Kerapuhan Lini Belakang Chelsea yang Bikin Xabi Alonso Frustrasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Chelsea harus bekerja keras di Liga Champions.
zoom-in-whitePerbesar
Chelsea harus bekerja keras di Liga Champions.

Kekalahan telak 3-0 dari Brentford dalam derbi London Barat menyingkap borok lama lini pertahanan Chelsea yang kian mengkhawatirkan. Di bawah kendali manajer baru Xabi Alonso, The Blues justru makin akrab dengan hasil minor dan kehilangan kendali permainan taktis di lapangan.

Rentetan kegagalan mengamankan clean sheet serta rapuhnya koordinasi saat menghadapi situasi bola mati membuat Chelsea kini melewati tiga laga beruntun di Liga Primer Inggris tanpa kemenangan. Masalah ini diperparah oleh hilangnya mentalitas kompetitif skuad yang tampak mudah didikte saat tertinggal.

Petaka Bola Mati yang Terus Berulang

Sektor pertahanan Chelsea kembali menjadi bulan-bulanan melalui skema set-piece. Gawang yang dikawal Emiliano Martinez dengan mudah bobol akibat ketidakmampuan para pemain mengantisipasi bola mati, yang sebenarnya sudah menjadi kelemahan kronis tim sejak musim lalu.

Tercatat Chelsea telah kebobolan 23 gol dari situasi bola mati sejak awal musim lalu, catatan terburuk yang sejajar dengan tim paling rapuh di liga. Bek Chelsea, Levi Colwill, mengakui kelemahan ini dengan berujar, “Kami belum cukup bagus, di beberapa momen kami seperti diintimidasi oleh lawan, dan kami harus segera memperbaiki hal tersebut.”

Ironisnya, performa buruk ini terjadi ketika klub telah mendatangkan salah satu pelatih bola mati terbaik, Austin MacPhee. Penetrasi taktis Brentford di tiang jauh pada awal babak kedua membuktikan bahwa masa adaptasi taktik baru berjalan sangat lambat dan rapuh di bawah tekanan.

Statistik Buruk Lini Pertahanan dan Hilangnya Kendali

Kelemahan Chelsea tidak hanya terbatas pada bola mati saja, melainkan mencakup seluruh aspek pertahanan di sepertiga akhir lapangan. Mereka kini mencatatkan rekor buruk dengan 22 pertandingan berturut-turut di Liga Primer tanpa sekalipun meraih catatan clean sheet.

Secara rata-rata, Chelsea membiarkan lawan melepaskan tembakan di dalam kotak penalti mereka sendiri sebanyak sepuluh kali per pertandingan. Indikator statistik expected goals (xG) juga mengonfirmasi bahwa kepasifan lini belakang The Blues membuat gawang mereka sangat rentan dihujani peluang emas oleh tim lawan.

Ketika tim mulai tertinggal, struktur permainan Chelsea langsung runtuh seketika akibat kepanikan taktis. Alonso secara terbuka mengkritik hilangnya fokus anak asuhnya, “Ini mencakup segalanya, mulai dari mentalitas, sepak bola, hingga aspek taktis. Kami kebobolan gol pertama, kami masih dalam permainan, tetapi kemudian kami kehilangan bentuk permainan dan kehilangan kendali.”

Transisi Berat Xabi Alonso di Stamford Bridge

Kehilangan gelandang andalan seperti Moises Caicedo menambah lubang besar di lini tengah yang gagal ditambal oleh rekrutan musim panas seperti Jordan Henderson. Ketidakseimbangan ini membuat permainan Chelsea kehilangan arah saat berhadapan dengan kedalaman skuad Brentford yang tampil lebih solid.

Mantan kapten Chelsea, Gary Cahill, menilai publik harus memberikan waktu bagi Alonso untuk menanamkan filosofinya di tengah badai perubahan internal klub. Cahill berpendapat, “Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Saya pikir dia akan dinilai dalam lima hingga tujuh pekan ke depan untuk membenahi ini semua karena dia memiliki waktu di lapangan latihan.”