Konten dari Pengguna

Ketika Self-Reward Menjadi Self-Trap

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pexels/Sam Lion
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pexels/Sam Lion

"Aku pantas membeli ini, kan sudah kerja keras." Kalimat seperti itu mungkin pernah terlintas di benak banyak orang. Setelah menyelesaikan pekerjaan, menghadapi tekanan kuliah, atau berhasil mencapai target tertentu, membeli barang yang diinginkan sering dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri atau self-reward. Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan kebiasaan tersebut.

Menghargai usaha yang telah dilakukan memang penting agar seseorang tetap termotivasi. Namun, makna self-reward perlahan mengalami pergeseran. Di media sosial, istilah ini semakin sering dikaitkan dengan aktivitas konsumtif, seperti membeli pakaian baru, menikmati makanan mahal, berburu produk yang sedang viral, hingga berlibur ke tempat yang sedang tren.

Banyak konten yang seolah-olah menyampaikan bahwa setiap pencapaian harus dirayakan dengan membeli sesuatu. Akibatnya, self-reward bukan lagi sekadar bentuk apresiasi terhadap diri, melainkan menjadi pembenaran untuk terus berbelanja. Di sisi lain, media sosial juga membentuk standar baru tentang bagaimana seseorang "menghargai diri".

Unggahan mengenai kopi di kafe, haul belanja, staycation, atau barang-barang bermerek sering dikemas sebagai bentuk self-reward. Tanpa disadari, banyak orang mulai merasa bahwa menghargai diri harus selalu diwujudkan melalui pembelian. Padahal, setiap orang memiliki kondisi keuangan yang berbeda. Ketika keinginan mengikuti tren lebih besar daripada kemampuan finansial, yang muncul justru tekanan dan rasa bersalah setelah berbelanja.

Self-reward penting untuk menjaga keseimbangan hidup. Hanya saja, sudah saatnya kita memaknai kembali arti menghargai diri. Self-reward tidak selalu harus dibayar dengan uang. Memberi waktu untuk beristirahat tanpa merasa bersalah, menikmati hobi, membaca buku, berjalan santai di taman, memasak makanan favorit di rumah, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat juga merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Ukuran self-reward bukan terletak pada seberapa mahal hadiah yang kita beli, melainkan pada apakah hal tersebut benar-benar membawa manfaat bagi diri kita. Menghargai diri bukan berarti selalu memenuhi setiap keinginan, tetapi juga berani membedakan antara kebutuhan dan dorongan sesaat. Sebab, self-reward yang sehat seharusnya membuat hidup terasa lebih ringan, bukan meninggalkan beban yang harus dibayar di kemudian hari.