Liga Champions 2001/02: Iker Casillas Bukan Pahlawan Kesiangan

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
Tulisan dari Supersoccer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam stori sebelumnya, kami memaparkan bahwa Bayer Leverkusen pernah mengalami treble horror pada musim 2001/02. Salah satu laga yang membuat mereka merana adalah final Liga Champions kontra Real Madrid yang diperkuat Iker Casillas.
Kali ini, kami mau melansir cerita dari salah seorang yang menjadi bagian dari skuat Die Werkself pada musim tersebut. Dia adalah Jens Nowotny.
Nowotny menyaksikan perjuangan rekan-rekannya di lapangan Hampden Park, Skotlandia. Ya, bek yang membela Leverkusen selama 1996-2006 itu mesti melewatkan laga final pada 15 Mei 2002 tersebut karena cedera.
Sejarah yang tercatat adalah Los Blancos menang 2-1. Gol spektakuler Zinedine Zidane jadi momen legendarisnya. Meski begitu, bagi Nowotny, ada sosok lain yang kehadirannya tak kalah krusial bagi Madrid, yakni Casillas.
"Kami superior dan bermain sangat baik. Namun malam itu, Iker Casillas bintangnya. Meski dia berdiri di belakang gawangnya, kami bakal tetap kesulitan menjebolnya!" kata Nowotny kepada Goal International.
Jangan salah, skuat Bayer Leverkusen 2001/02 boleh jadi adalah generasi emas mereka. Ada Michael Ballack, Bernd Schneider, Yildiray Basturk, Carsten Ramelow (kapten), Ulf Kirsten (topskorer abadi mereka), hingga Lucio yang mencetak gol di final itu.
"Kami bisa mengimbangi Galacticos. Tidak hanya Real, musim itu kami mengalahkan Barcelona dan Juventus, kami menyingkirkan Liverpool dan Man United. Kami tidak punya alasan untuk mengagumi pemain lain [selain Casillas]," lanjutnya.
Sekadar gambaran, Casillas sebetulnya tak main sejak awal laga. Dia baru masuk pada menit 68, menggantikan Cesar Sanchez yang cedera. Saat itu, skornya sudah 2-1.
Namun, dia tak masuk untuk menjadi pesakitan, melainkan hadir sebagai pahlawan di bawah mistar. Penyelamatan demi penyelamatan dibikinnya. Skor 2-1 berakhir hingga laga usai.
Pahlawan kesiangan? Jangan sembarangan.
Selama 2x45 menit belum usai, tidak ada istilah terlambat atau kesiangan. Ditambah lagi, berkat kontribusi Casillas pulalah, trofi 'si Kuping Besar' bisa diboyong ke Ibu Kota Spanyol.
Asal tahu saja, sebetulnya, Casillas lebih sering dimainkan pada musim itu, termasuk di Liga Champions. Namun, karena sempat mengalami penurunan performa, akhirnya Vicente del Bosque menepikannya di laga final.
Meski begitu, pada akhirnya, Casillas membuktikan dirinya layak menghuni bawah mistar gawang Real Madrid dari laga ke laga selanjutnya, hingga kini kita mengenalnya sebagai legenda.
Editor: Katondio Bayumitra Wedya
---
Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi uang tunai Rp50.000.000. Buruan daftar di sini.
