Konten dari Pengguna

Di Balik Obrolan Makan Siang Dekat Kampus

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sering kali hidup terasa berat bukan semata karena masalah yang datang, tetapi karena isi kepala yang terlalu ramai oleh kekhawatiran, prasangka, iri hati, dan luka yang terus dipelihara. Pikiran yang penuh membuat seseorang mudah lelah sebelum benar-benar melangkah. Sementara hati yang kotor membuat seseorang sulit melihat kebaikan, mudah curiga, dan merasa dunia selalu tidak berpihak padanya. Padahal ketenangan hidup tidak hanya ditentukan oleh keadaan luar, tetapi juga oleh kebersihan batin di dalam diri.

Karenanya kita perlu rileks sejenak. Sambil menata kembali sikap empati. Sebab ketika seseorang kehilangan empati, hidup biasanya terasa lebih sempit. Ia sibuk menilai orang lain, tetapi lupa memahami perjuangan dan ikhtiar diri sendiri. Padahal setiap orang sedang berjuang dengan masalahnya masing-masing. Empati membuat hati menjadi lebih lembut dan pikiran lebih jernih, karena kita belajar melihat manusia dengan rasa peduli, bukan sekadar penilaian. Orang yang memiliki empati biasanya lebih mudah tenang, sebab ia tidak sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Silaturahmi juga memiliki hubungan kuat dengan kesehatan batin. Hubungan yang baik dengan keluarga, sahabat, tetangga, dan rekan kerja dapat menjadi tempat berbagi pikiran, berbagi cerita. Banyak orang terlihat kuat di luar, tetapi sebenarnya lelah karena memendam semuanya sendirian. Silaturahmi menghadirkan rasa diterima dan didengar. Dari obrolan sederhana, sapaan hangat, atau saling mendoakan, hati yang semula berat perlahan menjadi lebih ringan.

Di balik obrolan makan siang dekat kampus

Sebaliknya, ketika hati dipenuhi dendam dan ego, seseorang akan mudah memutus hubungan dengan orang lain. Ia merasa paling benar, sulit meminta maaf, dan enggan memahami sudut pandang orang lain. Akibatnya, hidup terasa makin sepi meskipun dikelilingi banyak orang. Batin yang kotor memang sering membuat seseorang kehilangan rasa syukur dan sulit merasakan damai. Karena itu, membersihkan hati bukan hanya soal ibadah, tetapi juga tentang belajar memaafkan, menghargai, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Berbekal semangat empati itulah, saya bersama tim Personalia Universitas Indraprasta PGRI bersilaturahmi dalam suasana hangat dan saling berbagi cerita. Di sela kesibukan bekerja, kita ngobrol ringan sambil menikmati hidangan siang. Agar lebih rileks dan tenang dalam kehidupan. Ada obrolan serius, ada obrolan yang penuh tawa. Begitulah obrolan makan siang di dekat kampus Unindra.

Sebab pada akhirnya, ketenangan hidup tidak datang dari harta, jabatan, atau pujian manusia. Ketenangan lahir dari pikiran yang sehat, hati yang bersih, empati yang tulus, dan silaturahmi yang terjaga. Saat kita mulai mengurangi prasangka, sudah pasti hidup terasa lebih ringan. Sebab hati yang bersih akan memudahkan kita melihat bahwa kebahagiaan sering hadir lewat hubungan baik dan rasa kasih kepada orang lain. Empati dan silaturahmi, sebuah spirit yang mungkin kini mulai banyak ditinggalkan orang.

Ketahuilah, hidup terasa berat bukan karena dunia terlalu keras. Tapi karena kepala kita terlalu penuh dan batin terlalu kotor. Menjaga tubuh itu penting. Tapi menjaga isi pikiran dan hati jauh lebih penting. Karena otak yang lelah akan membuat kita overthinking. Dan batin yang kotor akan membuat kita sulit tenang meski hidup kita terlihat baik-baik saja. Salam hangat!