Konten dari Pengguna

Fatherless dan Upaya Menghadirkan Ayah dalam Pendidikan Anak

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Surya Ariwibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.freepik.com

Ayah yang Ada, tapi Tak Selalu Hadir

Fenomena fatherless di Indonesia bukan lagi sekadar urusan keluarga. Ini telah menjadi persoalan sosial yang dampaknya dirasakan langsung oleh jutaan anak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional mencatat, sekitar 20 persen anak Indonesia setara dengan 15,9 juta anak tumbuh dengan keterlibatan ayah yang minim atau tidak optimal. Artinya, satu dari lima anak Indonesia berisiko kehilangan peran ayah sebagai pendamping emosional dalam kesehariannya.

Yang sering luput disadari, kondisi fatherless tidak selalu berarti ayah benar-benar tidak ada. Banyak anak tinggal bersama ayah, tetapi tidak merasakan kehadiran peran pengasuhan yang utuh. Budaya pengasuhan yang masih menempatkan ayah sebagai pencari nafkah semata, sementara urusan pendidikan dan pembentukan karakter sepenuhnya dibebankan kepada ibu, perlahan membentuk jarak emosional antara ayah dan anak.

Saat Kehadiran Ayah Berpengaruh pada Prestasi Anak

Dari sisi pendidikan, ketidakhadiran peran ayah membawa dampak yang cukup nyata. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam kondisi fatherless cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih rendah, motivasi belajar yang menurun, serta kehadiran sekolah yang kurang optimal. Kajian sistematik dalam Jurnal Psikologi (Nurmalasari et al., 2024) menegaskan bahwa keterlibatan ayah memiliki hubungan erat dengan capaian akademik remaja.

Penelitian lain pada siswa sekolah dasar juga menemukan bahwa kondisi fatherless berkontribusi sekitar 14,4 persen terhadap rendahnya academic resilience, yakni kemampuan anak untuk bertahan dan bangkit ketika menghadapi tekanan belajar (Fajar, 2024). Dampak ini mungkin tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi berpengaruh dalam jangka panjang.

Dampak Emosional yang Sering Terlupakan

Dampak fatherless tidak berhenti di ruang kelas. Minimnya keterlibatan ayah juga berpengaruh pada aspek psikologis anak, mulai dari rasa percaya diri, pengelolaan emosi, hingga kemampuan membangun relasi sosial. Meski demikian, tidak semua anak mengalami dampak yang sama. Sebagian anak mampu tumbuh dengan baik karena dukungan kuat dari ibu, keluarga besar, atau lingkungan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa fatherless adalah fenomena yang kompleks dan tidak bisa dipukul rata.

Mengambil Rapor, Mengambil Peran

Dalam konteks ini, langkah pemerintah yang mendorong ayah untuk mengambil rapor anak di sekolah yang diperkirakan dilakukan pada pembagian rapor minggu ini menjadi kebijakan yang patut diapresiasi. Kebijakan ini bukan sekadar soal administrasi, melainkan pesan simbolik bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama ayah dan ibu.

Namun, kehadiran ayah di sekolah tidak boleh berhenti sebagai formalitas. Mengambil rapor tanpa diikuti dialog, pendampingan, dan perhatian berkelanjutan berisiko mengosongkan makna kebijakan tersebut. Padahal, keterlibatan ayah yang aktif terbukti memberi dampak positif bagi perkembangan akademik dan emosional anak.

Tagar, Dukungan, dan Perbedaan Pandangan

Kesadaran akan pentingnya peran ayah juga menguat di media sosial melalui tagar #GerakanAyahAmbilRapot dan #GerakanAyahAntarAnak. Tagar-tagar ini menjadi pengingat bahwa kehadiran ayah mengantar anak ke sekolah atau hadir saat pembagian rapor memiliki makna besar bagi perkembangan anak.

Namun demikian, tidak semua pihak menyambut kampanye ini tanpa catatan. Sebagian masyarakat menilai bahwa penggunaan tagar tersebut berpotensi menyentuh sisi sensitif, terutama bagi anak-anak yang memang tidak memiliki ayah. Kekhawatiran muncul agar ruang publik tetap inklusif dan tidak menambah beban psikologis bagi anak yang tumbuh dalam kondisi keluarga tertentu. Pandangan ini mengingatkan bahwa setiap keluarga memiliki dinamika berbeda, dan peran orang tua berjalan sesuai kondisi masing-masing.

Hadir, Peduli, dan Bertanggung Jawab

Di tengah perdebatan tersebut, muncul pula pandangan bahwa kampanye keterlibatan ayah seharusnya tidak berhenti pada aspek kehadiran simbolik. Sebagian masyarakat mendorong agar pesan ini dilengkapi dengan penekanan tanggung jawab dasar ayah, seperti kewajiban menafkahi anak, yang tercermin dalam usulan tagar #AyahWajibMenafkahi. Pandangan ini muncul dari realitas bahwa tidak semua ayah menjalankan tanggung jawab ekonomi terhadap anaknya, sehingga hak-hak dasar anak masih kerap terabaikan.

Penekanan ini penting untuk mengingatkan bahwa peran ayah bersifat utuh dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Kehadiran emosional, keterlibatan dalam pendidikan, dan tanggung jawab menafkahi merupakan satu kesatuan peran yang saling melengkapi. Mengajak ayah hadir di sekolah memang penting, tetapi memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi juga tidak kalah krusial.

Menguatkan Peran Ayah Tanpa Menghakimi

Pada akhirnya, dalam pendidikan anak bukan hanya peran ibu yang dibutuhkan. Ayah pun memegang peran yang sama pentingnya. Anak membutuhkan sosok ayah yang hadir dan peduli, baik secara fisik maupun emosional. Kehadiran ayah memberi rasa aman, pengakuan, dan dukungan yang membantu anak membangun kepercayaan diri dan karakter.

Upaya menghadirkan ayah dalam pendidikan anak perlu dilakukan secara inklusif dan berkelanjutan. Selain kebijakan simbolik dan kampanye digital, dibutuhkan perubahan cara pandang masyarakat, dukungan kebijakan kerja yang ramah keluarga, serta peran aktif sekolah dalam membuka ruang partisipasi orang tua tanpa mengabaikan keberagaman kondisi keluarga.

Tagar #GerakanAyahAmbilRapot, #GerakanAyahAntarAnak, dan #AyahWajibMenafkahi pada akhirnya bukan ajakan untuk saling menyalahkan, melainkan pengingat bahwa keterlibatan, kepedulian, dan tanggung jawab orang tua adalah investasi jangka panjang bagi masa depan anak dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.