Tahu Gejrot, Jajanan Sederhana yang Bertahan di Tengah Tren Makanan Modern

Master Student In Tourism Indonesia University Of Education
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Tarisah Ainahaque Yuda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tanpa topping berlapis dan kemasan heboh, tapi kenapa orang tetap kembali?
Di tengah banjir makanan kekinian, tahu gejrot terlihat begitu sederhana. Tahu, kuah pedas asam manis, piring kecil, dan tusuk gigi. Tidak ada topping yang berlapis, tidak ada kemasan yang heboh tapi jajanan khas Cirebon ini masih dicari orang.
Sebagai orang yang sedang belajar perilaku konsumen, saya jadi bertanya-tanya: kenapa jajanan sesederhana ini bisa bertahan di tengah tren makanan modern? Tulisan ini bukan hasil penelitian. Ini ajakan untuk berpikir, memakai beberapa konsep perilaku konsumen sebagai kacamata, dan kamu bebas setuju atau tidak.
Apa yang Sebenarnya Ditawarkan Tahu Gejrot?
Sebelum menebak alasan orang membelinya, coba lihat dulu apa yang dijual. Tahu gejrot menawarkan satu rasa tegas: pedas, asam, dan manis bertemu dalam satu gigitan. Porsinya kecil, mudah dimakan sambil berdiri atau berjalan, dan cara menyantapnya pun khas, yaitu ditusuk satu per satu.
Bagi sebagian orang, itu cuman jajanan. Tapi dalam kacamata perilaku konsumen, produk tidak hanya dinilai dari fungsinya. Orang juga membeli sensasi, kebiasaan, dan kenangan yang menempel padanya.
Empat Dugaan Kenapa Orang Masih Membelinya
Ini dugaan saya. Anggap saja sebagai hipotesis yang bisa kamu uji sendiri.
1. Nilai yang dirasakan terasa pas. Dalam perilaku konsumen ada konsep perceived value, yaitu perbandingan antara apa yang dirasakan dan apa yang dikorbankan. Jajanan kecil dengan rasa kuat biasanya terasa sepadan dengan uang yang dikeluarkan, jadi pembeli tidak merasa perlu menimbang lama.
2. Rasanya mudah dikenali. Rasa yang tegas gampang diingat. Begitu kamu pernah mencoba, kamu tahu persis apa yang akan kamu dapat. Itu mengurangi rasa ragu saat membeli lagi.
3. Ada kebiasaan dan kenangan di baliknya. Banyak jajanan tradisional dinikmati sejak kecil, bersama keluarga atau teman. Kenangan seperti ini bisa membuat orang kembali bukan karena makanannya paling baru, melainkan karena rasanya terasa akrab. Dalam bahasa kuliah, ini nostalgia dan kebiasaan konsumsi.
4. Mudah dibeli tanpa banyak pertimbangan. Jajanan kecil sering dibeli secara spontan, saat lewat, saat menunggu, atau saat tiba-tiba ingin sesuatu yang pedas. Pembelian seperti ini tidak memerlukan keputusan besar.
Keempat dugaan ini bisa saja bekerja bersamaan, dan bisa saja berbeda untuk tiap orang.
Apakah Anak Muda dan Orang Tua Punya Alasan yang Sama?
Ini pertanyaan yang paling saya penasaran. Mungkin generasi yang lebih tua membeli tahu gejrot karena kenangan, sedangkan generasi muda tertarik karena penasaran, rasa yang berbeda dari makanan sehari-hari, atau karena melihat di media sosial. Tapi ini baru tebakan. Bisa jadi alasannya justru mirip, atau berbeda dengan cara yang tidak terpikir oleh kita. Satu-satunya cara memastikan adalah bertanya langsung kepada orang-orangnya.
Kalau kamu ingin mengujinya, caranya sederhana kok. Tanyakan ajah ke beberapa orang dari usia berbeda tiga hal nih: kapan terakhir mereka makan tahu gejrot, apa yang membuat mereka membelinya, dan apa yang mereka ingat dari rasanya. Jawabannya bisa jadi bahan tulisan lanjutan.
Jadi, Kenapa Tahu Gejrot Bertahan?
Menurut saya sih tahu gejrot bertahan bukan karena mengejar tren, melainkan karena memberi hal yang tidak mudah ditiru makanan modern: rasa yang tegas, harga dan porsi yang terasa pas, serta ikatan dengan kenangan. Pelajaran buat pelaku usaha jananan tradisional: tidak harus mengikuti semua tren, tapi penting menjaga hal yang membuat orang rindu.
Dan kalau kamu kebetulan lewat gerobak tahu gejrot sore ini, mungkin ini saatnya bertanya pada diri sendiri. Kamu membeli karena murah, karena rasanya, atau karena ingatanmu?
