Mencermati Gagasan Transformasi Digital Pendidikan Tinggi Vokasi

Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Pendidikan Tinggi Vokasi menjadi salah satu sektor yang paling dituntut untuk bergerak cepat. Lulusan vokasi bukan hanya harus siap kerja, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dunia industri yang berubah dalam hitungan detik. Tidak heran jika topik transformasi digital di perguruan tinggi vokasi menjadi sangat strategis, bahkan mendesak.
Topik menantang ini digarap oleh Intan Maria Lewiayu Vierke dalam disertasi doktornya di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang bertajuk Digital Transformation Model and Strategy in Vocational Higher Education. Penelitian ini bukan hanya kaya secara teori, tetapi juga menyodorkan strategi praktis yang implikasinya dapat langsung dibayangkan. Ada empat pertanyaan utama yang menjadi jangkar riset: bagaimana situasi pendidikan tinggi vokasi di era digital, faktor apa saja yang memengaruhi, kondisi ideal seperti apa yang perlu diwujudkan, dan model strategi apa yang paling tepat untuk transformasi digital.
Transformasi digital tidak bisa dipahami hanya sebagai pengadaan perangkat keras atau instalasi aplikasi. Ia merupakan perubahan ekosistem yang melibatkan budaya, kepemimpinan, adaptabilitas, hingga keterampilan personal. Pendalaman Theory U yang dikembangkan oleh Dr. C. Otto Scharmer dalam penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi lebih banyak ditentukan oleh manusia ketimbang teknologi.
Melalui proses sensing, presencing, dan realizing, U Theory menekankan pentingnya kesadaran, refleksi, dan komitmen kolektif. Teknologi hanyalah instrumen, sementara faktor manusia adalah penggerak utama yang memastikan transformasi benar-benar berakar dan berkelanjutan.
Untuk mengukur kinerja transformasi digital, penelitian ini menggunakan tiga aspek utama: efikasi, efisiensi, dan efektivitas. Dari kerangka ini dipetakan faktor-faktor penting mulai dari program pembelajaran, pengembangan kompetensi, kepemimpinan digital, hingga variabel transformasi yang lebih luas. Temuan menarik muncul dari analisis Structural Equation Modeling (SEM). Dari lima faktor utama yaitu performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating condition, dan experience, ternyata hanya social influence yang berpengaruh signifikan terhadap kemauan mengadopsi transformasi digital. Dengan kata lain, dorongan dari lingkungan sosial, komunitas, dan jejaring lebih menentukan dibandingkan ekspektasi hasil maupun ketersediaan fasilitas.
Hasil ini membuka ruang diskusi baru: bagaimana jika penelitian memperluas model dengan variabel kontrol atau interaksi silang antar-elemen? Pendekatan semacam itu bisa memperkaya interpretasi. Penelitian ini juga menggunakan Interpretative Structural Modelling (ISM) yang dipadukan dengan wawancara pakar.
Triangulasi ini memperkuat kredibilitas hasil dan memunculkan dua skenario strategis: membentuk unit baru khusus transformasi digital, atau mengintegrasikan transformasi tersebut ke dalam kelembagaan yang sudah ada. Jika ditopang dengan analisis SWOT, kedua opsi ini dapat dipetakan lebih jelas dalam hal kelayakan, kecepatan implementasi, dan dampak jangka panjang.
Dari sisi metodologi, penelitian ini terbilang komprehensif dengan menggabungkan SEM, Soft Systems Methodology (SSM), dan ISM. Kombinasi ini memang menuntut energi besar, tetapi berhasil memberikan gambaran menyeluruh tentang kompleksitas transformasi digital. Meski demikian, masih ada ruang penyempurnaan, terutama dalam penggunaan kalimat aktif, konsistensi daftar pustaka dan tanda baca, serta kelengkapan rujukan teori dan tabel agar penyajian lebih jelas dan sesuai standar akademik internasional.
Sekalipun begitu, disertasi ini sudah memberi kontribusi nyata dengan menjawab kebutuhan mendesak dunia vokasi: bagaimana mengelola transformasi digital secara tepat guna. Penelitian ini tidak berhenti pada tataran konseptual, melainkan juga menyinggung implikasi kebijakan, strategi implementasi, serta keterbatasan yang diakui secara terbuka.
Ke depan, penelitian lanjutan dapat diarahkan untuk menguji langsung skenario implementasi di lapangan serta menggali lebih jauh faktor sosial yang terbukti menjadi kunci adopsi transformasi digital. Dengan begitu, rekomendasi yang dihasilkan dapat bersifat operasional sekaligus aplikatif bagi pembuat kebijakan dan institusi vokasi.
Dalam konteks teknologi yang bergerak lebih cepat daripada regulasi, Pendidikan Tinggi Vokasi tidak punya pilihan selain merespons dengan langkah nyata dan terukur. Disertasi ini menawarkan kerangka strategis yang realistis untuk memandu kampus vokasi maupun pembuat kebijakan. Pesannya jelas: transformasi digital bukan sekadar urusan perangkat, tetapi perubahan budaya dan strategi kelembagaan yang solid.
Sebagai kontribusi baru, disertasi ini mengajukan gagasan Integrated Skill Development Ecosystem (ISDE) sebagai model strategis untuk mempercepat transformasi digital di pendidikan tinggi vokasi. ISDE dirancang untuk menjawab tantangan disrupsi teknologi dan dinamika industri global, dengan membangun ekosistem terintegrasi yang mencakup pembelajaran, penguasaan kompetensi digital, kolaborasi industri, budaya inovasi, dan tata kelola kelembagaan.
Kompetensi digital seperti analitik data, kecerdasan buatan, Internet of Things, hingga sertifikasi global ditempatkan sebagai standar baru. Pada saat yang sama, kemitraan erat dengan dunia usaha dan industri (DUDI) memastikan relevansi keterampilan melalui program magang digital dan apprenticeship berbasis platform. ISDE juga menumbuhkan budaya inovasi dan kewirausahaan melalui inkubasi bisnis digital, start-up technopreneur, serta riset terapan.
Semua ini ditopang tata kelola berbasis digital governance dan kepemimpinan transformasional, sehingga transformasi digital tidak berhenti pada proyek atau infrastruktur, tetapi terinternalisasi sebagai strategi institusional yang berkelanjutan.
Dengan ISDE, perguruan tinggi vokasi dapat membangun ekosistem yang holistik, inklusif, dan adaptif, menghasilkan lulusan yang kompeten, inovatif, dan siap bersaing di tingkat global. Konsep ini tidak hanya memberi kontribusi teoritis, tetapi juga menghadirkan acuan praktis bagi kebijakan dan strategi kelembagaan, sehingga pendidikan vokasi mampu berlari seiring bahkan melampaui laju perubahan teknologi.
