Start Buruk Manchester United Bikin Posisi Michael Carrick Mulai Digoyang

Manchester United kembali menghadapi awan mendung di awal musim Liga Primer Inggris. Kekalahan tipis 1-0 dari rival sekota, Manchester City, yang bermain dengan sepuluh orang sejak babak pertama, memicu gelombang kritik hebat. Meski diwarnai kontroversi keputusan wasit terkait gol Erling Haaland, performa skuad asuhan Michael Carrick ini dianggap jauh di bawah ekspektasi klub raksasa tersebut.
Dengan torehan hanya empat poin dari empat pertandingan pembuka, manajemen mulai mengevaluasi kinerja taktis Carrick di Carrington. Satu-satunya kemenangan diraih dari tim promosi Ipswich Town, menyisakan rentetan pertanyaan besar mengenai strategi transfer, pemilihan pemain, hingga kapabilitas Carrick sebagai juru taktik utama klub.
Belanja Mewah yang Belum Menghasilkan Solusi Nyata
Kritik tajam mengarah pada kebijakan transfer Manchester United yang dinilai tidak efektif meskipun telah menggelontorkan dana sebesar 155 juta poundsterling pada bursa transfer musim panas lalu. Gelandang baru Youri Tielemans masih kesulitan menemukan performa terbaiknya di lini tengah, sedangkan rekrutan anyar lainnya seperti Carlos Baleba bahkan belum mencatatkan debut resminya bersama klub.
Masalah semakin pelik karena minimnya kedalaman skuad di sektor krusial. Ketika rekor 41 penampilan beruntun Luke Shaw terhenti akibat cedera, tidak ada pelapis murni di posisi bek kiri yang memadai. Keputusan memasukkan Joshua Zirkzee hanya beberapa menit sebelum laga usai untuk menggantikan Marcus Rashford juga mempertegas minimnya opsi penyerangan yang dimiliki Carrick dalam skema transisi cepat kesukaannya.
Mantan manajer Manchester City, Enzo Maresca, bahkan secara terbuka membeberkan kelemahan taktik Carrick yang sangat bergantung pada ruang kosong di lini pertahanan lawan. Maresca menyatakan, “Mereka adalah tim yang sangat menyukai transition dan ruang kosong di lini belakang. Dengan sepuluh pemain, kami hanya perlu bertahan rendah dan menunggu mereka, sehingga kami tidak memberikan ruang sama sekali. Itulah mengapa pertandingan menjadi lebih sulit bagi kami dan juga bagi mereka.”
Ketergantungan Ekstrem pada Bruno Fernandes
Selain masalah kedalaman skuad, ketergantungan Manchester United pada kapten mereka, Bruno Fernandes, dinilai sudah berada di tahap yang mengkhawatirkan. Pemain asal Portugal tersebut merupakan satu-satunya pemain non-kiper yang tampil penuh di setiap menit dalam lima laga awal United musim ini. Padahal, kontribusi asisnya menurun drastis dari rekor musim lalu, di mana ia baru mencatatkan satu assist sejauh ini.
Kelelahan fisik Fernandes terlihat jelas saat laga derby melawan Manchester City kemarin. Publik pun mempertanyakan keputusan Carrick yang tetap memainkannya selama 90 menit penuh saat melawan klub Azerbaijan, Sabah FK, di Liga Champions, padahal United sudah unggul tiga gol di babak pertama. Kebijakan rotasi pemain Carrick yang minim ini dinilai berisiko merusak kebugaran sang kapten dalam jangka panjang.
Bayang Bayang Kutukan Ole Gunnar Solskjaer
Carrick ditunjuk sebagai manajer tetap dengan kontrak dua tahun setelah performa apik sebagai pelatih sementara (interim) pasca-pemecatan Ruben Amorim. Namun, situasi ini mengingatkan publik pada penunjukan Ole Gunnar Solskjaer pada tahun 2019 silam. Solskjaer kerap dicap bukan sebagai pelatih elite meskipun mampu membawa United finis di posisi tiga besar secara beruntun, sebuah stigma yang kini mulai membayangi Carrick.
Ketika City bermain dengan sepuluh orang, Carrick dinilai kurang berani menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain menyerang total demi mencuri kemenangan. Carrick sendiri membela diri atas hasil minor tersebut. Ia berujar, “Saya pikir kami memiliki inisiatif bermain yang cukup baik, terutama di babak kedua. Sebelum mereka mencetak gol, saya pikir kami bermain lebih baik. Kami bisa saja menyelesaikan pertandingan dengan lebih baik dan tampil sedikit lebih kreatif.”

