Konten dari Pengguna

Mbah Titut, Sosok di Balik Hidupnya Kembali Cowongan Banyumas

Syerly Anggraeni Puspita Sari

Syerly Anggraeni Puspita Sari

Saya adalah seorang Mahasiswi - Ilmu Komunikasi - Universitas Amikom Purwokerto yang suka membaca dan memasak

·waktu baca 6 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syerly Anggraeni Puspita Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sosok di balik kesenian cowongan

Mbah Titut Edi Purwanto, seniman Banyumas. Sumber: Dokumentasi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Mbah Titut Edi Purwanto, seniman Banyumas. Sumber: Dokumentasi Penulis

Mbah Titut Cowongsewu adalah sosok Banyumas yang tidak sekadar hidup untuk dirinya sendiri, tetapi memilih menghidupkan kembali sesuatu yang hampir mati, tradisi, rasa, dan identitas. Di tengah dunia yang berlari semakin cepat dan sering melupakan akar, ia berdiri seperti pohon tua yang kokoh menahan angin, memastikan budaya tidak tercerabut dari tanah yang melahirkannya. Nama lengkapnya adalah Titut Edi Purwanto, namun masyarakat lebih mengenalnya sebagai Mbah Titut, seorang lelaki yang memilih setia pada Banyumas ketika banyak orang justru pergi meninggalkannya. Dari Banyumas ia lahir, di Banyumas ia bertahan, dan untuk Banyumas pula ia menanam cinta agar tidak ada yang benar-benar hilang dari ingatan waktu. Cowongan, yang dulunya dikenal sebagai ritual pemanggil hujan, adalah salah satu jejak budaya yang hampir tenggelam oleh arus modernitas. Sebelum tangan Mbah Titut menyentuhnya kembali, cowongan seperti tubuh yang masih bernyawa namun ditinggalkan, pernah hidup, pernah berarti, tetapi perlahan dilupakan.

Bagi sebagian orang modern, cowongan hanyalah cerita lama yang tidak lagi relevan, sekadar tradisi kuno yang dianggap tidak perlu dirawat. Namun bagi Mbah Titut, tradisi bukan benda mati. Tradisi adalah jantung; selama masih berdetak, ia harus dijaga, dirawat, dan diberi ruang untuk bernapas. Di tangannya, cowongan tidak lagi berdiri hanya sebagai ritual pemanggil hujan. Ia menggeser makna tanpa memutus akar, mengubahnya menjadi kesenian yang berbicara lebih luas, tentang cinta kepada alam, tentang kedekatan manusia dengan tanah, tentang kesadaran bahwa bumi bukan sekadar tempat berpijak, melainkan rumah yang harus dijaga. Cowongan yang dulu hanya dilihat sebagai simbol mistis, kini berubah menjadi bahasa ekologis yang mengingatkan manusia agar tidak sombong pada alam yang sedang ia pijak. Di tangan Mbah Titut, tradisi menemukan tubuh barunya masih tua, masih sakral, tetapi lebih muda dalam cara bicara.

Mbah Titut Melantunkan Syair Cowongan di Tengah Ladangnya. Sumber: Screenshot Film Dokumenter Asih

Namun, perjalanan mempertahankan tradisi tidak pernah semulus jalan aspal kota. Menghidupkan yang lama sering dianggap tidak relevan oleh sebagian orang. Ada penolakan, ada cemooh, ada ragu, ada yang menganggapnya hanya romantisme masa lalu yang tidak perlu dipertahankan. Modernitas sering kali mengajarkan jarak dari akar, dan bagi sebagian orang, kembali ke tradisi dianggap seperti berjalan mundur. Beberapa orang mencibir, sebagian menggeleng, sebagian lainnya memilih diam sambil memandang sinis. Tetapi seperti batu yang teguh diterpa angin, Mbah Titut memilih untuk tidak bergeser dari keyakinannya. Bukan karena keras kepala, tetapi karena cinta yang tidak bisa dikompromikan.

Waktu akhirnya membuktikan bahwa ketulusan tidak pernah sia-sia. Dari tangan dan gagasannya lahirlah Jerami Festival, sebuah perayaan yang bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi ruang penciptaan rasa. Dari jerami yang selama ini hanya dianggap sisa, ia menghidupkan imajinasi, menyulam cerita, dan membangunkan kembali memori kolektif masyarakat tentang betapa kayanya Banyumas. Jerami yang dulu hanya dibakar atau dibuang, kini menjelma menjadi tokoh, rupa, karya, dan jiwa. Di Jerami Festival, orang-orang belajar bahwa sesuatu yang sederhana bisa menjadi luar biasa ketika disentuh oleh rasa.

Boneka Cowongan. Sumber: Dokumentasi Penulis

Festival itu bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan rasa. Orang yang datang tidak hanya menatap karya, tetapi juga diajak merasakan sesuatu. Mereka seolah disadarkan bahwa banyak hal yang sering dianggap kecil, biasa, bahkan remeh, sebenarnya menyimpan makna besar jika diberi perhatian. Lewat jerami, Mbah Titut seperti menulis ulang cerita tradisi: bahwa ia masih bisa bernapas, masih bisa bicara, masih bisa hidup di tengah dunia yang terus berubah. Tetapi Mbah Titut tidak hanya hidup dari karya dan gagasan besar. Di balik sosoknya sebagai seniman dan penjaga tradisi, ia adalah pribadi yang sederhana. Hidupnya membumi, langkahnya pelan tetapi pasti, dan wajahnya menyimpan ketenangan yang hangat. Dalam kesehariannya, ia dekat dengan alam. Ladang bukan hanya tempat menanam, tetapi juga ruang dialog antara dirinya dan kehidupan. Tanaman yang ia rawat bukan sekadar tanaman; pepaya, jambu, pisang, dan berbagai tumbuhan lainnya tumbuh seolah mengerti bahwa tangan yang menyentuh mereka adalah tangan yang penuh kasih.

