Gianluigi Buffon dan Sentilan untuk Para Orang Tua

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
Tulisan dari Supersoccer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada 18 Desember 2019, Gianluigi Buffon telah resmi menyamai rekor Paolo Maldini untuk urusan jumlah penampilan di Serie A, yakni 647 laga. Itu terjadi ketika kiper 41 tahun itu turun laga membela Juventus di laga kontra Sampdoria.
"Itu (menyamai rekor Maldini) kepuasan yang membuat saya bangga, sangat bangga. Hidup terbuat dari pengorbanan dan keringat, tetapi juga hal-hal yang indah dan tidak penting,” kata Buffon kepada Calciomercato.com.
Artinya, Buffon hanya perlu sekali lagi turun laga untuk melampaui rekor sang legenda AC Milan sebagai pemain dengan jumlah penampilan terbanyak di kompetisi liga level teratas Italia itu. Sepintas, tak salahlah mungkin jika dirinya layak disebut sebagai panutan.
Eh... Eh... Tunggu dulu. Itu mungkin menurut kita. Namun, Buffon sendiri tak mau dirinya disebut sebagai panutan, terlepas dari rekor yang telah dicapainya.
Kenapa sosok yang mengawali debutnya di Serie A bersama Parma pada 1995 itu enggan menjadi panutan? Di saat banyak orang tak tahu malu mengaku dirinya sebagai panutan, atau bahkan juru perdamaian dunia, Buffon yang hebat itu memilih rendah hati.
"Saya tidak ingin menjadi panutan untuk anak-anak dan orang dewasa, itu bukan aspirasi saya. Saya tidak merasa perlu untuk mendidik siapa pun. Banyak yang ingin mengambil tanggung jawab itu, tetapi pendidikan seorang anak tergantung pada orang tua," ujarnya.
Entah apa maksud kiper kelahiran Tuscany itu berkata demikian. 'Pendidikan seorang anak tergantung pada orang tua' tidakkah kalian merasa itu adalah kalimat yang menarik dan menggelitik.
Seolah, ada sentilan yang ditujukan kepada orang tua zaman now. Mereka yang hanya menyerahkan pendidikan anak pada gawai semata. Mereka yang membiarkan diri mereka tidak bisa menjadi panutan bagi anaknya sendiri.
Bagus jika sang anak bisa menjadikan sosok seperti Buffon, Maldini, atau pesepak bola lainnya sebagai panutan. Bagaimana ceritanya jika si anak mengambil sosok panutan lain yang malah mungkin menjauhkan dia dari nilai-nilai positif?
Mungkin si anak bisa terjerumus narkoba, jadi begal, atau hal buruk lainnya karena salah pilih idola. Itu bisa saja terjadi jika orang tua lebih sering memomong gawainya, ketimbang anaknya sendiri.
Oke, mungkin kita merasa tak cukup baik menjadi orang tua yang bisa diidolai oleh anak sendiri karena kita cuma 'orang biasa'. Namun setidaknya, orang tua bisa mengarahkan anaknya bahwa 'Ini, lho, sosok yang layak kamu idolai, sementara yang itu bukan'.
"Saya bisa menjadi bahan perbincangan, jika sebuah keluarga yang sedang berkumpul melihat Buffon membuat 700 penampilan di Serie A, sang ayah bisa bilang, 'Lihat Buffon, saya mungkin tak mengenalnya, tetapi dia pribadi yang tahan penderitaan pada waktu-waktu tertentu, kemampuan, dan kerendahan hati untuk meningkat'," jelas Buffon.
"Saya ingin menjadi panutan untuk anak-anak saya, tetapi saya tidak ingin menekan mereka," pungkasnya.
Tetaplah menginspirasi kami, Gianluigi Buffon. Ditunggu prestasi selanjutnya.
Editor: Katondio Bayumitra Wedya
---
Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.
