Kumparan Logo
Ian Rush
Ian Rush.

Momen Ian Rush di Laga Liverpool vs Manchester United

Supersoccer

Supersoccerverified-green

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

comment
135
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Liverpool, Ian Rush, berusaha melewati pemain dari Portsmouth, Warren Neill, di semifinal Piala FA di Highbury. Foto: Getty Images/Dan Smith
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Liverpool, Ian Rush, berusaha melewati pemain dari Portsmouth, Warren Neill, di semifinal Piala FA di Highbury. Foto: Getty Images/Dan Smith

Jauh sebelum Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino disanjung-sanjung oleh para penggemar Liverpool karena kepiawaian mereka membobol gawang lawan, publik Anfield punya idola bernama Ian Rush.

Hayyooo…. dedek-dedek Liverpudlian angkatan Gen Z kenal enggak dengan penyerang legendaris Liverpool asal Wales ini? Kalau belum, yuk, kenalan dulu.

Pria kelahiran 20 Oktober 1961 ini membela Liverpool dalam dua periode berbeda. Pertama, dari musim 1980/81 hingga 1986/87. Kedua, dari musim 1988/89 hingga 1995/96. Rush sempat membela Juventus selama semusim, tepatnya pada 1987/88.

Rush berkontribusi atas raihan lima trofi Liga Inggris era First Division untuk Liverpool. Sosok kelahiran St. Asaph ini juga membawa The Reds menggamit tiga trofi Piala FA, lima Piala Liga, tiga Charity Shield, dan dua European Cup --kini Liga Champions.

embed from external kumparan

Kalau bicara soal kisah Ian Rush dalam pusaran rivalitas Liverpool vs Manchester United, mungkin ada dua momen yang menarik untuk dikenang kembali.

Pertama, saat kedua klub yang identik dengan warna merah ini bertemu pada pekan ke-41 First Division 1991/92 di Anfield. Saat itu, The Red Devils sedang sengit-sengitnya berburu gelar juara dengan Leeds United.

Sebelum laga yang berlangsung pada 26 April 1992 itu dimulai, Leeds kondisinya unggul satu poin di puncak klasemen atas Manchester United. Sementara itu, Liverpool menduduki peringkat enam dan tak mau 'jeblos' lebih dari itu.

Ian Rush (dua dari kanan) bersama rekan-rekannya di Liverpool. Foto: Getty Images

Rush-lah yang kemudian menjadi mimpi buruk bagi Manchester United. Dia mencetak satu dari dua gol kemenangan Liverpool dalam laga itu. Alhasil, skuat asuhan Graeme Souness menang 2-0 atas pasukan Sir Alex Ferguson.

Sementara di laga lain, Leeds menang 2-3 atas Sheffield United. Leeds jadi unggul empat poin atas Manchester United saat kompetisi menyisakan satu laga lagi. Tak terkejar, Leeds juara.

Memang, kebahagiaan sepak bola tak melulu soal melihat klub yang kita dukung menjadi juara. Namun juga, ketika melihat klub rival gagal juara. Lebih mantap lagi kalau yang menggagalkan mereka juara adalah klub kesayangan kita. Betul, tidak?

Ian Rush. Foto: AFP/Fabrice COFFRINI

Itulah yang dilakukan Liverpool pada waktu itu. Para pemain dan penggemar Liverpool mendapat kebahagiaan tambahan dari hasil laga Derbi North-West tersebut. Meski tak memenangkan trofi apa pun, tetapi mereka dapat tertawa di atas penderitaan Manchester United.

Lebih sakit lagi, musim itu adalah momentum Manchester United mengakhiri puasa gelar Liga Inggris, usai terakhir kali menjuarainya pada musim 1966/67. Belum beruntung.

Bayangkan, kamu mau nembak kekasihmu, tetapi tiba-tiba musuhmu (Leeds) menikungmu di detik-detik terakhir. Sudah begitu, yang membikin kamu tertikung adalah gara-gara musuhmu yang lain (Liverpool) menculikmu. Makanya, jangan kebanyakan punya musuh.

Ian Rush. Foto: AFP/Glyn KIRK

Namun, kisah berbeda terjadi pada musim 1992/93 alias musim perdana Premier League. Kali ini, Manchester United yang menjadi juaranya. Salah satu momen penting musim ini adalah kala Manchester United mengalahkan Liverpool di Anfield pada 6 Maret 1993.

Dalam laga yang berlangsung pada pekan ke-33 itu, Manchester United unggul lebih dulu lewat gol Mark Hughes. Lalu, Ian Rush sempat menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Namun akhirnya, Lee Sharpe dan kolegalah yang menjadi pemenangnya usai Brian McClair membobol gawang David James yang mengubah kedudukan jadi 2-1. Tidak ada gol balasan dari Ian Rush atau pemain Liverpool lainnya hingga laga usai.

Asal tahu saja, sebelum laga itu terlaksana, Manchester United yang berada di puncak klasemen memiliki poin yang sama dengan Aston Villa. Usai menang, Manchester United jadi unggul tiga poin.

Setelah itu, poin mereka tak pernah bisa disamai lagi oleh tim peringkat kedua. Hingga akhirnya, Manchester United menjadi juara dengan koleksi poin 84, unggul 10 poin atas Villa, sedangkan Liverpool cuma finis di peringkat enam.

Bukan hal yang menyenangkan untuk dikenang, memang. Ini ibaratnya musuh bebuyutanmu jadian sama 'doi', dengan secara enggak sengaja kamu yang comblangin.

Namun, ya, sudahlah. Meski begitu, Ian Rush tetaplah legenda Liverpool. Kini, pertanyaannya, apakah Jordan Henderson dan kolega bisa memberikan gelar Premier League bagi Liverpool di era Juergen Klopp?

Editor: Katondio Bayumitra Wedya

---

Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.

collection embed figure