Kevin Keegan

Kevin Keegan: Cinta dan Kecewa yang Bercampur Baur di Newcastle United

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
19 November 2019 14:45
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Kevin Keegan saat melatih Newcastle United. Foto: AFP/PAUL BARKER
zoom-in-whitePerbesar
Kevin Keegan saat melatih Newcastle United. Foto: AFP/PAUL BARKER
ADVERTISEMENT
Kevin Keegan boleh saja merengkuh sukses bersama Liverpool dan Hamburger SV. Meski begitu, pria kelahiran 14 Februari 1951 itu punya tempat tersendiri di hati fans dan mereka yang pernah membela Newcastle United.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 1982, pencinta sepak bola Inggris terkejut saat Keegan memutuskan untuk menjadi pemain Newcastle United. Pasalnya, saat itu The Toons berlaga di Football League Second Division --kompetisi level kedua Inggris.
Apa itu tanda bahwa pria yang mengoleksi enam gelar domestik dan tiga gelar Eropa bersama The Reds ini sudah 'habis'? Sebenarnya, sih, enggak.
Sebab, pertama, usianya saat itu kira-kira masih 31 tahun, belum tua-tua amat untuk ukuran seorang penyerang. Kedua, pada musim sebelumnya, Keegan bisa mencetak 26 gol dari 41 laga bersama Southampton di First Division --kompetisi level teratas Inggris.
So, Keegan berarti bisa dibilang masih 'kuat' untuk bermain di level tertinggi. Dia masih produktif di depan gawang lawan.
ADVERTISEMENT
Lantas, kenapa mau Newcastle United?
Pertama, pria kelahiran Doncaster ini merasa Southampton tidak bisa memenuhi ambisi sepak bolanya. Kedua, ada hubungannya dengan ayah Keegan sendiri.
Dalam buku otobiografinya yang berjudul 'Keegan, Kevin. My Life in Football: The Autobiography', dia bilang bahwa ayahnya kerap menceritakan kepadanya ihwal legenda Newcastle United, yakni Jackie Milburn dan Hughie Gallagher.
Sang ayah juga memimpikan Keegan suatu saat bermain untuk Newcastle United. Dan akhirnya, benar kejadian. Dirinya pun disambut meriah di St. James' Park. Para penggemar dan suporter antusias menyambutnya menjadi bagian dari klub yang sudah berdiri sejak 1892 itu.
Tak pelak, atmosfer itu membikin Keegan serasa berada di rumah. Dia menemukan kenyamanan.
Logo Newcastle United. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Logo Newcastle United. Foto: Shutter Stock
Pada laga debutnya melawan Queens Park Rangers, Keegan langsung mencetak gol pertamanya. Setelah mencetak gol, Keegan berselebrasi dengan cara yang sebelumnya tak pernah dilakukannya: Melemparkan dirinya ke kerumunan suporter.
ADVERTISEMENT
Apa makna dari selebrasinya itu?
Untuk menunjukkan kepada penggemar bahwa dia adalah salah satu dari mereka. "Saya hanya ingin tinggal di sana selamanya...," ungkapnya kepada wartawan pada saat itu.
Atas dasar itu, Keegan kerap takut mengecewakan para penggemar Newcastle. Ia terus-menerus mengatakan pada dirinya sendiri, "Kamu tidak boleh mengecewakan mereka".
Dan pada akhirnya, kiprah Keegan memang tidak mengecewakan. Selama dua musim, Keegan mencetak 49 gol dari 85 laga lintas kompetisi. Musim terakhirnya terasa spesial karena dia berkontribusi membawa Newcastle promosi ke First Division.
Kevin Keegan saat melatih Newcastle United. Foto: AFP/ANDREW YATES
zoom-in-whitePerbesar
Kevin Keegan saat melatih Newcastle United. Foto: AFP/ANDREW YATES
Pada tahun 1992, Keegan melakukan debutnya di bidang kepelatihan. Dan klub pertama yang diasuhnya adalah Newcastle. Ya, hanya berselang satu dekade sejak dia pertama kali dikenalkan sebagai pemain.
