Konten dari Pengguna

Reshuffle Kabinet Ketujuh: Kepastian atau Ketidakpastian bagi Ekonomi?

Ahmad Izza Aqbal D

Ahmad Izza Aqbal D

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Izza Aqbal D tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Unsplash

Reshuffle kabinet ketujuh pada 1 Oktober 2026 menjadi sorotan pasar dan pelaku usaha. Berdasarkan pemberitaan, Presiden Prabowo Subianto melantik belasan pejabat di Istana Negara, termasuk menteri koordinator, wakil menteri, dan kepala lembaga, kurang dari tiga pekan setelah perubahan posisi Menteri Keuangan. Menurut saya, pertanyaan yang paling penting bukan siapa yang masuk atau keluar, melainkan apa dampaknya bagi kepastian kebijakan ekonomi.

Apa yang terjadi dalam reshuffle kabinet ketujuh

Berdasarkan data pemberitaan detik, Kabinet Merah Putih telah mengalami tujuh kali reshuffle sejak 2025, dengan yang pertama digelar pada 19 Februari 2025. Pada 1 Oktober, Bahlil Lahadalia dilantik sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus tetap merangkap Menteri ESDM, dan jumlah menko disebut menjadi delapan orang. Perombakan ini terjadi menjelang dua tahun pemerintahan pada 20 Oktober 2026.

Pasar langsung bereaksi. IHSG ditutup turun 1,02 persen ke 6.009 pada hari itu. Namun, Pasardana mencatat respons pasar tidak bisa dibaca terpisah dari faktor global dan domestik lainnya, dan arah selanjutnya bergantung pada kebijakan konkret pejabat baru serta kredibilitas fiskal.

Teori ketidakpastian kebijakan: mengapa investor menunggu

Ekonom Ben Bernanke (1983) menjelaskan bahwa investasi yang sulit dibatalkan, seperti pabrik atau proyek infrastruktur, punya "nilai menunggu". Ketika arah kebijakan tidak jelas, pelaku usaha cenderung menunda keputusan sampai ada kepastian. Baker, Bloom, dan Davis (2016) juga menunjukkan bahwa lonjakan ketidakpastian kebijakan berkaitan dengan melemahnya investasi dan perekrutan. Jadi, dampak reshuffle kabinet terhadap ekonomi tidak ditentukan oleh orangnya, tetapi oleh seberapa jelas dan konsisten kebijakan setelahnya.

Kredibilitas: apa yang dinilai pasar

Menurut Kydland dan Prescott (1977), kebijakan yang kredibel dan konsisten lebih berharga daripada kebijakan yang berubah mengikuti situasi. Pasar menilai komitmen, bukan janji. Ekonom senior INDEF Tauhid Ahmad menilai pergantian Menteri Keuangan perlu diarahkan untuk memperkuat pengelolaan pendapatan negara, meningkatkan kualitas belanja, dan menjaga keseimbangan defisit. Itu tolok ukur yang bisa diuji publik.

Sisi lain: reshuffle sebagai mekanisme akuntabilitas

Reshuffle kabinet adalah hak presiden, dan ada argumen kuat yang mendukungnya. Dalam teori agensi (Jensen dan Meckling, 1976), pemberi mandat perlu mekanisme untuk mengganti pelaksana yang kinerjanya tidak sesuai. Penggantian pejabat bisa menjadi insentif kinerja dan respons terhadap kondisi yang berubah.

Namun, ada biaya. Pejabat baru perlu waktu belajar, memori institusional bisa hilang, dan program lintas kementerian bisa tertunda. Rangkap jabatan juga punya dua sisi: bisa mempercepat koordinasi, tetapi dapat menumpuk beban dan mengurangi fungsi saling kontrol. Ini pendapat saya sebagai pengamat, dan penilaiannya perlu data kinerja nyata, bukan asumsi.

Yang perlu dijaga setelah reshuffle kabinet

Menurut saya, ada tiga hal yang layak dikawal:

Komunikasi arah kebijakan yang jelas dan cepat, supaya pelaku usaha tidak menebak-nebak.

Indikator kinerja yang terbuka, agar publik bisa menilai apakah pergantian menghasilkan perbaikan.

Kesinambungan program prioritas, terutama yang melibatkan investasi dan fiskal.

Penutup

Reshuffle kabinet bukan otomatis baik atau buruk bagi ekonomi. Ia menjadi positif jika diikuti kebijakan yang jelas dan konsisten, dan menjadi negatif jika yang tersisa hanya ketidakpastian. Pasar akan menilai dalam beberapa pekan ke depan, dan publik berhak menagih hasilnya.

Sumber

detik: https://www.detik.com/bali/berita/d-8688825/deretan-reshuffle-kabinet-prabowo-dari-2025-hingga-2026

CNBC Indonesia: https://cnbcindonesia.com/news/20261002162456-4-772944/prabowo-reshuffle-kabinet-7-kali-pengusaha-ungkap-nasib-ri-tahun-2027/amp

Pasardana: https://pasardana.id/news/2026/10/1/reshuffle-kabinet-prabowo-guncang-pasar-arah-ekonomi-jadi-sorotan

IDN Times: https://www.idntimes.com/news/indonesia/reshuffle-ke-7-total-menko-prabowo-jadi-8-orang-00-g3crm-jfbphj

Investortrust (data IHSG): https://investortrust.id/market/118063/ihsg-awal-oktober-terjun-1-02-jadi-6009-mayoritas-sektor-saham-kembali-jatuh

Rujukan teori: Bernanke (1983), Baker, Bloom, dan Davis (2016), Kydland dan Prescott (1977), Jensen dan Meckling (1976)