Simfoni Para Pesakitan Dan Komedi Para Tuan

Mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra indonesia, universitas syiah kuala
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syarifudin Brutu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Syarifudin Brutu
Malam di RUPBASAN (Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara) bukan sekadar sunyi; ia adalah kuburan bagi martabat. Di sini, udara berbau besi karat, keringat rakyat yang mengering, dan parfum oud seharga gaji guru honorer setahun. Di gudang pengap ini, benda-benda sitaan terbagi dalam kasta yang lebih kaku daripada kasta di tanah India.
Di sisi utara, di atas meja jati yang entah bagaimana bisa ikut disita, bertenggerlah sebuah Jam Tangan Swiss berlapis safir. Di sampingnya, sebuah Tas Kulit Buaya—yang buayanya mungkin lebih punya nurani daripada pemiliknya—bersandar manja.
"Tidakkah kau merasa udara di sini terlalu proletar?" gumam si Jam Tangan, detaknya terdengar seperti ketukan palu hakim yang sudah disuap.
"Sabar, Sayang," sahut si Tas Kulit dengan nada meremehkan. "Pemilik kita sedang 'berlibur' di sel yang punya fasilitas Netflix dan mesin kopi. Paling setahun lagi dia keluar, lalu mencalonkan diri jadi wakil rakyat. Di negeri ini, korupsi itu seperti jerawat; sebentar merah, setelah pecah malah makin bersih."
Mereka tertawa. Suara tawa yang terdengar seperti gesekan lembaran uang seratus ribuan.
Hanya berjarak lima meter, namun terasa seperti dipisahkan oleh Samudra Hindia, tergeletaklah sang tokoh utama kita: sebuah Kamera Mirrorless yang layarnya retak. Ia terduduk di atas lantai semen dingin, diapit oleh sebuah Grobak Sorong yang as-nya bengkok dan sebuah Joran Pancing yang talinya putus.
"Dengar tidak?" bisik si Kamera, sensornya berkedip merah lemah. "Bos videograferku barusan dijatuhi vonis. Jaksa bilang, keahliannya adalah 'kerugian negara'. Katanya, jempolnya yang lihai melakukan color grading itu adalah instrumen kejahatan. Mereka menghitung biaya editing dengan kalkulator tukang sayur yang sedang mabuk."
Grobak Sorong itu berdeham, mengeluarkan suara derit yang menyayat hati. "Jangan heran, Kamera. Di Republik Halusinasi ini, 'Bekerja Sesuai Jurusan' adalah pasal karet yang paling mematikan. Aku di sini karena pemilikku, seorang kuli bangunan, dituduh 'merusak estetika jalan protokol' saat mengangkut semen untuk proyek yang anggarannya dipotong 70% oleh atasan si Jaksa itu."
Joran Pancing ikut menimpali, suaranya parau. "Aku lebih lucu lagi. Nelayanku dituduh 'mencuri kekayaan hayati' karena dia tahu titik koordinat ikan berkumpul. Padahal dia belajar itu dari kakeknya selama puluhan tahun. Di negeri ini, kalau kau terlalu pintar di bidangmu, kau dianggap 'curang' oleh birokrasi yang isinya orang-orang goblok bersertifikat."
Tiba-tiba, si Jam Tangan Mewah melirik ke bawah, ke arah si Kamera. "Heh, alat rekam murahan! Kenapa pemilikmu bodoh sekali? Kenapa dia tidak belajar memotret 'pintu belakang' saja? Atau merekam transaksi di bawah meja? Kalau dia ahli di bidang itu, dia tidak akan duduk di lantai semen itu bersamamu. Dia akan duduk di kursi empuk, memegang cerutu, sambil menertawakan pasal-pasal yang dia buat sendiri."
Si Kamera Mirrorless mengangkat lensanya, menatap tajam ke arah Jam Tangan itu. "Pemilikku punya harga diri yang tidak bisa kau hitung dengan kurs Dollar, Jam Sialan. Dia memasukkan keindahan ke dalam sensor-ku. Sedangkan pemilikmu? Dia memasukkan masa depan anak cucu negeri ini ke dalam kantong pribadinya."
"Harga diri?" si Tas Kulit Buaya tertawa terpingkal-pingkal sampai jahitan aslinya hampir lepas. "Di sini, harga diri itu cuma diksi di buku sastra yang sudah berdebu. Wibawa konstitusi itu seperti filter Instagram; cuma dipakai buat mempercantik tampilan luar supaya tidak kelihatan kalau dalamnya sudah busuk dan bernanah!"
Malam semakin larut. Di luar, gedung-gedung pemerintah berdiri megah, dibangun dari pajak para videografer, kuli, dan nelayan yang kini mendekam di balik jeruji.
"Jadi," tanya si Grobak Sorong, "Siapa lagi yang akan menyusul kita bulan depan?"
"Mungkin seorang Penulis," jawab si Kamera getir. "Yang tulisannya terlalu tajam hingga menusuk perut buncit para pembuat kebijakan. Atau mungkin seorang Pelukis yang warna catnya dianggap 'menghina' warna bendera partai. Di Republik Halusinasi, profesi adalah ancaman, keahlian adalah barang bukti, dan penjara adalah tempat bagi siapa saja yang gagal menjadi penjilat."
Di sudut ruangan, sebuah bendera kusam yang jadi barang bukti kasus demonstrasi hanya bisa terdiam. Ia ingin berkibar, tapi angin keadilan di ruangan itu sudah lama mati, digantikan oleh AC dingin yang hanya meniupkan aroma amis dari Kasta Utara.
"Selamat tidur, Keadilan," bisik si Kamera sebelum lensanya tertutup selamanya oleh debu RUPBASAN. "Semoga besok pagi kau bangun dalam keadaan sudah tidak dijual belikan."
