Logo Charlton Athletic

Sejarah: Ketika Tim 'Manusia Besi' Liga Inggris Taklukkan Timnas Prancis 5-2

Supersoccer
Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
19 April 2020 14:47 WIB
comment
19
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Logo Charlton Athletic. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Logo Charlton Athletic. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Pada tahun 1930-an, Charlton Athletic adalah salah satu tim kuat di Britania. Meski tak pernah menjuarai Liga Inggris, tetapi mereka punya cerita spesial untuk menjelaskan kekuatan mereka pada zaman baheula: Mereka pernah menekuk Timnas Prancis.
ADVERTISEMENT
Ini adalah cerita yang dipaparkan oleh The Guardian. Peristiwa itu tepatnya terjadi pada tahun 1937. Itu adalah masa-masa ketika tensi politik di daratan Eropa begitu tinggi.
Sepak bola memang mampu menumpahkan warna ceria ke dalam kelabunya nasib rakyat yang menjadi korban hegemoni para politisi. Namun ada kalanya, wajah sepak bola-lah yang malah ternodai oleh politik.
Wina, Maret 1937. Wasit Otto Olsson asal Swedia mesti menyetop laga Timnas Austria vs Timnas Italia pada menit 73, lantaran meningkatnya kekerasan di lapangan dan kericuhan di luar lapangan.
"Kedua tim punya semangat juang, tetapi lebih bersifat politis daripada olahraga. Sejak awal, pelanggaran dan perselisihan terjadi bergiliran antara satu sama lain secara beruntun," tulis The Guardian.
ADVERTISEMENT
Kondisi di luar lapangan tak kalah parah. Seruan-seruan anti-fasisme menyeruak. Ejekan-ejekan terhadap Italia dan pemimpin mereka yang diktator, Benito Mussolini, membahana. Kondisi menjadi kian kaos.
Diktator fasis Italia (1922-1943), Benito Mussolini. Foto: AFP/Publifoto
Ingat, kejadian barusan terjadi di Wina, Ibu Kota Austria. Asal tahu saja, pada masa itu, bukan cuma orang-orang di Austria yang galak menentang fasisme.
Salah satu negara lain yang penduduknya 'jijik' dengan fasisme adalah Prancis. Ndilalah, lawan Timnas Italia selanjutnya adalah Timnas Prancis dan laga bakal dilangsungkan di Paris.
Nah, Front Populaire --organisasi pergerakan sayap kiri-- sudah menyiapkan siasat untuk 'menyambut' Timnas Italia dengan aksi protes yang juga berbau anti-fasisme. Boleh jadi, narasi seperti di Wina tadi bakal terulang di Paris.
Alhasil, singkat cerita, dalam kurun waktu kurang lebih 48 jam jelang laga, muncul keputusan untuk membatalkan pertandingan antara Timnas Prancis vs Timnas Italia. Dasar pertimbangannya, ya, potensi kericuhan dan kekerasan itu.
ADVERTISEMENT
Kemudian, pihak Prancis dan Italia saling lempar kesalahan. Italia bilang, Prancis, noh, yang menolak bertanding; sedangkan Prancis bersikeras Italia-lah yang ogah main. Namun sepertinya, itu adalah keputusan dari Achille Starace, Presiden Komite Olimpiade Italia dan Sekretaris Partai Fasis Nasional.
Sepak bola terganjal politik bukanlah hal baru. Foto: Pixabay
"Stadion akan dipenuhi oleh ribuan orang Italia yang memberi salam fasis dan ribuan pendukung Front Populaire Prancis yang memberi hormat kepalan tangan," kutipan dari AFP, dilansir The Guardian.
"Dalam keadaan seperti itu, hampir tidak mungkin untuk mencegah kerusuhan yang mungkin memiliki dampak internasional yang paling buruk," lanjutnya.
Meski laga kontra Italia batal, tetapi Prancis tetap ingin bertanding. Jadi solusinya, mereka mesti mencari lawan alternatif. Ketua Federasi Sepak Bola Prancis pada waktu itu, Henri Delaunay, mengusulkan Belgia, Belanda, dan Jerman.
