Konten dari Pengguna

Dari Pajak Sampai Desil, Kenapa Petugas Sensus yang Kena?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zulfikar Amar Maruf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Petugas Sensus Ekonomi 2026 Kelurahan Kalibaru, Cilodong, Kota Depok. | Foto: Zulfikar Amar Maruf
zoom-in-whitePerbesar
Petugas Sensus Ekonomi 2026 Kelurahan Kalibaru, Cilodong, Kota Depok. | Foto: Zulfikar Amar Maruf

Petugas Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya berhadapan dengan formulir dan pertanyaan saat melakukan pendataan. Di lapangan, petugas juga harus menghadapi penolakan, kecurigaan, hingga berbagai anggapan dari masyarakat.

Di awal pendataan, kedatangan petugas sering dikaitkan dengan pajak. Ada masyarakat yang khawatir data usaha dan kondisi ekonomi yang diberikan akan digunakan untuk menaikkan pajak.

Setelah pendataan berjalan, muncul persoalan lain. Ketika ada masyarakat yang melihat perubahan desil kesejahteraan, petugas sensus kembali mendapat tudingan sebagai penyebabnya.

Padahal, petugas lapangan hanya bertugas melakukan pendataan sesuai pertanyaan dan prosedur yang diberikan.

Salah satu petugas yang merasakan kondisi tersebut adalah Dilan Waly Izdihar. Dilan merupakan petugas pendataan lapangan SE2026 yang bertugas di wilayah Kalibaru, Kecamatan Cilodong, Kota Depok.

Dalam menjalankan tugas, Dilan cukup sering menghadapi penolakan dari masyarakat. Penolakan biasanya terjadi karena masyarakat merasa khawatir dengan tujuan pendataan dan penggunaan data yang diberikan.

“Kadang baru datang sudah ditanya untuk apa datanya. Ada juga yang mengira pendataan ini berkaitan dengan pajak. Jadi harus dijelaskan dulu tujuan kedatangan dan pendataannya,” ujar Dilan Waly Izdihar.

Dilan Waly Izdihar - Petugas Sensus Ekonomi 2026 | Foto: Zulfikar Amar Maruf

Bagi petugas lapangan, kondisi seperti itu menjadi tantangan tersendiri. Sebelum melakukan pendataan, petugas harus memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan SE2026 kepada masyarakat.

Tidak semua penolakan dilakukan secara langsung. Ada masyarakat yang meminta petugas datang kembali, ada yang belum bersedia memberikan data, dan ada juga yang memilih tidak menerima pendataan.

Pengalaman serupa juga dirasakan Mety Herawati, yang bertugas sebagai petugas pendataan dan juga menjabat sebagai ketua RT.

Sebagai ketua RT, Mety sebenarnya sudah cukup dikenal oleh warga di lingkungannya. Namun, jabatan tersebut ternyata belum selalu membuat masyarakat langsung percaya ketika pendataan dilakukan.

“Sebagai ketua RT saja masih ada warga yang tidak percaya ketika didata. Jadi memang harus dijelaskan pelan-pelan, terutama soal tujuan pendataan dan untuk apa data tersebut digunakan,” ujar Mety Herawati.

Pengalaman Mety menunjukkan bahwa kedekatan dengan masyarakat tidak selalu membuat proses pendataan berjalan mudah. Rasa khawatir terhadap data tetap bisa muncul meskipun petugas sudah dikenal oleh warga.

Penolakan tersebut membuat pekerjaan petugas lapangan tidak hanya berkaitan dengan mengisi data. Kemampuan berkomunikasi juga diperlukan agar masyarakat memahami maksud kedatangan petugas.

Persoalan lain muncul ketika masyarakat menghubungkan SE2026 dengan perubahan desil.

Desil merupakan peringkat kesejahteraan keluarga dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN. Perubahan desil tidak ditentukan oleh petugas sensus secara langsung.

Data mengenai kondisi sosial dan ekonomi berasal dari berbagai sumber dan diolah melalui proses yang telah ditentukan. Karena itu, perubahan desil tidak dapat langsung dianggap sebagai akibat dari pendataan yang dilakukan oleh satu petugas.

Hal tersebut menjadi tantangan lain bagi petugas lapangan. Setelah menghadapi penolakan karena isu pajak, petugas kembali harus memberikan penjelasan ketika muncul pertanyaan mengenai desil.

Dilan mengatakan bahwa kondisi tersebut cukup sering terjadi selama menjalankan tugas di lapangan.

“Kadang masyarakat menghubungkan perubahan desil dengan pendataan yang dilakukan. Padahal tugas petugas hanya melakukan pendataan sesuai pertanyaan yang ada. Petugas tidak menentukan desil masyarakat,” jelas Dilan.

Posisi petugas lapangan memang cukup dekat dengan masyarakat. Petugas datang langsung ke rumah atau tempat usaha, bertemu dengan pemilik usaha, kemudian menanyakan berbagai informasi yang diperlukan dalam pendataan.

Kondisi tersebut membuat petugas menjadi pihak pertama yang berhadapan dengan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran masyarakat.

Ketika masyarakat khawatir soal pajak, petugas yang harus memberikan penjelasan. Ketika muncul pertanyaan mengenai desil, petugas kembali menjadi pihak yang ditanya.

Padahal, petugas tidak memiliki kewenangan untuk menentukan pajak dan bukan pihak yang menentukan naik atau turunnya desil.

Cerita Dilan dan Mety menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai petugas sensus bukan hanya tentang mendatangi tempat usaha dan mengisi formulir. Ada tantangan komunikasi yang harus dihadapi setiap hari.

Satu pintu rumah bisa saja langsung terbuka dan pendataan berjalan lancar. Namun, pintu lain bisa saja tertutup karena masyarakat masih merasa ragu.

Di balik proses pendataan tersebut terdapat petugas yang harus tetap menjalankan tugas meskipun menghadapi penolakan dan berbagai pertanyaan.

Bagi masyarakat, rasa khawatir terhadap data merupakan hal yang wajar. Namun, penting juga untuk memahami tugas petugas agar informasi mengenai SE2026 tidak salah dipahami.

Petugas sensus datang untuk melakukan pendataan. Petugas bukan pihak yang menentukan pajak dan bukan pihak yang menentukan naik atau turunnya desil.

Pada akhirnya, keberhasilan pendataan tidak hanya bergantung pada petugas yang datang ke lapangan. Pemahaman masyarakat terhadap tujuan pendataan juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Dilan dan Mety hanyalah dua dari banyak petugas yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Mereka datang membawa formulir dan pertanyaan, tetapi sebelum data diperoleh, ada satu hal yang harus dibangun terlebih dahulu: kepercayaan.

Karena di balik setiap data yang tercatat, ada proses panjang antara petugas yang bertanya dan masyarakat yang memberikan jawaban.