Media Sosial dan Pertemanan
Tulisan dari Surya Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Surya Lestari
Pernahkah kita merasa punya banyak teman di media sosial, tetapi tetap merasa sendirian?
Di media sosial, kita bisa memiliki ratusan bahkan ribuan pengikut. Setiap hari ada notifikasi yang masuk, pesan yang belum dibalas, unggahan teman yang kita lihat, serta berbagai percakapan yang berlangsung tanpa henti.
Namun, anehnya, semakin ramai kehidupan digital kita, terkadang semakin sepi kehidupan nyata kita.
Kita tahu siapa yang baru saja berlibur ke luar kota. Kita tahu siapa yang baru membeli kendaraan. Kita tahu teman kita sedang makan di restoran mana, menghadiri acara apa, bahkan sedang merasa sedih karena sebuah unggahan.
Tetapi kita belum tentu tahu bagaimana keadaan mereka sebenarnya.
Di sinilah muncul sebuah paradoks kehidupan sosial modern "kita semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat".
Ketika Pertemanan Berpindah ke Media Sosial
Internet telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Survei APJII 2026 mencatat penetrasi internet Indonesia mencapai 81,7 persen atau sekitar 235 juta jiwa. Aktivitas komunikasi dan jejaring sosial bahkan menjadi salah satu alasan terbesar masyarakat menggunakan internet.
Angka tersebut menunjukkan bahwa ruang sosial masyarakat telah mengalami perubahan besar.
Dulu, untuk mengetahui kabar teman, kita harus bertemu atau setidaknya menelepon. Sekarang, cukup membuka media sosial.
Dulu, seseorang yang tidak hadir dalam sebuah pertemuan berarti tidak mengetahui apa yang terjadi.
Sekarang, orang yang tidak hadir sekalipun bisa melihat dokumentasi acaranya beberapa menit kemudian.
Kehidupan sosial menjadi lebih cepat, lebih terbuka, sekaligus lebih dangkal.
Kita mengetahui lebih banyak hal tentang orang lain, tetapi belum tentu memahami mereka lebih dalam.
Kita Mulai Mengenal Orang dari Apa yang Mereka Tampilkan
Masalahnya bukan semata-mata pada media sosial.
Masalahnya adalah ketika kita mulai menganggap apa yang tampil di layar sebagai gambaran utuh kehidupan seseorang.
Seseorang mengunggah foto sedang tersenyum.
Kita menganggap dia bahagia.
Seseorang mengunggah perjalanan ke tempat yang indah.
Kita menganggap hidupnya menyenangkan.
Seseorang mendapatkan pekerjaan baru.
Kita menganggap hidupnya sudah mapan.
Padahal media sosial pada dasarnya adalah ruang kurasi.
Kita memilih apa yang ingin ditampilkan dan apa yang ingin disembunyikan.
Karena itu, kehidupan seseorang di media sosial tidak pernah benar-benar sama dengan kehidupan seseorang di dunia nyata.
Fenomena ini semakin menarik ketika algoritma ikut menentukan apa yang kita lihat. Pemerintah sendiri mengingatkan generasi muda agar lebih kritis terhadap algoritma media sosial karena personalisasi algoritma dapat memperbesar potongan realitas tertentu sehingga menciptakan persepsi yang tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya.
Artinya, bukan hanya kita yang memilih apa yang ingin kita lihat.
Platform juga ikut memilihkan apa yang dianggap menarik bagi kita.
Ketika Kehidupan Orang Lain Menjadi Standar Kehidupan Kita
Pernah melihat teman membeli sesuatu lalu tiba-tiba kita merasa ingin memilikinya?
Melihat orang lain menikah lalu merasa tertinggal?
Melihat teman mendapat pekerjaan bagus lalu mulai mempertanyakan diri sendiri?
Atau melihat orang lain berkumpul tanpa kita, kemudian muncul pertanyaan:
"Kenapa aku tidak diajak?"
Perasaan seperti itu bukan sesuatu yang asing.
Dalam kehidupan digital, kita hampir setiap hari diperlihatkan potongan kehidupan orang lain.
Penelitian yang diterbitkan pada 2026 mengenai Generasi Z di Indonesia menemukan bahwa doomscrolling dan Fear of Missing Out (FoMO) secara signifikan berkaitan dengan munculnya dampak emosional negatif.
Pada akhirnya, kita tidak hanya menggunakan media sosial untuk berkomunikasi.
Kita juga menggunakannya untuk membandingkan diri.
Dan di situlah persoalannya bermula.
Kita Takut Ketinggalan, Padahal Tidak Semua Hal Harus Diikuti
Dunia digital membuat kita merasa harus selalu mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ada tren baru, kita harus tahu.
Ada tempat makan baru, kita merasa harus mencoba.
Ada istilah baru, kita merasa harus memahami.
Ada teman yang sedang berkumpul, kita merasa harus ikut.
Ada isu yang sedang viral, kita merasa harus memberikan pendapat.
Seolah-olah jika kita berhenti mengikuti arus selama beberapa hari saja, kita akan tertinggal dari kehidupan.
Padahal hidup bukan perlombaan untuk mengetahui siapa yang paling cepat mengikuti tren.
Tidak semua hal yang viral harus kita ikuti.
Tidak semua perdebatan harus kita masuki.
Tidak semua kehidupan orang lain harus kita bandingkan dengan kehidupan kita.
Sayangnya, algoritma bekerja dengan cara yang berbeda.
Semakin lama kita memperhatikan sesuatu, semakin banyak hal serupa yang diberikan kepada kita.
Akibatnya, ruang digital yang kita lihat bisa terasa seperti gambaran seluruh dunia, padahal sebenarnya hanya sebagian kecil dari realitas.
Dari Berteman Menjadi "Saling Mengawasi"
Ada perubahan lain yang mungkin lebih halus.
Kita mulai terbiasa mengetahui kehidupan orang lain tanpa benar-benar berinteraksi dengan mereka.
Kita melihat story mereka.
Melihat unggahan mereka.
Menonton video mereka.
Membaca komentar mereka.
Tetapi kita tidak pernah benar-benar bertanya:
"Kamu sebenarnya baik-baik saja?"
Inilah yang membuat hubungan sosial modern terasa unik.
Kita bisa mengetahui seseorang tanpa mengenalnya.
Kita bisa mengikuti seseorang tanpa pernah berbicara dengannya.
Kita bisa mengetahui masalah seseorang melalui unggahannya, tetapi tidak pernah hadir ketika dia membutuhkan teman.
Ruang digital akhirnya membuat hubungan sosial menjadi lebih luas, tetapi tidak selalu lebih dalam.
Sebuah kajian mengenai interaksi warganet Indonesia pada 2026 bahkan menggambarkan media sosial sebagai ruang publik yang semakin besar, tempat orang mencari informasi, hiburan, komunitas, hingga membentuk opini. Namun, meningkatnya volume percakapan digital juga membawa konsekuensi berupa gesekan sosial, perundungan, dan persoalan privasi.
Namun, Media Sosial Bukan Musuh
Menyalahkan media sosial tentu terlalu sederhana.
Media sosial juga telah membantu banyak orang menemukan komunitas.
Seseorang yang merasa berbeda di lingkungan sekitarnya dapat menemukan orang-orang dengan minat yang sama melalui internet.
Orang yang tinggal jauh dari keluarga tetap bisa berkomunikasi setiap hari.
Pelaku usaha kecil bisa menemukan pelanggan.
Mahasiswa bisa menemukan informasi.
Komunitas sosial dapat menggalang bantuan.
Bahkan anak muda kini dapat menggunakan media sosial untuk menyuarakan keresahan dan terlibat dalam isu publik.
Pada 2026, sejumlah pengamat juga menyoroti meningkatnya aktivisme Gen Z melalui media sosial. Namun, mereka mengingatkan bahwa percakapan digital sebaiknya tidak berhenti pada unggahan dan komentar, melainkan diterjemahkan menjadi keterlibatan nyata di masyarakat.
Jadi persoalannya bukan apakah kita harus meninggalkan media sosial.
Persoalannya adalah apakah kita masih mampu mengendalikan cara kita menggunakannya?
Mungkin yang Kita Butuhkan Bukan Lebih Banyak Teman
Mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak followers.
Mungkin kita membutuhkan lebih banyak percakapan yang benar-benar bermakna.
Kita tidak membutuhkan ratusan orang yang mengetahui ulang tahun kita.
Kita membutuhkan beberapa orang yang bersedia datang ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.
Kita tidak membutuhkan banyak orang yang menyukai foto kita.
Kita membutuhkan seseorang yang bertanya apakah kita baik-baik saja tanpa menunggu kita mengunggah sesuatu terlebih dahulu.
Kita tidak membutuhkan kehidupan yang terlihat sempurna di internet.
Kita membutuhkan kehidupan yang terasa cukup ketika layar ponsel dimatikan.
Sebab pada akhirnya, manusia tetap membutuhkan manusia.
Teknologi dapat membuat kita terhubung dalam hitungan detik. Tetapi kedekatan, perhatian, empati, dan kepedulian tetap membutuhkan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya diberikan oleh algoritma kehadiran.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya,
"Berapa banyak orang yang mengikuti kita?"
dan mulai bertanya,
"Berapa banyak orang yang benar-benar mengenal kita?"
Karena boleh jadi, masalah kehidupan sosial kita hari ini bukan karena kita kehilangan teman.
Kita hanya sedang kehilangan cara untuk benar-benar berteman.

