membikin keputusan yang dinilai merugikan Brighton. Salah satunya adalah penalti yang diulang.

Awalnya, pemain Brighton, Brian Horton, sukses mengeksekusi penalti pada menit 78 itu. Namun, karena ada indikasi pemain lapangan membuat gangguan, Challis merasa penalti harus diulang.

Sialnya, tendangan kedua Horton mampu digagalkan oleh kiper Palace, Paul Hammond. Skuat asuhan Venables pun akhirnya tetap unggul 1-0 hingga akhir laga.

kumparan post embed

Keputusan yang dinilai kontroversial itu memicu reaksi berlebihan dari Mullery. Usai laga, dia berusaha mendekati wasit untuk memprotes.

Saat sedang berjalan menyusuri lorong menuju ruang ganti, Mullery tiba-tiba dilempar kopi panas. Dia mengklaim lemparan tersebut berasal dari arah suporter Palace.

Mullery merespons lemparan kopi itu dengan penuh emosi. Dia mengeluarkan uang receh dari sakunya dan melemparkannya ke tanah, sambil berteriak, “Kalian tidak layak [menang], Palace!”, bersumpah serapah, dan mengeluarkan gestur 'V-Sign' ke arah suporter Palace.

Asal tahu saja, 'V-Sign' adalah salah satu gestur paling sensitif di Inggris, selain gestur jari tengah. Alhasil, eks gelandang Inggris itu didenda 100 poundsterling dan mendapat reputasi buruk seumur hidup di London Selatan.

Masalahnya, dampak dari keributan itu adalah penggemar kedua kubu juga jadi saling benci. Gilanya, masih berlangsung hingga era kiwari. Bayangkan, rivalitas itu diawali oleh lemparan secangkir kopi.

Katanya, kopi itu minuman penenang jiwa. Dalam kasus Derbi A23, kopi adalah awal mala petaka. Foto: Pixabay

Oh, ya, lalu kenapa namanya Derbi A23?

Sebab, perjalanan dari Brighton atau Hove menuju London Selatan harus melewati A23 Road. Jalan itu langsung menghubungkan Brighton dengan Croydon. Maka dari itu, nama derbinya 'Derbi A23'.

Ada nama lain untuk derbi ini, yakni 'Derbi M23', karena ada jalan lain yang menghubungkan dua kota tersebut, M23 Motorway namanya. Namun, jalan itu tidak langsung menghubungkan keduanya, kalau mau langsung via A23 Road.

Pada Selasa (17/12/2019) dini hari WIB, Palace bakal menjamu Brighton di Selhurst Park. Siapa yang bakal unggul di pekan ke-17 Premier League 2019/20? Kita lihat saja.

Editor: Katondio Bayumitra Wedya

----

Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.

collection embed figure