Dari Mimbar ke Pusat Perubahan: Tantangan Baru Umat Islam Indonesia

Sr Human Capital Strategist, Sekjen Parsindo, Wk Ketua Peradi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Pak, anak saya ingin mondok supaya jadi ustaz."
"Itu cita-cita yang mulia," jawab saya. "Tapi setelah menjadi ustaz, apakah ia juga bisa menjadi ilmuwan, ahli teknologi, ekonom, diplomat, atau pemimpin yang membawa nilai-nilai Islam untuk menyelesaikan persoalan bangsa?"
Bapak itu tersenyum. "Memangnya itu juga tugas umat Islam?"
Pertanyaan sederhana itu sesungguhnya menyimpan persoalan besar. Selama ini, masyarakat sering memandang keberhasilan pendidikan Islam ketika mampu melahirkan guru agama, dai, khatib, atau pengelola lembaga keagamaan. Semua itu penting dan harus dihargai. Namun, di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, Indonesia memerlukan sesuatu yang lebih besar: melahirkan arsitek peradaban.
Bukan berarti Indonesia terlalu banyak memiliki ustaz atau sarjana agama. Persoalannya adalah keseimbangan. Kita cukup banyak menghasilkan administrator agama dan pendakwah agama, tetapi masih perlu memperbanyak intelektual Muslim yang mampu menjembatani ajaran Islam dengan tantangan abad ke-21, mulai dari kecerdasan buatan, ketahanan pangan, energi, ekonomi global, tata kelola negara, pendidikan, hingga etika sains.
Islam Mengajarkan Membangun Kehidupan, Bukan Sekadar Mengelola Ritual
Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah:
Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq.
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1).
Dalam ilmu nahwu, kata iqra' merupakan fi'il amr atau kata perintah. Para ulama tafsir, termasuk Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain, menjelaskan bahwa perintah membaca tidak dibatasi pada bacaan keagamaan semata, tetapi juga memahami alam, sejarah, masyarakat, dan kehidupan.
Al-Qur'an juga menyatakan:
Hal yastawilladzina ya'lamuna walladzina la ya'lamun.
"Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar: 9).
Kata ya'lamun berasal dari akar kata 'alima, yang menunjukkan makna pengetahuan secara luas. Para ulama ushul fikih memahami bahwa Islam menghargai setiap ilmu yang membawa kemaslahatan.
Dalam kitab Al-Muwafaqat, Imam Abu Ishaq asy-Syathibi menjelaskan teori maqashid syariah, bahwa tujuan syariat adalah menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dalam konteks modern, menjaga akal berarti mengembangkan pendidikan dan ilmu pengetahuan, sedangkan menjaga harta dan jiwa menuntut penguasaan ekonomi, teknologi, kesehatan, dan tata kelola yang baik.
Karena itu, membangun laboratorium, mengembangkan teknologi pangan, menciptakan energi ramah lingkungan, atau merancang kecerdasan buatan yang beretika dapat dipandang sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan kemaslahatan.
Mengapa Indonesia Membutuhkan Arsitek Peradaban?
Indonesia tidak kekurangan ulama.
Indonesia juga tidak kekurangan akademisi Muslim.
Yang masih perlu diperkuat adalah sosok yang mampu menghubungkan ilmu agama dengan kebutuhan bangsa.
Dalam sejarah Indonesia, tokoh-tokoh Islam besar hampir selalu memiliki wawasan yang luas.
Haji Agus Salim bukan hanya ulama dan aktivis, tetapi juga diplomat internasional yang menguasai banyak bahasa asing.
Mohammad Natsir tidak hanya berbicara tentang dakwah, tetapi juga pendidikan, politik, dan hubungan dunia Islam.
Buya Hamka adalah ulama sekaligus sejarawan, sastrawan, wartawan, dan pemikir sosial yang mampu menjelaskan Islam dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat.
Mereka memahami bahwa dakwah bukan hanya dilakukan di mimbar, tetapi juga di ruang kelas, meja perundingan, dunia literasi, dan kebijakan publik.
Dalam kitab Muqaddimah, Ibn Khaldun menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa bergantung pada kemampuan membangun ilmu pengetahuan, tata kelola, dan solidaritas sosial. Peradaban akan melemah jika masyarakat hanya mempertahankan tradisi tanpa mengembangkan inovasi.
Pandangan ini relevan dengan Indonesia hari ini. Tantangan bangsa tidak lagi hanya berkaitan dengan persoalan ibadah individual, tetapi juga menyangkut keamanan pangan, transformasi digital, energi, kesehatan, perubahan iklim, dan daya saing ekonomi.
Persoalan-persoalan itu membutuhkan perspektif keislaman sekaligus keahlian profesional.
Tantangan Peradaban Baru dan Potensi Besar Indonesia
Dunia sedang memasuki era baru.
Kecerdasan buatan mulai mengubah dunia kerja.
Persaingan energi menentukan kekuatan ekonomi negara.
Ketahanan pangan menjadi isu strategis.
Perkembangan bioteknologi memunculkan persoalan etika baru.
Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menghadapi perubahan tersebut.
Penduduk Indonesia lebih dari 280 juta jiwa, dengan mayoritas beragama Islam.
Indonesia juga memiliki puluhan ribu pesantren, ribuan madrasah, serta ratusan perguruan tinggi Islam.
Ini adalah modal sosial dan intelektual yang sangat berharga.
Namun, modal besar itu perlu diarahkan pada kebutuhan zaman.
Pesantren dapat memperkuat pendidikan sains dan teknologi.
Perguruan tinggi Islam dapat mengembangkan kajian etika kecerdasan buatan dan ekonomi digital.
Lembaga dakwah dapat memperluas pembahasan tentang lingkungan hidup, kesehatan, kewirausahaan, dan inovasi sosial.
Dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim, Imam Burhanuddin az-Zarnuji menjelaskan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu yang paling banyak manfaatnya bagi kehidupan manusia.
Prinsip ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia saat ini, yakni membangun tradisi ilmu yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Dari Administrator Agama Menuju Arsitek Peradaban
Barangkali kritik yang perlu disampaikan bukanlah bahwa Indonesia terlalu banyak memiliki ustaz atau sarjana agama.
Yang perlu direnungkan adalah apakah sistem pendidikan dan budaya intelektual kita telah cukup mendorong lahirnya generasi Muslim yang mampu memadukan keulamaan, keilmuan, dan kepemimpinan sosial.
Kita membutuhkan dai yang memahami ekonomi digital.
Kita membutuhkan ulama yang mengerti persoalan lingkungan.
Kita membutuhkan ahli teknologi yang memahami etika Islam.
Kita membutuhkan birokrat yang memiliki integritas moral.
Kita membutuhkan akademisi yang tidak hanya mengejar angka publikasi, tetapi juga menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Indonesia sesungguhnya memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pemikiran Islam dunia. Modal demografi, tradisi pesantren, pengalaman hidup dalam masyarakat majemuk, dan sejarah panjang intelektual Islam Nusantara merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara lain.
Yang diperlukan adalah perubahan cara pandang. Pendidikan Islam tidak cukup hanya mencetak penjaga tradisi, tetapi juga pembaru yang tetap berakar pada tradisi. Dakwah tidak cukup hanya menjawab pertanyaan halal dan haram, tetapi juga memberi arah terhadap perubahan zaman.
Sebab, ukuran kemajuan umat Islam pada abad ke-21 bukanlah seberapa banyak ceramah yang disampaikan atau seberapa ramai perdebatan yang terjadi, melainkan seberapa besar kontribusi nyata yang diberikan untuk menyelesaikan persoalan bangsa dan kemanusiaan.
Jika masa lalu Indonesia melahirkan Haji Agus Salim, Mohammad Natsir, dan Buya Hamka, maka tantangan generasi sekarang adalah melahirkan tokoh-tokoh baru yang mampu menggabungkan lima kekuatan sekaligus: keulamaan, kecendekiaan, kenegarawanan, kemampuan komunikasi publik, dan visi peradaban.
Karena, sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan penjaga nilai-nilai luhur agama, tetapi juga orang-orang yang mampu menerjemahkan nilai-nilai itu menjadi ilmu, kebijakan, inovasi, dan karya yang memberi manfaat bagi masa depan. Itulah yang dapat disebut sebagai arsitek peradaban, dan Indonesia memiliki semua modal untuk melahirkannya.