ADVERTISEMENT
Dalam waktu yang mepet itu, cuma Jerman yang menyanggupi tawaran tersebut. Cuma masalahnya, saat itu 'kan Jerman sedang dikuasai Nazi --yang juga berpaham fasis--, sehingga Front Populaire juga kemungkinan bakal bertindak jika laga itu terlaksana.
Adolf Hitler, Diktator Jerman (1933-1945). Foto: Getty Images/Hulton Archive
Nah, akhirnya, pada 9 April 1937 siang hari, diputuskan bahwa Charlton Athletic-lah yang bakal melawan Timnas Prancis di Paris. Kenapa harus Charlton? Kenapa enggak klub lain? Kenapa enggak Timnas Inggris sekalian?
Wah, kalau soal itu, sih, menurut The Guardian, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Tidak ada sumber valid yang bisa menjelaskan alasan di balik hal itu.
Media lokal terbagi dua dalam menanggapi keputusan tersebut. Ada yang memandangnya skeptis, ada pula yang sebaliknya.
"Jelas, laga kontra Charlton tidak punya daya tarik yang sama dibandingkan dengan laga antara dua negara. Tidak memiliki semangat yang mendorong setiap pemain untuk melampaui batas mereka untuk alasan kehormatan bendera dalam permainan," tulis majalah olahraga Prancis, Match, dilansir The Guardian.
ADVERTISEMENT
Tak senada dengan Match, Paris-Soir, surat kabar terlaris di Prancis pada masa itu, justru menyambutnya dengan antusias. Kata mereka, tim-tim Inggris memiliki keunggulan teknik dan semangat yang luar biasa. Mereka menyebut Charlton sebagai tim paling menarik di Inggris.
Jimmy Seed, eks pemain Tottenham Hotspur yang sukses saat menjadi pelatih Charlton Athletic. Foto: Topical Press Agency/Getty Images
Ada hal menarik tentang persiapan klub berjuluk The Addicks itu sebelum bersua Timnas Prancis. Jadi, laganya 'kan dijadwalkan berlangsung pada 11 April 1937. Nah, tanggal 10 April siangnya, tim besutan Jimmy Seed itu masih main melawan Huddersfield Town.
Ndilalah, mereka menang pula. Habis itu, pada malam harinya, mereka naik feri menuju Dunkirk, baru setelah itu ke Paris. Berbekal waktu istirahat yang singkat dan melewati perjalanan laut pula, mereka menantang Timnas Prancis di Parc de Princes.
ADVERTISEMENT
Namun siapa sangka? Justru merekalah yang memenangi laga sepak bola di Parc des Princes (sekarang kandang Paris Saint-Germain) itu. Skornya telak pula.
The Guardian menggambarkan laga itu begini: Charlton unggul dua gol duluan pada babak pertama, lalu Prancis menyamakan kedudukan sebelum turun minum. 10 menit jelang laga rampung, Charlton mencetak tiga gol lagi. Skor akhir 5-2.
Parc des Princes. Di sinilah sejarah itu terukir. Foto: Reuters/Christian Hartmann
Enggak heran, sih, kalau ada yang beranggapan begitu. Habis tanding di Inggris, naik feri semalaman, besoknya langsung main lagi lawan Prancis. Apa enggak 'rontok' itu badan? Ya, bisa jadi memang tulang mereka dari besi dan otot mereka dari kawat.
Selama dinakhodai Jimmy Seed (1933-1956), Charlton mengoleksi dua trofi juara: Division Three (1935) dan Piala FA 1947. Mereka juga tercatat tiga kali mendapat predikat runner up: Division Two (1936), Football League (1937), dan Piala FA 1946.
ADVERTISEMENT
Well, cukup kompetitif, bukan? Setelah Seed tak lagi melatih, prestasi Chartlon kian menurun. Di era modern, mereka pernah mampir ke Premier League. Namun sayang, mereka biasanya cuma menjadi klub 'bulan-bulanan'.
---
Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi 1 unit SmartTV dan 2 Jersi Original klub Liga Inggris. Buruan daftar di sini.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten