Konten dari Pengguna

Pilihan Hidup dan Penyesalan Asri dalam Novel "Salah Pilih"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tawalla Aisy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Editing by Tawalla Aisy
zoom-in-whitePerbesar
Editing by Tawalla Aisy

Novel Salah Pilih terbit pada tahun 1928 oleh Balai Pustaka. Novel ini merupakan karya Nur Sutan Iskandar, seorang sastrawan produktif yang lahir tahun 1893, di Minangkabau. Novel Salah Pilih termasuk karya sastra Indonesia klasik yang tidak hanya menyajikan kisah percintaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana adat dan tuntutan keluarga dapat memiliki peran dalam menjaga keteraturan dan memengaruhi keputusan seseorang.

Novel ini menceritakan kehidupan Asri dan Asnah yang tumbuh bersama dalam satu keluarga sejak kecil. Meskipun mereka bukan saudara kandung, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Seiring bertambahnya usia, Asnah menyadari bahwa perasaannya terhadap Asri bukan sekadar kasih sayang seperti saudara, melainkan cinta. Namun, perasaan tersebut terhalang oleh kedudukan Asnah sebagai anak angkat dan aturan adat yang membatasi hubungan mereka.

Masalah semakin rumit, ketika Asri menikah dengan Saniah, seorang gadis dari keluarga bangsawan yang terpandang. Pada akhirnya, keputusan tersebut tidak membawa hasil yang diharapkan. Hubungan Asri dan Saniah dipenuhi konflik, termasuk kecemburuan Saniah terhadap Asnah yang dianggap tidak memiliki derajat yang sama dengan dirinya dan suaminya itu. Melalui rangkaian peristiwa tersebut, Nur Sutan Iskandar menunjukkan bahwa pertimbangan sosial, kekayaan, atau kedudukan keluarga tidak cukup untuk menentukan pasangan hidup. Perasaan, karakter, dan kecocokan pasangan sangat penting dalam membangun rumah tangga.

Penyesalan Asri atas Pernikahannya

Pernikahan yang diharapkan menjadi awal kehidupan baru justru membawa Asri pada kenyataan yang berbeda dari harapannya.

“…belum ada pikiranku yang seterang ini dan sejernih sekarang ini. Rupanya inilah sesal tak putus, yang biasa timbul sesudah kawin.”

Kalimat tersebut menggambarkan penyesalan Asri setelah menjalani kehidupan pernikahan. Ia menyadari adanya perbedaan antara apa dibayangkan sebelum menikah dengan kenyataan yang dihadapinya setelah menikah. Dalam kasus ini, penyesalan Asri bukan hanya menjadi bagian dari konflik cerita, tapi juga menunjukkan perubahan cara pandangnya. Dia belajar dari pengalamannya bahwa keputusan besar tidak dapat diambil secara terburu-buru dan tidak selalu membawa hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, pengarang menggunakan konflik rumah tangga Asri untuk menunjukkan bahwa seseorang terkadang hanya menyadari konsekuensi keputusannya setelah berhadapan langsung dengan kenyataan.

Dalam hidup, sering kali seseorang merasa yakin terhadap suatu pilihan karena melihat keuntungan yang akan diperoleh, tetapi belum sepenuhnya mempertimbangkan kesulitan yang mungkin muncul. Saat kenyataan tidak sesuai dengan harapan, akan muncul pertanyaan apakah keputusan tersebut sudah dipikirkan dengan baik sejak awal. Namun, penyesalan saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah. Seseorang perlu memahami penyebab masalah dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah diambil.

Asri dan Arti Memilih Pasangan Hidup

Sebelum menikah, paras Saniah yang cantik dan statusnya sebagai anak dari keluarga bangsawan dipandang sebagai sesuatu yang menjanjikan. Namun, kehidupan rumah tangga Asri menunjukkan bahwa fisik dan status sosial bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebahagiaan seseorang.

“Seharusnya aku bersukacita sekali, karena jadi mempelai, jadi suami anak orang kaya lagi bangsawan! Akan tetapi kebalikannya…”

Kutipan tersebut memperlihatkan perbedaan antara situasi yang seharusnya membuat Asri bahagia dan situasi yang sebenarnya ia alami. Menjadi suami seorang perempuan dari keluarga bangsawan seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang membanggakan, tetapi hal itu tidak membuat rumah tangganya bahagia.

Pengalaman Asri tersebut menunjukkan bahwa memilih pasangan hidup memerlukan pertimbangan yang dalam, bukan sekadar melihat kelebihan seseorang. Keputusan untuk membangun rumah tangga perlu didasarkan pada pemahaman terhadap orang yang akan menjalani kehidupan bersama, bukan hanya harapan tentang kehidupan yang ingin dicapai. Kisah ini mengajarkan kita betapa pentingnya mempertimbangkan keputusan matang-matang dan memahami bahwa dalam suatu hubungan membutuhkan usaha dari kedua belah pihak.

Lingkungan Sosial Mengatur Pilihan Hidup

Pilihan hidup Asri juga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan keluarga dan adat masyarakat Minangkabau yang digambarkan dalam novel. Setelah Saniah meninggal akibat kecelakaan dan Asri melewati masa dukanya, ia berniat menikahi Asnah. Namun, hubungannya dengan Asnah menghadapi hambatan karena kedudukan mereka dalam keluarga dan aturan adat yang berlaku.

Hal itu terlihat dalam perkataan penghulu kaum kepada Asri berikut.

“Sutan, anak orang baik-baik, anak kepala negeri dan penghulu andika yang terhormat dan keturunan orang besar-besar dalam negeri ini, akan melanggar adat lama pusaka usang? Tidak tahukah Sutan, bahwa orang sesuku itu seketurunan, tidak boleh kawin-mengawini, mereka itu bersaudara?”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keinginan Asri untuk menikahi Asnah berhadapan dengan statusnya sebagai keturunan keluarga terpandang yang membuat tindakannya dinilai berdasarkan harapan sosial. Pada bagian ini, konflik dapat dipahami sebagai pertentangan antara keinginan pribadi dan tuntutan adat. Nur Sutan Iskandar memperlihatkan bagaimana adat, kebiasaan masyarakat, dan persepsi lingkungan tentang pilihan yang dianggap baik dapat memengaruhi keputusan seseorang.

Dalam kehidupan sekarang, hubungan antara keinginan individu dan tuntutan sosial masih dapat ditemukan. Pilihan mengenai pendidikan, pekerjaan, maupun pasangan hidup terkadang dipengaruhi oleh harapan keluarga dan penilaian lingkungan. Ketika keinginan seseorang bertentangan dengan aturan masyarakat atau harapan keluarga, pilihan hidup dapat menjadi sulit. Namun, agar harapan tidak berubah menjadi tekanan yang membuat seseorang kesulitan menentukan masa depannya, komunikasi sangat diperlukan.

Hubungan Kisah Asri dengan Kehidupan Saat Ini

Meskipun novel Salah Pilih ditulis pada tahun 1928, masalah yang dihadapi Asri masih relevan dengan masyarakat modern. Perbedaan zaman tidak menghilangkan kemungkinan seseorang menghadapi dilema saat membuat keputusan penting, terutama jika keputusan tersebut berkaitan dengan masa depan, keluarga, dan hubungan pribadi.

Sebagian orang mempertimbangkan pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, latar belakang keluarga, dan penilaian lingkungan saat memilih pasangan. Karena kondisi kehidupan harus dipertimbangkan, pertimbangan ini tidak selalu salah. Namun, masalah dapat muncul ketika faktor-faktor tersebut menjadi bahan pertimbangan utama dan mengesampingkan kecocokan karakter serta kesiapan menjalani hubungan.

Kisah Asri juga berkaitan dengan tanggung jawab atas keputusan pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat mengalami penyesalan karena memilih jurusan kuliah, pekerjaan, lingkungan pergaulan, atau jalan hidup lainnya. Penyesalan tersebut adalah hal yang manusiawi. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menyikapi penyesalan tersebut dan mengambil pelajaran darinya.

Pada intinya, tokoh Asri mengajak pembaca untuk tidak terburu-buru saat membuat keputusan yang berdampak besar pada kehidupan. Pilihan yang terlihat baik dari luar belum tentu memberikan hasil yang diharapkan. Ini tidak berarti bahwa setiap pilihan yang berakhir dengan masalah adalah pilihan yang salah. Ada keadaan yang sulit diprediksi dan ada persoalan yang baru terlihat setelah seseorang menjalani pilihannya. Pengalaman tersebut, bagaimanapun, dapat menjadi kesempatan untuk memahami diri sendiri dan menilai kembali pertimbangan yang digunakan sebelumnya.