Menjadi Manusia Bertakwa

Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Alhamdulillah, senang bisa menyimak kembali buku besutan Prof. Abdul Mu’ti yang bertajuk Menjadi Manusia Bertakwa. Buku ini hadir seperti jawaban sederhana atas pertanyaan yang sering kita dengar, tapi jarang benar-benar kita renungkan: Apa sebenarnya arti menjadi manusia bertakwa? Pertanyaan ini tidak hanya muncul dari mimbar pengajian atau khotbah Jumat, tetapi juga dari kegelisahan banyak orang yang ingin hidupnya lebih bermakna.
Menurut penulis, buku ini bermula dari pertanyaan jemaah tentang tujuan puasa: Mengapa ujungnya adalah takwa? Lalu, mengapa setiap Jumat kita selalu diingatkan untuk bertakwa? Menariknya, penulis tidak memandang takwa sebagai sesuatu yang statis dan pasti, seolah-olah sekali diraih lalu selesai. Justru sebaliknya, takwa adalah proses panjang (becoming) Sebagian ikhtiar seumur hidup yang menuntut konsistensi, kesabaran, dan keteguhan.
Di sinilah letak kekuatan buku ini, yaitu menempatkan terminologi takwa sebagai “proses menjadi”, bukan “status jadi”. Takwa juga bertingkat, dinamis, dan bersifat multidimensional. Kita tidak langsung sempurna, tetapi terus berproses, sempat jatuh, bangkit, lalu melangkah lagi.
Penulis menjelaskan bahwa perjalanan menuju takwa bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu pembiasaan (habituation). Apa yang kita ulang setiap hari akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan perlahan membentuk karakter. Dari sinilah akhlak lahir. Jadi, takwa bukan sekadar konsep tinggi di langit, melainkan juga praktik kecil yang konsisten di bumi.
Lebih dalam lagi, buku ini menegaskan bahwa bertakwa sebenarnya adalah fitrah manusia. Mengutip gagasan Nurcholish Madjid, manusia sejak awal telah memiliki “perjanjian primordial” dengan Tuhan. Artinya, kecenderungan untuk beriman, bertauhid, dan berbuat baik sudah tertanam dalam diri setiap manusia. Beragama bukan sesuatu yang asing karena beragama merupakan panggilan alami jiwa manusia.
Namun, tentu fitrah saja tidak cukup. Dibutuhkan ilmu dan kecerdasan agar takwa itu bertumbuh. Menurut Mu’ti, semakin seseorang berilmu, seharusnya semakin dekat ia kepada Allah karena muara dan sumber ilmu itu sendiri adalah Allah. Dengan iman dan ilmu, manusia tidak hanya selamat, tetapi juga hidup bermartabat, baik saat di dunia maupun kelak di akhirat.
Gaya penulisan buku ini terasa ringan, seperti mendengar ceramah yang mengalir. Tidak kaku, tidak berat, sehingga terasa dekat dan dialogis. Tak heran jika buku ini memang diniatkan sebagai rujukan praktis untuk bahan kultum, khotbah, atau pengajian singkat.
Salah satu bagian menarik adalah pembahasan penulis tentang orientasi akhirat. Mu’ti menyebut setidaknya ada lima makna penting. Pertama, akhirat adalah sesuatu yang jauh (al-aqsha), mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam kenikmatan sesaat. Kedua, akhirat adalah orientasi jangka panjang, yaitu cara berpikir yang mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan.
Ketiga, orientasi akhirat melatih kita berpikir sebab-akibat karena apa yang kita tanam hari ini, itulah yang kita tuai nanti. Keempat, akhirat juga mengandung optimisme, bahwa masa depan harus lebih baik dari hari ini. Dan terakhir, akhirat adalah dimensi spiritual, bukan sekadar materi.
Menariknya, Al-Qur’an—sebagaimana dijelaskan dalam buku ini—tidak mempertentangkan dunia dan akhirat, tapi justru keduanya harus selaras berjalan beriringan. Dunia tidak untuk ditinggalkan, tetapi untuk dikelola sebagai jalan menuju kebaikan akhirat.
Ciri manusia bertakwa juga dijabarkan dengan sangat praktis, yaitu mereka menjaga salat, gemar bersedekah, berpuasa, dan menunaikan haji. Namun, tidak berhenti di ritual. Di samping itu, orang yang bertakwa juga gemar berzikir, mudah memaafkan, menepati janji, dan berlaku adil. Mereka senantiasa berkata benar, bersabar, dan menjaga hubungan sosial dengan baik.
Takwa—dalam gambaran buku ini—bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan, melainkan juga horizontal dengan sesama manusia. Merujuk pada penafsir Al-Quran terkemuka—Ahmad Mustafa Al-Maraghi—manusia bertakwa akan merasakan ketenangan hidup. Mengapa? Karena mereka hidup dalam kepatuhan, sehingga tidak gelisah oleh pilihan yang salah dan tidak resah oleh jalan yang keliru. Akhirnya, mereka menjalani hidup dengan lebih jernih dan lebih ringan.
Bahkan, ketenangan itu tidak hanya berhenti di dunia, tetapi juga berlanjut hingga akhirat sebagai balasan atas amal baik selama hidup. Inilah janji yang membuat perjalanan takwa terasa layak diperjuangkan. Mu’ti menggambarkan balasan bagi orang bertakwa dengan penuh harapan, yaitu mereka menjadi penghuni surga, hidup mulia, dimudahkan rezekinya, serta mampu menjaga diri dan keluarganya. Mereka hidup dalam kasih sayang dan ridha Allah. Sebuah gambaran yang tidak sekadar indah, tetapi juga menggerakkan.
Ala kulli hal, buku ini berhasil mengemas konsep besar menjadi sederhana. Hal-hal yang sering terasa “tinggi” diturunkan menjadi langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan siapa saja. Sistematikanya rapi, temanya saling terhubung, dan bahasanya ringan.
Memang, buku ini bukan karya akademik berat karena tidak ditulis untuk kebutuhan riset ilmiah yang kompleks. Namun justru di situlah kekuatannya, di mana ulasannya benar-benar hidup, membumi, dan tentu saja menginspirasi. Untuk siapa pun yang ingin memulai perjalanan menjadi lebih baik yang tanpa merasa terbebani, buku ini bisa menjadi teman yang tepat karena uraiannya tidak menggurui, tetapi mengajak. Tidak menghakimi, tetapi membimbing.
Pada akhirnya, menyimak buku Menjadi Manusia Bertakwa mengingatkan kita bahwa takwa bukan tujuan yang jauh di langit, melainkan jalan panjang yang kita tempuh setiap hari melalui pilihan-pilihan kecil yang konsisten. Dan mungkin, dari situlah perubahan besar benar-benar dimulai. Selamat membaca dan menikmati!
