Manchester City Rombak Total Skuad tapi Lupa Cari Pelapis Erling Haaland

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Erling Braut Haaland dari Manchester City terlihat di tribun sebelum pertandingan di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, 7 Januari 2024.
zoom-in-whitePerbesar
Erling Braut Haaland dari Manchester City terlihat di tribun sebelum pertandingan di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, 7 Januari 2024.

Manchester City resmi menyelesaikan perombakan besar-besaran skuad mereka di bawah asuhan manajer baru, Enzo Maresca. Menghabiskan dana fantastis mencapai 458 juta poundsterling, klub berjuluk The Citizens mencetak rekor belanja baru di Premier League untuk bursa transfer musim panas. Perubahan paling radikal terjadi di sektor tengah, di mana lini tengah City kini sepenuhnya diisi wajah-wajah baru yang sangat mahal.

Kendati manajemen merasa sangat puas dengan aktivitas transfer tersebut, kebijakan melepas penyerang pelapis menyisakan tanda tanya besar bagi para pengamat. Di balik gelontoran uang ratusan juta poundsterling, Manchester City kini menghadapi risiko besar karena hanya memiliki satu striker murni yang siap pakai di tim utama mereka.

Transformasi Radikal Sektor Gelandang Manchester City

Kepergian para pilar penting seperti mantan kapten Bernardo Silva, pemenang Ballon d'Or 2024 Rodri, Tijjani Reijnders, hingga Nico Gonzalez memaksa manajemen melakukan restrukturisasi instan. Direktur Sepak Bola Hugo Viana bergerak cepat mendukung penuh manuver Maresca untuk mendatangkan amunisi baru. Tidak tanggung-tanggung, rekor transfer klub bahkan pecah dua kali berturut-turut pada jendela transfer musim panas kali ini.

Gelandang asal Argentina, Enzo Fernandez, diboyong dari Chelsea dengan mahar fantastis sebesar 125 juta poundsterling yang menyamai rekor transfer di Britania Raya. Langkah agresif ini disusul oleh perekrutan Elliot Anderson dari Nottingham Forest senilai 116 juta poundsterling, serta talenta muda berbakat asal Maroko, Ayyoub Bouaddi, yang ditebus seharga 86 juta poundsterling pada usia 18 tahun. Bersama-sama, trio anyar ini menjadi tulang punggung baru proyek jangka panjang kubu Etihad.

Meskipun pengeluaran City menembus angka 542 juta poundsterling sejak awal tahun, neraca keuangan mereka tetap terjaga berkat kepiawaian menjual pemain pelapis. Penjualan Savinho seharga 75 juta poundsterling, Rodri senilai 65 juta poundsterling, dan Reijnders seharga 52 juta poundsterling menghasilkan pemasukan sebesar 334 juta poundsterling. Pendapatan ini masih akan bertambah setelah Tottenham Hotspur mengaktifkan klausul wajib beli untuk Omar Marmoush sebesar 60 juta poundsterling di akhir masa peminjamannya.

Eksperimen Formasi Box dan Diamond ala Enzo Maresca

Kedatangan sederet gelandang baru dengan profil serbabisa memberikan fleksibilitas taktik yang luar biasa bagi Maresca. Sang manajer asal Italia kerap bereksperimen dengan formasi box dan diamond di lini tengah, tergantung dari karakter lawan yang dihadapi. Dalam formasi box, Maresca memasang dua gelandang bertahan sejajar, sementara dalam formasi diamond, ia hanya mengandalkan satu jangkar tunggal di depan lini pertahanan.

Pada laga kontra Bournemouth, Elliot Anderson diplot memegang peran statis di dasar lini tengah, sebuah indikasi kuat bahwa Maresca memproyeksikannya sebagai suksesor jangka panjang bagi peran vital yang biasa diemban Rodri. Ketika Ayyoub Bouaddi masuk sebagai pengganti pada laga berikutnya, pemain muda tersebut menunjukkan rotasi yang sangat cair bersama Mateo Kovacic. Maresca sendiri memuji talenta Bouaddi namun tetap bersikap realistis dengan menyatakan, “Kami harus memahami usianya yang masih sangat muda,” yang mengisyaratkan bahwa sang remaja akan diposisikan sebagai pelapis dinamis terlebih dahulu.

Fleksibilitas ini juga terlihat pada Enzo Fernandez yang mampu dimainkan sebagai holding midfielder maupun gelandang serang di kedua sisi sayap. Sementara itu, peran nomor 10 yang krusial kini diperebutkan oleh Phil Foden dan Rayan Cherki. Mengingat performa menjanjikan Foden sebagai gelandang box-to-box pada musim lalu, tidak menutup kemungkinan bagi Maresca untuk menduetkan Foden dan Cherki secara bersamaan di lini tengah di masa mendatang.

Ancaman Krisis Lini Depan Tanpa Pelapis Erling Haaland

Di balik semua optimisme rekonstruksi skuad, keputusan manajemen membiarkan Erling Haaland menjadi satu-satunya striker murni di tim utama mengundang kecemasan tersendiri. Bomber tajam berusia 26 tahun tersebut memang kembali tampil menggila dengan mencetak dua gol di awal kompetisi setelah menutup musim lalu sebagai pencetak gol terbanyak liga melalui torehan 27 gol. Namun, ketergantungan yang terlampau ekstrem pada sang striker Norwegia bisa menjadi bumerang fatal jika ia mengalami cedera atau membutuhkan waktu istirahat.

Keputusan melepas Omar Marmoush ke Tottenham demi jam bermain reguler dan meminjamkan striker muda Divin Mubama ke Southampton membuat pilihan di lini serang menjadi sangat terbatas. Manajemen Manchester City meyakini fleksibilitas pemain yang ada sudah cukup untuk menutupi kepergian para penyerang tersebut. Pemain seperti Antoine Semenyo dan rekrutan hari terakhir (deadline day), Iliman Ndiaye, dinilai dapat beroperasi sebagai penyerang lubang atau penyerang tengah darurat saat dibutuhkan.

Masalahnya, dari sekian banyak opsi penyerang sayap dan gelandang serang yang dimiliki City saat ini, hanya Semenyo yang mampu menyentuh digit ganda dalam torehan gol di Premier League selama beberapa musim terakhir. Pemain kreatif seperti Cherki, Jeremy Doku, hingga Ndiaye belum pernah menembus catatan tersebut, sementara Phil Foden masih berjuang menemukan kembali konsistensi performa terbaiknya setelah mengemas 19 gol pada musim 2023-2024. Jika para penyerang sayap ini gagal mendulang gol saat Haaland absen, pertaruhan besar manajemen City di bursa transfer musim panas bisa berujung petaka bagi ambisi juara mereka.