Makin Kacau karena Tidak Tenang

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari ini, budaya reaksi instan membuat orang terbiasa menilai apapun dari permukaan. Seperti invasi AS-Israel ke Iran yang menewaskan ratusan anak-anak. Aneh, zaman sekarang siapa yang paling cepat merespons dianggap paling kuat. Siapa yang paling keras bersuara dianggap paling berani. Akibatnya, orang tenang sering disalahpahami. Orang tenang dianggap tertinggal. Orang diam malah dikira tidak tahu apa-apa. Begitulah pikiran orang-orang yang tidak tenang.
Jadilah tenang. Sebab orang tenang mengendalikan situasi dengan menjaga posisinya. Tidak perlu emosi apalagi amarah. Orang tenang itu tetap stabil. Tidak naik turun mengikuti suasana. Saat situasi berubah, orang tenang justru menyesuaikan diri, bukan bereaksi. Untuk menentukan langkah yang tepat, tanpa perlu kehilangan arah. Hanya orang tenang yang memiliki solusi, bukan reaksi. Tidak perlu menjawab dengan meluapkan perasaan. Tapi bersikap untuk mengarahkan situasi ke arah yang lebih baik. Mungkin agak terlambat tapi lebih efektif. Karena tenang, banyak orang lain kehilangan pegangan. Orang tenang tidak memberi apa yang dicari oleh siapapun yang provokatif.
Entah kenapa, di dunia yang bising dan serba reaktif, ketenangan sering dianggap sebagai kelemahan. Orang yang tidak banyak bicara dikira tidak paham. Orang yang tidak bereaksi cepat dianggap kalah. Orang diam dianggap pasif. Lupa ya, tenang itu dipilih untuk membaca situasi dan menghindari jebakan oranglain. Tenang itu bukan kehilangan kendali, justru sedang memegang kendali. Sebab tenang, memberi ruang untuk memahami situasi secara utuh. Tidak terburu-buru menyimpulkan, tidak cepat menghakimi. Orang tenang, justru mengamati siapa yang terlibat, apa kepentingannya, dan ke mana arah masalah sebenarnya?
Jadi, tenang itu bukan ketidak-tahuan. Diam pun bukan ketidakmampuan. Tapi cara untuk kontrol diri, menghindari emosi, dan sadar bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi. Banyak orang niatnya membantu tapi malah memperburuk keadaan, karena tidak tenang. Bersikap tenang inilah yang sering disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal, justru menahan diri untuk tidak bereaksi itu adalah kekuatan yang tidak dimiliki semua orang.
Ketika tenang, setiap orang tidak akan membiarkan emosi mengambil alih arah. Agar lebih jernih menyikapi keadaan dan keputusan yang diambil lebih objektif. Dan akhirnya, orang tenang tidak peduli pada urusan orang lain. Sebab orang tenang, hanya diam atau membaca buku.
Banyak hal makin kacau, makin rusak karena satu hal: tidak tenang. Salam literasi!