ADVERTISEMENT
Perlu dicatat, saat Keegan datang, Newcastle memang berkompetisi di First Division. Namun, jangan salah sangka, musim 1992/93 adalah musim perdana diperkenalkannya Premier League sebagai kompetisi level teratas Inggris.
Artinya, Newcastle saat itu berlaga di kompetisi level kedua. Akan tetapi, Keegan langsung berhasil membawa David Kelly dan kolega menjuarai First Division. Promosi ke Premier League pun didapatkan.
Di Premier League, walaupun berstatus tim promosi, tetapi Newcastle asuhan Keegan bukan kaleng-kaleng. Pada akhir musim 1993/94, Newcastle mampu finis di peringkat tiga. Penyerang andalan Newcastle, Andy Cole, menjadi topskorer dengan raihan 34 gol.
Prestasi Newcastle asuhan Keegan sempat 'jeblok' pada musim selanjutnya, dengan hanya finis di peringkat enam. Hmm... Tapi, masih lumayan 'kan?
ADVERTISEMENT
Barulah pada musim 1995/96, Keegan membawa anak asuhnya finis di peringkat dua. Pencapaian terbaik Newcastle di Premier League hingga hari ini.
Padahal, di awal musim, mereka kehilangan Andy Cole yang hijrah ke Manchester United. Namun, mereka menemukan pengganti sepadan, yakni Les Ferdinand, yang mencetak 25 gol di Premier League 1995/96.
Petaka hadir bagi para penggemar pada pertengahan musim 1996/97. Tepatnya pada Januari 1997, Keegan menyatakan mundur dari jabatannya sebagai pelatih. Pihak klub mengaku sudah berusaha membujuknya agar berubah pikiran. Namun, Keegan tetap pada keputusannya.
Ini patut disayangkan karena saat itu Newcastle sedang menjadi kandidat terkuat juara Premier League. Mereka kerap beberapa kali mengamankan puncak klasemen. Namun, pada akhirnya, di bawah asuhan Kenny Dalglish yang jadi penerus Keegan, Newcastle hanya finis di peringkat dua (lagi).
Kevin Keegan saat melatih Newcastle United. Foto: AFP/ PAUL ELLIS
zoom-in-whitePerbesar
Kevin Keegan saat melatih Newcastle United. Foto: AFP/ PAUL ELLIS
Pergi di Januari, lalu kembali pada Januari pula. King Kev kembali ke St. James' Park pada Januari 2008 --11 tahun pascapengunduran dirinya. Dia menggantikan Nigel Pearson yang jadi pelatih interim usai Sam Allardyce dipecat.
ADVERTISEMENT
Kala itu, dia sudah tak lagi punya Andy Cole, Les Ferdinand, atau Alan Shearer. Dia mengandalkan trio lini depan Michael Owen, Mark Viduka, dan Obafemi Martins. Newcastle menggebrak jadi tim papan tengah yang merepotkan dan finis di peringkat 12 klasemen.
Akan tetapi, petualangan keduanya bersama Newcastle hanya berlangsung hingga September. Perseteruan dengan Mike Ashley selaku pemilik klub membuatnya memutuskan untuk mundur.
Penyebabnya, Keegan merasa Ashley enggak bisa mendukungnya untuk membawa Newcastle terbang lebih tinggi. Dia ingin Newcastle bersaing di empat besar, tetapi dukungan finansial dari Ashley tak memihaknya.
Singkat kata, cintanya untuk Newcastle berat di ongkos. Di buku otobiografinya, dia juga menyinggung soal Ashley.
"Aku akan selalu jadi persona non grata selama Mike Ashley masih berkuasa. ... Meski begitu, rasaku kepada klub (Newcastle United) tak akan memudar, (meski) tidak akan ada yang berubah hingga Ashley pergi, dan lebih dari 100 tahun kebanggaan sejarah sepak bola hilang dalam portofolio bisnisnya," tulisnya.
ADVERTISEMENT
---
Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo, buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.
Ini adalah rumah dan tempat berinteraksi para fans Liga Inggris di kumparan. Jangan lupa subscribe agar dapat update informasi terbaru soal jadwal dan ulasan serta peluang memenangkan tiket gratis nonton Premier League langsung di Inggris.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten