Diaspora Indonesia di Belanda: Sejarah, Persebaran, dan Potensi untuk Timnas

Freelance Writer with Sports enthusiast, interested in history, politically literate, studying tech. Bachelor of Informatics Engineering at Mataram University.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syahrul Amri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Diaspora Indonesia di Belanda
Diaspora Indonesia di Belanda memiliki akar yang mendalam, dimulai sejak masa penjajahan Hindia Belanda. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, banyak orang Indonesia yang dikirim atau pindah ke Belanda, baik untuk keperluan pendidikan, pekerjaan, maupun sebagai bagian dari kebijakan kolonial. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, gelombang migrasi lain terjadi, terutama dari komunitas Indo-Eropa (Indo), yang memilih menetap di Belanda karena hubungan historis dan budaya.
Pada era 1950-an, eksodus besar-besaran terjadi dari Maluku, ketika ribuan orang Maluku yang pernah menjadi bagian dari tentara kolonial Belanda (KNIL) dipindahkan ke Belanda. Mereka awalnya diharapkan tinggal sementara, tetapi akhirnya menetap secara permanen. Generasi keturunan mereka kini menjadi bagian penting dari diaspora Indonesia di Belanda, dengan kontribusi besar dalam berbagai bidang, termasuk olahraga.
Persebaran Diaspora Indonesia
Saat ini, diaspora Indonesia tersebar di seluruh Belanda, dengan konsentrasi terbesar di kota-kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam, Den Haag, dan Utrecht. Komunitas diaspora ini mencakup berbagai kelompok, mulai dari keturunan Indo, masyarakat Maluku yang merupakan keturunan mantan tentara Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), hingga pelajar dan pekerja profesional Indonesia yang datang dalam dekade terakhir.
Generasi pertama dan kedua diaspora memiliki keterkaitan yang erat dengan budaya Indonesia, baik misalnya melalui tradisi, bahasa, hingga kuliner. Namun, generasi ketiga dan keempat mulai kehilangan keterkaitan langsung dengan Indonesia, meskipun banyak yang masih bangga dengan warisan budaya mereka.
Potensi Diaspora untuk Timnas Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, diaspora Indonesia di Belanda telah menjadi sumber pemain potensial untuk tim nasional Indonesia. Beberapa pemain keturunan Indonesia yang telah bermain atau hampir membela timnas Indonesia antara lain mulai dari Stefano Lilipaly, Sandy Walsh, hingga Shayne Pattynama. Mereka menunjukkan bahwa diaspora bisa menjadi aset besar untuk meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia.
Namun, sesuai aturan FIFA, pemain yang ingin membela timnas harus memiliki hubungan darah langsung dengan negara yang diwakilinya, minimal melalui kakek atau nenek. Ini berarti hanya pemain keturunan generasi pertama dan kedua yang memenuhi syarat. Generasi ketiga dan seterusnya akan menghadapi kesulitan karena tidak lagi memiliki hubungan darah langsung dengan Indonesia.
Berapa Lama Lagi Potensi Diaspora Bisa Dimanfaatkan?
Dalam 10 tahun ke depan, talent pool pemain diaspora yang eligible diperkirakan akan semakin menyempit. Generasi kedua, yang saat ini berada di usia produktif, masih memenuhi syarat, tetapi generasi berikutnya, yang lebih jauh dari akar Indonesia, kemungkinan besar tidak akan memenuhi kriteria FIFA.
Untuk memastikan ketersediaan pemain diaspora dalam jangka panjang, PSSI perlu mengambil langkah-langkah berikut:
Segera Mengidentifikasi Pemain Potensial: Fokus pada pemain keturunan generasi kedua yang masih memenuhi syarat saat ini. Pemantauan bakat di liga-liga Belanda atau liga di eropa lainya perlu diperkuat, termasuk menjalin hubungan dengan akademi sepak bola setempat.
Membangun Hubungan dengan Generasi Muda: PSSI harus menanamkan kebanggaan pada identitas Indonesia sejak dini di kalangan diaspora. Program seperti pelatihan sepak bola dengan sentuhan budaya Indonesia atau kamp sepak bola di Indonesia bisa menjadi cara untuk memperkuat keterkaitan emosional mereka.
Mendorong Perubahan Aturan FIFA: Jika memungkinkan, PSSI dapat melobi FIFA untuk memperlonggar aturan eligibility misalnya hingga generasi ketiga, sehingga pemain dengan ikatan sejarah atau budaya, meskipun tanpa hubungan darah langsung, bisa mewakili negara asal nenek moyang mereka.
Mengembangkan Program Naturalisasi yang Berkelanjutan: Naturalisasi pemain diaspora yang memiliki kualitas tinggi harus dilakukan secara selektif dan terencana misalnya memperhatikan faktor usia produktif pemain, dengan mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang timnas.
Kesimpulannya, Diaspora Indonesia di Belanda adalah aset berharga yang bisa membantu meningkatkan kualitas timnas Indonesia. Namun, tanpa langkah strategis, potensi ini akan semakin sulit dimanfaatkan dalam 10–15 tahun ke depan karena keterbatasan aturan FIFA dan berkurangnya hubungan langsung generasi diaspora dengan Indonesia. Oleh karena itu, PSSI perlu segera mengambil tindakan untuk memaksimalkan potensi ini, baik melalui identifikasi pemain, pembinaan hubungan dengan generasi muda diaspora, maupun advokasi perubahan aturan internasional. Dengan strategi yang tepat, warisan diaspora Indonesia di Belanda dapat terus memberikan kontribusi besar bagi sepak bola Indonesia di masa depan.
