Pep Guardiola Tak Perlu Trofi Liga Champions, Messi Tak Butuh Trofi Piala Dunia

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
Tulisan dari Supersoccer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Citra genius Pep Guardiola tak akan lenyap andai kata dia tak pernah memenangi Liga Champions. Nama besar Messi pun tak akan luntur hanya karena dia tak pernah menjuarai Piala Dunia.
Setidaknya, itu adalah opini Juan Antonio Pizzi. Pelatih berusia 51 tahun tersebut boleh dibilang cukup mengenal Guardiola. Soalnya, dahulu mereka pernah main bareng untuk tim utama Blaugrana dan Timnas Spanyol.
Hingga kini, Pizzi masih terus mengikuti perkembangan karier si pelatih berdarah Catalunya. Baginya, tidaklah layak jika pelatih Manchester City itu cuma dinilai dari raihan trofinya. Sebab, Guardiola adalah bagian dari perubahan.
"Dia telah membawa itu (keyakinan sepak bolanya) ke Inggris. Sepak bola di sana sudah banyak berkembang, tetapi dia mewakili perubahan dan Anda bisa melihat identitasnya di tim itu (Manchester City)," kata Pizzi kepada The Guardian.
"Dia tidak perlu menjuarai Liga Champions agar orang-orang menghargainya. Seorang pelatih tidak membutuhkan gelar, yang bergantung pada begitu banyak faktor, untuk mengekspresikan kehebatannya; analisisnya harus lebih jauh dari itu," lanjutnya.
Sebetulnya, Guardiola pernah mengangkat trofi 'si Kuping Besar', dua kali pula. Namun, pelatih yang kini berusia 49 tahun itu 'cuma' melakukannya ketika melatih Barcelona, saat bersama tim lain belum pernah.
Gara-gara itu, ada orang-orang yang merasa berhak menilai Guardiola seenak udel. Bahkan, ada beberapa fan Bayern Muenchen yang tak puas dengan rezimnya di Allianz Arena.
Alasannya, ya, itu tadi, karena eks gelandang bertahan itu enggak bisa mempersembahkan trofi Liga Champions untuk Die Bayern. Padahal, setiap musimnya, Guardiola enggak pernah absen memberi trofi Bundesliga dan sejumlah trofi lainnya.
Jangan gitu-gitu amatlah. Trofi liga domestik itu, mbok ya, disyukuri, apalagi Bayern bisa mendapatkannya rutin setiap musim.
Coba tengok ke liga sebelah, ada yang pengin banget jadi juara liga domestik, tetapi urung kesampaian. Giliran momentum itu muncul, eh, malah ada pandemi corona.
Ehem, iya, ini kami lagi ngomongin AZ Alkmaar, ya. Klub yang terakhir kali menjuarai Eredivisie Belanda pada 2008/09 itu punya momentum mengulang sukses mereka tersebut musim ini.
Namun akhirnya, Eredivisie 2019/20 disetop tanpa adanya juara. Posisi klasemen terakhirnya adalah AZ ada di peringkat kedua, mengoleksi poin yang sama dengan Ajax Amsterdam. Ketat.
Sudah, ah. Kok, jadi ngomongin Eredivisie. Uhuk. Balik lagi ke Guardiola. Dia 'kan kini sudah memberikan semua trofi domestik, nih, buat The Citizens. Apakah jika tak menjuarai Liga Champions, Guardiola dianggap gagal? Enggak, sih, harusnya.
"Seperti Messi, dia tidak perlu memenangi Piala Dunia untuk membuktikan bahwa dia adalah pemain paling luar biasa dalam sejarah," jelas Pizzi.
Ya, Pizzi menjadikan eks anak buah Guardiola di Barcelona itu sebagai analoginya. Si megabintang asal Argentina telah memberi banyak trofi untuk klub kebanggaan publik Camp Nou, tetapi jasanya untuk Tanah Air-nya hanya medali Olimpiade Beijing dan trofi Piala Dunia U-20.
Namun tetap saja, kegagalan Lionel Messi menjuarai Piala Dunia tak lantas membuat namanya kalah besar dibanding Olivier Giroud maupun Shkodran Mustafi. Messi, ya, Messi. La Pulga yang menjelma sebagai 'GOAT' dunia sepak bola.
Begitu juga dengan Guardiola. Andai kata nanti Guardiola tak bisa menjuarai Liga Champions lagi, reputasinya sebagai pelatih genius tak akan luntur. Mestinya.
Trivia: Juan Antonio Pizzi adalah pelatih yang membawa Timnas Cile menjuarai Copa America 2016. Di final, timnya mengalahkan Timnas Argentina yang diperkuat Lionel Messi.
Editor: Katondio Bayumitra Wedya
---
Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi 1 unit SmartTV dan 2 Jersi Original klub Liga Inggris. Buruan daftar di sini.