Setiap pagi, saat embun masih menggenggam daun-daun muda, Mbah Titut melangkah ke ladang dengan tenang. Caping meneduhkan kepalanya seperti sahabat lama yang tidak pernah bosan mendampingi. Ia menyuburkan tanah, memupuk tanaman, membersihkan gulma dengan kesabaran yang tidak dibuat-buat, seolah ladang itu memiliki telinga yang sanggup mendengar doa-doanya. Tanaman-tanaman itu seperti anak-anak yang dititipkan kepadanya; mereka tumbuh bukan hanya karena air dan tanah, tetapi karena cinta yang ia tanamkan di setiap sentuhannya. Ketika matahari perlahan merunduk dan cahaya keemasan hilang ditelan malam, ia sering masih berada di ladangnya. Alam seperti memeluknya, angin malam berbincang pelan, dan langit menyaksikan kesetiaan seorang manusia kepada hidup yang ia pilih. Ia lalu pulang perlahan, melangkah di jalan gelap dengan lentera yang berayun lembut di tangannya. Dari kejauhan, lentera itu tampak seperti bintang kecil yang enggan padam, menerangi jalan pulang yang sederhana namun penuh makna. Capingnya tetap menempel di kepala, bukan sekadar penutup, melainkan simbol kesahajaan yang tidak pernah ia lepaskan.

Mbah Titut di Ladang untuk bertani. Sumber: Dokumentasi Penulis

Bagi sebagian orang, apa yang ia lakukan mungkin terlihat biasa bahkan mungkin dianggap sepele. Tetapi dari hal-hal kecil seperti itulah hidup sering menemukan artinya. Dengan rendah hati, ia sering berkata bahwa dirinya hanya orang biasa yang kebetulan diberi kesempatan merawat tradisi. Sebuah litotes yang justru menegaskan betapa besar arti yang sebenarnya ia bawa. Karena kenyataannya, apa yang ia lakukan tidaklah kecil. Ia menjaga sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya: warisan budaya, identitas masyarakat, dan rasa cinta yang membuat manusia merasa memiliki rumah. Mbah Titut adalah orang yang percaya bahwa hidup baru berarti jika bisa memberi arti bagi orang lain. Ia selalu menebarkan cinta kasih kepada siapa pun yang ditemuinya. Baginya, manusia tidak hanya hidup untuk menghabiskan waktu, tetapi untuk menanamkan sesuatu yang bisa tumbuh menjadi kebaikan. Setiap senyum yang ia bagi, setiap kata yang ia ucapkan, seolah membawa pesan bahwa hidup akan terasa lebih indah jika dilakukan dengan cinta, bukan sekadar rutinitas.

Mbah Titut dan Lentaranya Ketika Pulang dari Ladang. Sumber: Dokumentasi Penulis

Yang membuatnya semakin istimewa adalah bagaimana ia selalu berbicara tentang cinta kepada sesama, cinta kepada alam, dan cinta kepada kehidupan. Ia tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga merawat hubungan manusia dengan bumi. Seperti seorang penyair yang menulis dengan hati, Mbah Titut menuliskan cintanya kepada Banyumas bukan dengan kata-kata, tetapi dengan karya dan tindakan. Ia tidak menunjukkan cinta dengan teriakan, melainkan dengan kesederhanaan yang hangat. Dari caranya berjalan, caranya bercerita, hingga caranya menjaga tradisi, semua seolah berkata: hidup adalah tentang memberi. Kini, apa yang dilakukan Mbah Titut tidak lagi hanya tentang dirinya. Ia telah menjadi cermin bagi masyarakat. Melalui cowongan yang kembali hidup dan Jerami Festival yang terus menyala, ia mengajarkan bahwa budaya bukan beban masa lalu, melainkan cahaya masa depan. Ia membuktikan bahwa tradisi tidak kalah dengan zaman, selama ada yang mau merawatnya dengan hati.

Malam Hari di Kebun Ketika Mbah Titut Melukis. Sumber: Dokumentasi Penulis

Ia menunjukkan bahwa cinta kepada tanah kelahiran bukan sekadar kata, tetapi tindakan nyata yang membuat sesuatu tetap hidup. Mbah Titut bukan legenda yang selesai diceritakan. Ia adalah kisah yang sedang berjalan, napas yang masih hangat, dan cinta yang terus tumbuh. Setiap langkahnya seperti syair yang pelan namun dalam. Setiap tindakannya seperti doa yang ditanamkan di bumi. Ia mungkin hanya satu orang, tetapi apa yang dijaganya adalah jiwa banyak orang. Selama cowongan masih bernapas, selama jerami masih bisa bercerita, dan selama cinta masih bisa ditanamkan pada tanah Banyumas, nama Mbah Titut akan terus hidup bukan sebagai kenangan, tetapi sebagai kehidupan itu sendiri.