Konten dari Pengguna

Bersenang-senang Saat Kerja, Bersedih-sedih Saat Pensiun

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Raka adalah sosok yang selalu terlihat bahagia di tempat kerja. Gajinya besar, lingkar pergaulannya luas, dan setiap akhir pekan ia hampir selalu bepergian. Sering healing sambil menikmati hasil kerjanya. Baginya, hidup adalah tentang menikmati hari ini. Ia percaya, selama masih muda dan berpenghasilan, tidak ada alasan untuk menahan diri dari kesenangan. Hitung-hitung memanjakan diri dari jerih payah sendiri, benar banget sih.

Setiap kali menerima gaji, Raka langsung merencanakan liburan, membeli barang-barang baru, atau menghabiskan waktu di tempat hiburan. Rekeningnya jarang benar-benar terisi penuh. Ia tidak pernah memikirkan tabungan jangka panjang, apalagi dana pensiun. Ketika ada rekan kerja yang mulai berinvestasi atau ikut program pensiun, ia justru menganggap mereka terlalu khawatir terhadap masa depan. Jangan terlalu khawatir dengan masa tua.

“Tua itu masih lama,” begitu kalimat yang sering Raka ucapkan. Ia yakin kariernya akan terus moncer. Kerja keras sudah cukup jadi modal untuk naik jabatan dan penghasilannya makin meningkat. Sebagai pekerja, uangnya selalu cukup. Bahkan ketika perusahaannya menawarkan program dana pensiun tambahan, Raka menolaknya. Baginya, potongan gaji sekecil apa pun terasa sayang jika tidak bisa dinikmati saat itu juga. Mumpung masih muda, batinnya.

Tahun demi tahun berlalu. Tanpa terasa, usia Raka mendekati masa pensiun. Masa kerjanya sudah lebih dari 28 tahun. Gaya hidupnya tidak banyak berubah, sementara tabungan nyaris tidak ada. Saat akhirnya ia benar-benar berhenti bekerja, barulah ia merasakan perubahan besar dalam hidupnya. Tidak ada lagi gaji bulanan, tidak ada lagi bonus, dan tidak ada lagi fasilitas kantor yang dulu ia nikmati.

pentingnya mempersiapkan pensiun selagi kerja

Di awal masa pensiun, Raka masih mencoba mempertahankan gaya hidup lamanya. Ia menggunakan sisa uang yang ada untuk tetap bersenang-senang, seolah belum siap menerima kenyataan. Namun, uang itu cepat habis. Kebutuhan hidup tetap berjalan, bahkan biaya hari-harinya kian meningkat. Apalagi biaya kesehatan makin besar seiring bertambahnya usia.

Beberapa tahun kemudian, kehidupan Raka berubah drastis. Ia harus hidup dengan sangat hemat, bahkan sering kali kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Dari seseorang yang dulunya pekerja keras, selalu tampil percaya diri dan dikelilingi teman, kini ia lebih sering sendiri, memikirkan bagaimana cara bertahan hidup. Penyesalan mulai datang, namun semuanya sudah terlambat. Apa daya, Raka harus menjalani hari tuanya dengan keuslitan keuangan. Akibat tidak mau mempersiapkan masa pensiunnya sendiri dan terlalu bersenang-senang di saat bekerja.

Dalam keheningan hari-harinya, Raka menyadari satu hal penting: kesenangan sesaat yang ia kejar selama bertahun-tahun sata bekerja ternyata harus dibayar mahal di masa tua. Ia belajar dengan cara yang paling pahit bahwa masa pensiun bukanlah waktu untuk menyesal, melainkan hasil dari keputusan-keputusan yang diambil sejak masa bekerja. Kisah Raka menjadi pengingat bahwa menikmati hidup itu penting, tetapi mempersiapkan masa pensiun jauh lebih penting.

Sebab siapapun yang bekerja, cepat atau lambat akan pensiun. Hari tua pasti tiba, masalahnya sudah siap atau belum? #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPK #DanaPensiun