Pemanfaatan Rimpang Bangle di Dunia Farmasi

Mahasiswa Farmasi UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Assyifaa Nurul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak ribuan tahun yang lalu, pemanfaaatan tumbuhan sudah dilakukan oleh manusia sebagai bahan obat. Salah satu pemanfaatan tumbuhan ialah bangle. Tanaman bangle, juga dikenal sebagai Zingiber montanum, yang merupakan salah satu jenis tanaman yang berasal dari famili zingiberaceae yang memiliki banyak khasiat sehingga banyak digunakan dalam pengobatan tradisional. Tanaman bangle biasanya ditemukan tumbuh liar di kebun, tepi hutan, dan lahan yang sedikit terbuka. Bagian dari tanaman bangle yang dijadikan sebagai obat tradisional yaitu rimpang (Setyani et al., 2021). Rimpang Bangle dengan nama latin (Zingiber montanum) ialah tanaman yang memiliki banyak manfaat untuk mengobati berbagai penyakit seperti demam, encok, masuk angin, nyeri perit, sembelit, dan cacingan.
Tanaman bangle merupakan tanaman khas kawasan tropis yang dapat tumbuh di daerah Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Diketahui bahwa bangle merupakan tanaman yang memiiki banyak khasiat. Di Indonesia yaitu masyarakat Jawa menjadikan tanaman bangle sebagai bahan obat tradional untuk mengobati kemerahan pada kulit. Di Thailand tanaman bangle juga dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan tradisional untuk mengobati asma dan sebagai antiinflamasi terutama pada pereda nyeri sendi. Rimpang Bangle dengan nama latin (Zingiber montanum) sering dijumpai di Indonesia namun jarang dikonsumsi sehari-hari. Padahal rimpang bangle dapat berfungsi sebagai obat herbal yang minim efek samping jika dikonsumsi secara rutin.
Karakteristik Bentuk Fisik Rimpang Bangle
Secara morfologi, bangle memiliki beberapa ciri khas yang mudah dikenali yaitu diantaranya bangle memiliki bagian akar rimpang yang berukuran besar berbentuk bulat yang tidak beraturan, dan daging berwarna kuning cerah sedangkan kulit luarnya berwarna cokelat muda hingga kekuningan. Rimpang bangle tumbuh menjalar di dalam tanah dan dapat menghasilkan tunas diberbagai sisinya. Batang pada tanaman bangle berupa batang semu yang tersusun dari pelepah daun yang rapat dan kokoh serta dapat berdiri tegak lurus. Bangle memliki helaian daun berbentuk pita memanjang dengan ukuran antara 20-35 cm dengan lebar daun berkisar 2-4 cm. Bulu-bulu halus, atau pubescent, ditumbuhi di permukaan bagian bawah daun, memberikan tekstur sedikit berbulu pada area tersebut. Perbungaan bangle berbentuk gelendong atau oval silindris (ovoid cylindrical) dengan panjang 3-3,3 cm dan tinggi 10-16 cm. Perbungaan (apeks) memiliki ujung runcing yang tumbuh tegak lurus dengan panjang keseluruhan sekitar 20-25 cm. Adapun daun pelindung bunga (bractea) berbentuk telur (ovate) dengan bulu halus yang berwarna hijau kecokelatan dan berukuran sekitar 3-3,5 cm. Bagian pelengkap bunga (bracteola) memiliki panjang antara 1-1,5 cm. Mahkota dan labellum bunga berwarna kuning pucat dan panjangnya sekitar 6 cm, dengan bagian tengahnya berbentuk lobus yang khas (Mukti & Andriani, 2021).
Kandungan Kimia Rimpang Bangle
Banyak penelitian telah dilakukan pada rimpang bangle dalam berbagai jurnal ilmiah dan hasilnya secara positif bahwa tanaman ini mengandung sejumlah senyawa metabolit sekunder yang penting. Senyawa-senyawa tersebut meliputi saponin, flavonoid, tanin, terpenoid, dan sterol. Selain senyawa tersebut, rimpang bangle ini memiliki kandungan senyawa seperti vitamin C yang digunakan sebagai antioksidan, vitamin E, karoten, dan senyawa fenolik (Noviyanto et al., 2020). Banyak temuan penelitian menunjukkan bahwa kandungan metabolit sekunder yang melimpah dari tanaman ini memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam pembuatan obat-obatan tradisional. Kehadiran senyawa -senyawa aktif tersebut membuat rimpang bangle menjadi salah satu sumber hayati yang memiliki potensi tinggi untuk terus diteliti dan dikembangkan, khususnya dalam sektor kesehatan dan industri farmasi.
Kandungan inilah yang mendorong penggunaan rimpang bangle sebagai salah satu pilihan pengobatan alternatif yang dipercaya aman karena tidak menimbulkan efek samping yang signifikan bagi penggunanya. Selain itu, keberadaan senyawa aktif yang terkandung di dalamnya juga membuka peluang besar bagi para peneliti dan industri farmasi untuk mengembangkan rimpang bangle lebih lanjut, sehingga berpotensi diolah menjadi produk farmasi modern yang memiliki manfaat terapeutik dan dapat diterima secara luas di masyarakat.
