Diversifikasi Ekonomi Bali: Menguatkan Ketahanan, Menjaga Identitas

Saya adalah mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Saya berasal dari Kediri, Jawa Timur. Saat ini saya terjun di bidang kajian budaya yang berfokus pada isu class, gender, race, dan age. Saya biasa membua
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Surya Ganda Syah Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bali selama ini dikenal sebagai ikon pariwisata Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menunjukkan bahwa sektor akomodasi dan makan-minum masih mendominasi struktur ekonomi daerah dengan kontribusi lebih dari 20% terhadap PDRB Bali tahun 2023. Dominasi ini menegaskan bahwa pariwisata tetap menjadi motor utama ekonomi Bali. Namun, ketergantungan pada satu sektor membawa kerentanan. Pandemi COVID-19 membuktikan hal ini, ketika ekonomi Bali terkontraksi hingga –9,33% pada 2020, salah satu kontraksi terdalam di Indonesia.
Kondisi tersebut memunculkan urgensi diversifikasi ekonomi. Bali perlu memperkuat sektor lain yang selama ini berada di bawah bayang-bayang pariwisata. Pertanian, misalnya, masih berkontribusi sekitar 12% terhadap PDRB Bali. Meskipun relatif kecil, sektor ini memiliki potensi strategis untuk dikembangkan sejalan dengan tren global terhadap pangan organik dan pariwisata berbasis alam.
Selain itu, potensi ekonomi kreatif dan digital juga perlu mendapat perhatian. Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, lebih dari 65% penduduk Bali berada pada usia produktif. Bonus demografi ini dapat diarahkan untuk mengembangkan wirausaha kreatif, start-up berbasis teknologi, maupun produk seni dan budaya yang tidak hanya bernilai ekonomi tetapi juga memperkuat identitas Bali.
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Bali pada Februari 2024 tercatat sekitar 2,6%, lebih rendah dibanding rata-rata nasional. Angka ini menunjukkan serapan tenaga kerja yang relatif baik. Namun, dominasi sektor informal dan pariwisata tetap menyisakan kerentanan. Diversifikasi lapangan kerja akan memberikan jaminan keberlanjutan yang lebih stabil bagi masyarakat.
Diversifikasi ekonomi Bali juga tidak boleh lepas dari upaya menjaga budaya lokal. Budaya Bali bukan sekadar atraksi wisata, melainkan jati diri yang harus dipelihara. Falsafah Tri Hita Karana yang menekankan harmoni manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta dapat dijadikan pondasi pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai daerah yang tangguh secara ekonomi dan kokoh secara budaya.
Di sinilah pentingnya peran data. Pembangunan berbasis data memungkinkan pengambilan keputusan yang tepat, terukur, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, Sensus Ekonomi 2026 yang akan dilaksanakan BPS menjadi momentum strategis bagi masyarakat dan pemerintah Bali. Partisipasi aktif dalam sensus akan menyediakan peta jalan ekonomi yang lebih jelas, mengurangi risiko salah arah kebijakan, sekaligus memperkuat dasar perencanaan pembangunan.
Bali kini ada di persimpangan. Apakah akan terus bergantung pada pariwisata, atau mulai melangkah ke arah ekonomi yang lebih beragam? Pilihan ini bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi juga soal bagaimana Bali bisa tetap berkelanjutan, mandiri, dan menjaga identitas budayanya untuk diwariskan ke generasi berikutnya.
