Nelangsa dan Derita Menuntun Langkah Cesc Fabregas Tinggalkan Arsenal

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

Mungkin, kepindahan Cesc Fabregas dari Arsenal ke Barcelona pada 2011 bukanlah transfer yang begitu mengejutkan. Ada orang-orang yang mafhum Fabregas rindu kampung halamannya dan ingin bermain untuk tim terkuat di Catalunya itu.
Namun, granat tak akan bisa meledak jika cuma asal dilempar. Harus ditarik kuncinya, baru kemudian granat bisa meledak --bahkan tanpa harus dilempar.
Begitu juga alasan di balik transfer Fabregas. Tidak cuma satu alasan tadi yang menjadi dasar kuat kepindahannya ke kubu Blaugrana, melainkan ada alasan lain yang membikin Fabregas gerah dan akhirnya meninggalkan The Gunners.
Dalam sesi wawancara bersama Arseblog, sebagaimana juga dilansir Sky Sports, sosok 32 tahun itu menceritakan segalanya. Intinya, ada beban di pundak Fabregas kala itu sangatlah berat. Dia bukan Dilan dan dia tidak kuat.
"Aku adalah kapten, aku selalu merasakan banyak tekanan pada diriku sendiri. Aku harus memimpin tim ini untuk memenangi sesuatu (trofi). Aku memberikan segalanya. Kadang-kadang, aku pulang ke rumah setelah kami kalah dan aku sering menangis," kisahnya.
Per 24 November 2008, pria asal Spanyol itu memang diampu menjadi kapten utama tim Arsenal, menggantikan William Gallas. Padahal, usia Fabregas waktu itu baru 21 tahun. Namun, usia jelas cuma angka karena dia bahkan tampak lebih dewasa ketimbang Gallas.
Akan tetapi, ya, tetap saja tidak mudah menjadi kapten bagi salah satu tim besar Premier League. Iya, ketika itu Arsenal bolehlah disebut sebagai tim besar, soalnya masih langganan finis empat besar.
Masalahnya, usai menjuarai Piala FA 2004/05, paceklik gelar melanda skuat besutan Arsene Wenger. Arsenal kala itu tak jarang jadi bahan ceng-cengan --sekarang juga, sih. Fabregas muda jelas belum punya banyak pengalaman mengatasi tekanannya.
Ndilalah, rekan-rekannya sulit diajak kerja sama. Maksudnya, Fabregas kadang baper, baper sendiri kalau Arsenal kalah. Sedih, sedih sendiri. Sementara pemain lain tampak sa bodo teuing.
"Aku dulu menderita, dulu aku menghabiskan malam tanpa tidur, menderita. Kemudian, kamu kalah, kamu berada di bus seperti hancur, lalu kamu mendengar beberapa pemain tertawa, memikirkan ke mana mereka akan nongkrong nanti," jelasnya.
Oh, jadi begitu. Pantasan, Arsenal sempat susah banget juara. Ternyata, memang mental para pemainnya kayak begitu, ckckck...
"Itu berlangsung selama beberapa tahun. Kami memainkan sepak bola indah dan menikmatinya, tetapi aku menekan diriku untuk memimpin, untuk melakukan segalanya, dan pada satu titik, aku merasa agak kesepian," terangnya.
"Terutama dalam dua atau tiga tahun terakhir, aku merasa [cuma] Robin [van Persie] dan Samir [Nasri] yang, bukan bermaksud arogan, tetapi ini menurutku, merupakan pemain yang berada di levelku secara mental dan teknis," lanjutnya.
Sekadar informasi, Nasri dan Van Persie akhirnya juga keluar dari Arsenal dan mereka merengkuh trofi Premier League bersama klub lain. Momen menyakitkan bagi Arsenal dan para penggemarnya.
Nasri menjuarainya bersama Manchester City pada 2011/12 dan 2013/14, sedangkan Van Persie memenanginya bareng Manchester United pada 2012/13. Mereka bahagia, sedangkan fans 'Meriam London' cuma bisa gigit jari sambil ngedumel.
Iya, 'kan, wahai fans Arsenal yang budiman? Ayo, mengaku...
"Banyak hal muncul di kepalaku, aku merasa sedikit kosong, terkuras secara mental dan fisik. Batinku, aku tahu telah memberikan segalanya, tahu beberapa pemain yang bisa didatangkan klub, tetapi tidak terjadi," katanya.
Nah, ini juga masalahnya. Arsenal pada masa itu sangat kesulitan menggaet pemain-pemain bintang. Utang Stadion Emirates dan mundurnya David Dein --sosok yang biasa membantu negosiasi-- dari jabatan Wakil Chairman Arsenal pada musim 2007/08 adalah penyebabnya.
Alhasil, Arsenal bak pria kurang modal --dan banyak utang-- yang kesulitan meluluhkan hati gadis impian. Cintanya berat diongkos, akhir ceritanya terhenti hingga fase pedekate saja.
"Melihat beberapa perilaku dari pemain tertentu atau sesuatu seperti itu membuatku ingin memeriksa sesuatu yang lain. Jika bukan karena itu, aku tidak akan meninggalkan Arsenal pada waktu itu," sambungnya.
Fabregas menyudahi delapan musim masa baktinya di Arsenal (2003-2011). Bersama Barcelona, Fabregas merengkuh tak kurang dari 6 trofi, termasuk La Liga dan Piala Dunia Antarklub.
Pada 2014, Fabregas kembali ke Inggris, kembali ke London, tetapi Chelsea-lah yang mengamankan tanda tangannya. Bersama The Blues, Fabregas menyamai prestasi Nasri dan Van Persie: Mengangkat trofi Premier League. Enggak cuma satu, tetapi dua.
Editor: Katondio Bayumitra Wedya
---
Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi uang tunai Rp50.000.000. Buruan daftar di sini.