Khasiat Rimpang Bangle sebagai Antioksidan
Rimpang Bangle telah turun temurun digunakan nenek moyang sebagai pengobatan tradisional. Secara ilmiah, telah dilakukan penelitian untuk melihat aktivitas rimpang bangle sebagai antioksidan. Kandungan yang dianggap berpotensi sebagai antioksidan adalah minyak atsiri. Minyak atsiri adalah senyawa yang berbentuk cairan yang mudah menguap. Bagian tumbuhan seperti akar, kulit, batang, daun, buah, biji bunga, dan rimpang mengandung minyak atsiri. Penelitian dilakukan dengan metode distilasi uap dan distilasi air dalam rangka mengambil minyak atsiri yang terkandung di dalamnya. Selanjutnya, minyak atsiri yang dihasilkan dari proses distilasi diuji dengan metode DPPH. Asam askorbat atau vitamin C, yang sama seperti antioksidan, digunakan sebagai kontrol positif dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak asiri rimpang bangle memiliki aktivitas antioksidan, dengan persentase penghambatan DPPH sebesar 57,96% pada konsentrasi 100 ppm dan nilai IC50 sebesar 85,35 ppm (Tambanan et al., 2025).
Khasiat Rimpang Bangle sebagai Analgesik
Jumlah penggunaan analgesik meningkat, tetapi obat-obatan jenis opioid ini memiliki efek samping yang tidak diinginkan, seperti masalah pada saluran cerna, ginjal, dan hati. Akibatnya, orang mulai mencari pengobatan tradisional sebagai pengganti. Bangle adalah salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. Beberapa kandungan di dalamnya memiliki efek analgesik karena menurunkan prostaglandin E2 (PGE2) dan ekspresi siklooksigenase-2 (COX-2). Tidak banyak penelitian telah dilakukan tentang penggunaan herbal ini secara luas, jadi untuk membuktikan sifat analgesiknya, diperlukan obat tambahan dan pengujian. Salah satu contohnya adalah metode writhing test, yang menggunakan zat iritan seperti asam asetat ke intraperitoneal untuk menyebabkan nyeri pada hewan coba, yang menghasilkan refleks geliat (Bajuber et al., 2020).
Khasiat Rimpang Bangle sebagai Antibakteri
Flavonoid, triterpenoid, saponin, dan tanin adalah metabolit sekunder alami dari rimpang bangle. Ada kemungkinan bahwa senyawa-senyawa tersebut memiliki sifat antibakteri melalui berbagai mekanisme. Tanin adalah senyawa yang memiliki kemampuan untuk mencegah pembentukan sel bakteri karena kandungan polihidroksi fenol atau turunannya di dalamnya memiliki kemampuan untuk mencegah DNA topoisomerase dan enzim reverse transkriptase. Selain itu, flavonoid memiliki kemampuan untuk menghambat bakteri. Mereka dapat menghambat bakteri dengan merusak dinding sel, menonaktifkan enzim, berikatan dengan adhesin, dan merusak senyawa flavonoid di membran sel (Nisa et al., 2025). Rimpang bangle mengandung senyawa kimia seperti pinen, karyofillen, sabinene, dan caryofillen oxide yang terdapat dalam minyak atsiri. Selain saponin, tanin, dan flavonoid, mereka juga dapat menghasilkan minyak atsiri, juga dikenal sebagai yang berfungsi sebagai penghambat bakteri (Nurkhasanah et al., 2017).
DAFTAR PUSTAKA
Setyani, A. R., Arung, E. T., & Sari, Y. P. (2021). Skrining fitokimia, antioksidan dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol akar segar bangle (Zingiber montanum). Jurnal Riset Teknologi Industri, 415-427.
Nisa, K., Ramadhani, Y., & Sapada, E. (2025). Studi Efektivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Rimpang Bangle (Zingiber Purpureum Roxb) terhadap Patogen Shigella Dysenteriae. Generics: Journal of Research in Pharmacy, 5(1), 74-85.
Tambunan, N. C. N., Paramita, S., Rahma, K., & Toruan, V. M. L. (2025). Potensi Minyak Asiri Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Roxb.) Sebagai Antioksidan. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, 12(5).
Noviyanto, F., Hodijah, S., & Yusransyah, Y. (2020). Aktivitas Ekstrak Daun Bangle (zingiber purpureum roxb.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Pseudomonas aeruginosa. Journal Syifa Sciences and Clinical Research, 2(1), 31-38.
Bajuber, Q., Indiastuti, D. N., & Kusuma, E. (2020). Efek Analgesik Ekstrak Etanol Zingiber cassumunar Roxb. pada Mencit dengan Metode Writhing Test. Jurnal Medik Veteriner, 3(1), 45-50.
Mukti, L. S., & Andriani, R. (2021). Pharmacological Activities of Zingiber montanum. Infokes, 11(2), 470-477.
Batubara, I., Trimulia, R., Rohaeti, E. & Darusman, L. K. (2018). Hubungan Lama Distilasi, Kandungan Senyawa, dan Bioautografi Antioksidan Minyak atsiri Bangle (Zingiber purpureum). Indonesian Journal Of Essential Oilx, No.x, 3(1), pp. 37–44.
Wulansari, E. D., Wahyuono, S., Marchaban, M., & Widyarini, S. (2018). Topical Antiinflammatory Activity of Bangle (Zingiber cassumunar Roxb). Ethanolic Extract in MiceInduced By Carrageenan. Majalah Obat Tradisional, 23(2), 122-126.
Tangyuenyongwatana, P., Keeratinijakal, V., & Gritsanapan, W. (2012). Thin-layer chromatography-densitometry analysis of dimethoxyphenylbutadiene content in zingiber cassumunar rhizomes. Journal of AOAC International, 95(6), 1614-1617.
Musdja, M. Y. (2021). Potential bangle (Zingiber montanum J. König) rhizome extract as a supplement to prevent and reduce symptoms of Covid-19. Saudi journal of biological sciences, 28(4), 2245-2253.
Assyifaa Nurul Safitri Amnun, Mahasiswa Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
