Emil Forsberg, RB Leipzig, dan Status Klub Paling Dibenci di Jerman

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
Tulisan dari Supersoccer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

RB Leipzig dicap sebagai klub perusak tradisi. Antek kapitalis. Otak materialistis. Atau sebutan lain yang berhubungan dengan duit, duit, dan duit.
Mereka dianggap merusak tatanan sepak bola, khususnya di Jerman, karena 'menumpahkan' aspek bisnis yang dinilai keterlaluan. Satu contoh: Kalau mau menjadi suporter RB Leipzig, orang perlu membayar 1.000 euro per tahun.
Selain itu, dengan kekuatan finansial yang mereka miliki, klub berjuluk Die Rotten Bullen ini mampu melesatkan prestasi mereka bak roket. Jalur instan? Ada benarnya.
Pada musim 2009/10, mereka masih berkompetisi di liga level lima sepak bola Jerman. Sekonyong-konyong, klub yang baru didirikan pada 19 Mei 2009 itu sudah menjejakkan kaki di Bundesliga pada musim 2016/17. Bukan sulap, bukan sihir.
Tak pelak, kebencian terhadap Leipzig merebak. Suporter mereka pernah diserang suporter Borussia Dortmund di stasiun kereta, hingga tim mereka pernah dilempari kepala banteng oleh suporter Dynamo Dresden.
Salah satu suporter klub yang paling keras menyuarakan kebencian terhadap Leipzig adalah Union Berlin. Well, dua klub ini boleh jadi sama-sama punya 'darah' Jerman Timur. Akan tetapi, suporter Union menolak damai.
Salah satu aksi paling populer suporter Union adalah mengheningkan cipta selama 15 menit sebagai bentuk protes terhadap eksistensi Leipzig itu sendiri.
Aksi itu dihelat saat laga Bundesliga perdana Union pada 18 Agustus 2019. Kebetulan, tamu yang dihadapi Die Eisernen adalah Leipzig.
Lantas, bagaimana dengan para pemain Leipzig sendiri? Bagaimana rasanya menjadi pemain dari klub yang paling dibenci di tanah Jerman?
Emil Forsberg buka suara. Kepada The Guardian, pemain yang bergabung dengan Leipzig pada Januari 2015 itu bercerita soal pengalaman pertamanya turun laga membela Leipzig.
Kala itu, Leipzig menggelar laga persahabatan tandang kontra Erzgebirge, sebuah klub 2. Bundesliga yang bermarkas di Aue, sebuah kota pegunungan kecil di dekat perbatasan dengan Republik Ceko. Dalam debut Forsberg itu, Leipzig kalah 2-0.
Namun, kalaupun hari itu Forsberg merasa sedih, maka tampaknya kesedihan itu bukan hadir karena hasil akhir yang mengecewakan. Akan tetapi, kesedihan itu muncul karena sikap suporter tuan rumah yang tidak bersahabat, meski tajuknya adalah 'laga persahabatan'.
Mereka melempari skuat Leipzig dengan bola salju, sampai-sampai para pemain harus berlari ke terowongan. Di tribune, ada dua spanduk yang isinya membandingkan Leipzig dengan Nazi. Bukan pengalaman musim dingin yang indah bagi Forsberg.
"Kejadian itu mungkin membuat saya menjadi sedikit lebih sadar bahwa klub ini dibenci di Jerman," kata Forsberg.
"Beberapa orang menyukainya, beberapa orang tidak, tetapi apa yang bisa kami lakukan? Kami di sini, kami menikmatinya (bermain sepak bola dan membela RB Leipzig), kami tidak mencoba dan menginjak kaki siapa pun," sambungnya.
Well, itu adalah konsekuensi yang harus diterima jika bergabung dengan klub seperti Leipzig. Sejauh ini, Leipzig belum memenangi trofi bergengsi apa pun.
Entah bagaimana jadinya jika nanti mereka mampu juara Bundesliga, mengingat skuat asuhan Julian Nagelsmann adalah kandidat juara musim ini. Entah bakal seperti apa reaksi suporter tim lain.
Editor: Katondio Bayumitra Wedya
---
Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini.
Bagi yang mau nonton langsung siaran Liga Inggris, bisa ke Mola TV; dan bagi yang ingin merasakan kemeriahan Nobar Supersoccer, bisa cek list schedule-nya di SSCornerID. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.
